Thursday, August 29, 2013

RASA RINDUPUN SUDAH TERLARANG

Tiada angin membelah senja
Tiada petir memekakan telinga
Bertahun telah kita coba
Namun hanyalah sia sia belaka

Kisah kisruh masalah
mendorongku terus melangkah
Hubungan kita kian parah
alangkah bijaksana bila kita berpisah

Sepasang bangau terbang menari
Arah mata angin sulitlah dicari
Sudah bulat keputusanku untuk berlari
Biarlah kutempuh jalanku sendiri

Cinta kita telah patah arang
Terhempas ke dasar jurang
Hancur berkeping tak mungkin bersatu ulang
Rindu kitapun kini sudah terlarang


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

KESOMBONGAN SEEKOR KATAK

Di atas tumpukan eceng gondok aku berdiri
Kuhentakan kaki bagaikan seorang peri
Mereka kagum dengan perutku yang seksi

Bergetar air sungai mendengar suaraku

Rerumputan merunduk hormat kepadaku
Kuraih nyamuk kecil dengan juluran lidahku
Tiada yang dapat melakukannya selain aku

Getaran air sungai semakin mendekatiku

Aku bangga dengan keperkasaanku
Mereka rendah diri menghadapiku
dan iri hati sehingga menjauhiku

Getaran air sungai tiba disampingku

Akhirnya mereka melarikan diri karena takut kepadaku
Pssssttt…..gelap gulita dan berlendir pijakku
Dinding bulat ini serasa meremas tubuhku

Seekor ular menelanku hingga binasa
Kesombongan telah melenyapkanku dari dunia
Rasa sesalpun kini tak lagi berguna


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

PENGORBANAN MEMPEROLEH KEADILAN

Ejekan tak membuat pupus harapan
Langkah tak terhenti oleh makian
Sejuta impian mereka tawarkan
ke batu karang kau hempaskan

Keringat kau cucurkan
Darah kau teteskan
Nyawapun kau serahkan
Demi suatu keadilan

Malaikat elmaut diutus untuk menjemputmu
Mata dunia menghormati perjuanganmu
Tikus berdasi berpura sedih atas kematianmu
Gagak berbatikpun terbahak pada jasad bekumu

Tiang lurus dibengkokkan
Api panas didinginkan
Yang berjalan lurus dijatuhkan
Berita panas dipetieskan

Langit menggelegar tak dapat menahan pilu
Awan marah gemetar melihat hukum yang membisu
Apakah arti semua pengorbananmu
bila korupsi sudah menjadi kebudayaan bangsamu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

DARI ALLAH UNTUK ALLAH

Seraut wajah menatap cermin
setiap kerut dan geraknya terdapat pada cermin

Aku adalah umat Allah
Berkat yang kuterima adalah berasal dari Allah
Berkat Allah adalah berkat untuk umat Allah

Mereka adalah umat Allah
Deritanya adalah derita umat Allah

Kehidupan ini layaknya kehidupan cermin
Berkat Allah kepadaku adalah berkat mereka
Penderitaan mereka adalah penderitaanku

Dari Allah untuk Allah
Syukur kepada Allah


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

TAFAKUR

Aku duduk bersimpuh
bersandar pada hati yang rapuh
sekujur tubuh terbalut peluh
tercengkram erat sukma yang kian lusuh

Gelap semakin menjarah
kabut muncul dari segala arah
terhampar semua resah
gelisah kian merajah

Kapankah aku dapat bebas dari derita ini
lepas terbang dan berlari
rasanya bathin tak sanggup lagi tuk berdiri
haruskah hidup ini kuakhiri

Ketika azan subuh menyentuh telinga
kilau tasbih tetap bertebaran di angkasa
aku masih tersungkur di atas sajadah
belum terlepas dari rasa gelisah

Butiran bening trus mengalir di pipi

membasahi lembaran kitab suci
hingga tatapan terhenti
memaksa jiwa berpasrah diri

Tafakkuruu fii khalqillahi wa laa tafakkaruu fiillahi”

berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah
dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah”


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw


Wednesday, August 28, 2013

BANJIR

Sengaja kau sentuh bumi
Semakin keras kau hantam kami
Orang bilang kaulah berkat yang diberi
Seringkali menjadi bencana yang tak dicari

Tak dielak kau sangat dibutuhi
Seringkali kau dinikmati
Terkadang kau dibenci
Kaupun juga sering dimaki

Hujan kau dinamai
Sekedar curahan kaulah sahabat kami
Bila banjir yang kau beri
semakin bertambah penderitaan ini


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

BALADA GEREJA TUA

Pernah terjadi........
Harum bunga di seluruh ruang
Paduan suara di bawah cahaya benderang
Dentingan piano diiringi gendang
Memuji Ilahi dengan jiwa penuh riang

Pernah terjadi........
Aku dikelilingi oleh pelangi
Sekelompok Kepodang menari
Taman bunga mengitari
Padang rumput bagaikan permadani

Masa itu telah lama pergi
terbang entah kemana
menjauhi bumi

Kini........
Aku masih terbaring di sini
sekarat hampir mati

Aku hanyalah sebuah gereja tua
yang telah menjadi rongsokan dunia
tidak perlu menanti dentang usia
Kelak akan layu terhembus sang bayu
dan akhirnya mati tergusur oleh waktu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw