Thursday, October 17, 2013

HARGA DIRI


--- tak selamanya uang dapat digunakan untuk membeli. Terima kasih untuk Ibu Valentina untuk tulisannya mengenai harga diri ---

Kaki lunglai berdiri di antara dua sisi
bergayut asa dalam mimpi
menggapai angin dalam angan
meraih awan dalam khayalan

Benarkah bumi di bawah telapak kaki
apakah langit memiliki batas tinggi

Dua arah berlawan
seperti langkah dalam lingkaran setan
sulit untuk memutuskan
arif bijaksana yang diperlukan

Lembaran kertas
pengisi pundi
sering diperebutkan
terkadang nyawa direlakan

Adakalanya lembaran kertas
tak mampu beraksi
jatuh tersungkur
di ujung kaki

Harga diri
tidak selalu dapat dibeli


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Tuesday, October 15, 2013

KESABARAN SELEMBAR SAJADAH

Menari dalam kelam
bangga mengulum dosa
berkelana tanpa hati
mengembara
mencari jati diri

Kenikmatan beralas kusam
merangkul kawanan elang
bebas melakukan hal terlarang
hingga lupa kembali ke sarang

Lembaran hari bergulir
bulan berganti
langkah tahun terus berlari

Kebejatan berakar
menimang dosa
membelenggu jiwa
gelap memaku cahaya
suara Azan-pun tlah kau lupa

Tengoklah di sana
selembar sajadah tersenyum
tenang sabar menanti
mengulurkan tangan
penuh hasrat menuntunmu
bersujud pada Ilahi

Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Sunday, October 13, 2013

BERPISAH UNTUK BERJUMPA


-- puisi ini kupersembahkan kepada sahabatku terkasih Melany Pranoto untuk mengenang suami tercinta yang telah lama berpulang ke Rumah Bapa di Surga --


Gerimis mengalir tenang
kabut tipis berbaris
menenun janji
sehidup semati

Terpampang sebuah album
berenda pelangi
walau sedikit berdebu
tetap tersimpan rapih

Mimpi kembali hadir
mengarungi alam kenangan
memandang ombak bermelodi
hingga rembulan mengundurkan diri

Kini, bersama dua buah hati kita
yang sudah bukan lagi bayi
seperti ketika kau lihat terakhir kali
gejolak rinduku termangu
menatap nisan
bertuliskan namamu

Layaknya Musa memimpin bangsa terpilih
masuk ke tanah terjanji
sebuah tiang api menuntun langkahku
menuju kehidupan abadi

Kasih.........
akan kutepati janjiku
di Rumah Bapa kelak
kita kan berjumpa kembali


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Saturday, October 12, 2013

JANJI-NYA

Hening merengkuh jiwa
meraba langkah
memanja hasrat
memuja dosa

Terbaring bangsal
di atas resah
ragu merasuk sukma
iman bersandar di sisi pusara

Sebongkah bara
silau menyala
dingin melebihi kutub utara
melumat kobaran api
hingga padam
tak berkutik mati

Bila Allah menjaga kita
tiada lorong gelap
tiada jalan sesat
tiada lawan menjerat
tiada air mata menyirat
tiada duka melekat
tiada asa terasa berat

Janji-Nya sempurna kokoh
mendekap erat
dunia dan akhirat


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Thursday, October 10, 2013

DOA KEKASIH

Guliran debu
terbaring di peluk angin
terbang dalam kelam
meniti cakrawala
berpetualang dalam angan

Telaga biru
berpondok sunyi
kosong menyendiri
menatap senja di pelupuk mata
bisu
menanti Purnama

Sebuah bayang
tak sabar menanti
hanya tau berlari dan berlari
tiada asa tersirat
tiada resah didapat
terus berlari
meninggalkan raga
yang terengah
sekarat
hampir mati

Sebait kata terucap
tulus dari sanubari
walau bayang berlari
meninggalkan diri
doa kekasih selalu menemani


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Monday, October 7, 2013

BEKICOT DAN RAKYAT JELATA

Perlahan merayap
geser sana
geser sini
menyembur lendir
melantun janji

Bekicot tidak jujur
mencari lahan subur
rakus menjilat dubur
agar kursi tidak tergusur

Jelata tergelitik
tersuap
kepingan tembaga
rela
diinjak dan dinista

Lumpur mengubur janji
Sumpah tercincang duri
Pejabat makmur
berbangga hati
bebas berkorupsi

Jelata berobor api
membakar bekicot
hingga mati
heran seribu kali
bekicot muncul
beribu pengganti


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

Wednesday, October 2, 2013

DUNIA BARU

Bumi renta
terbungkuk
menimang kebencian
tertatih
menyimpan kepalsuan
tersengal
penuh kebusukan

Laskar Setan berlidah api
mengusung panji perang
menghentak dunia
merusak alam semesta

Bait-Mu terlalu kokoh
tegar bertengger
menyimak bualan guntur
yang menggeliat
dan tak pernah jujur

Alam durjana
memeluk bumi tua
mati bersama
terkubur lumpur Neraka

Bersoraklah para Malaikat
bernyanyi penghuni Surga
menyambut Dunia Baru
dalam Kemuliaan Allah


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw