“ampun
bu......ampun
bu......” jerit tangis Ari menahan perihnya cambuk rotan sang Ibu.
Halimah
adalah seorang ibu muda berpendidikan rendah yang ditinggal pergi
oleh suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain. Dari buah
perkawinannya, Halimah memiliki dua orang anak, Ari dan Siti.
Ari
adalah anak sulung Halimah berusia 8 tahun dan duduk di bangku kelas
II SD, sedangkan Siti adalah si bungsu yang masih berusia 4 tahun.
Mereka bertiga tinggal di rumah gubuk kayu di sebuah kota kecil
berpenduduk miskin. Ketika suaminya masih bersamanya, Halimah bekerja
sebagai pemulung mengumpulkan botol botol bekas dan kertas untuk
dijual di pasar.
Banyak
sekali kesamaan fisik Ari dengan mantan suami Halimah, terutama raut
wajahnya. Hal inilah yang membuat kasih sayang Halimah terhadap Ari
tidak sebesar kasih sayangnya terhadap Siti.
Beban
derita yang ditanggung oleh Halimah semakin hari semakin berat
sehingga diapun terpaksa bekerja di warung remang melayani para pria
hidung belang. Tatapan sinis dan cemooh para tetangga tidak pernah
lagi digubrisnya. Dia bekerja mulai selepas magrib hingga dini hari.
Rata rata pelanggannya adalah para supir truk dari luar kota yang
mencari kepuasan sesaat.
Layaknya
seorang pedagang eceran keliling yang tidak memiliki penghasilan
tetap, begitupun dengan Halimah yang terkadang memperoleh banyak tamu
tetapi juga tidak jarang dia tidak mendapatkan satupun tamu. Gemerlap
kehidupan malam telah membuatnya kecanduan narkoba.
Pikiran
dan prilakunya semakin hari semakin tidak terkontrol terlebih setelah
si bungsu Siti meninggal dunia karena penyakit typhus. Terlihat jelas
saat Ari yang nakal membuat suatu kesalahan entah itu kecil apalagi
besar, maka Halimah langsung mengambil cambuk rotan untuk dihujamkan
ke hampir seluruh bagian tubuh Ari.
Di
suatu pagi, Ari yang sudah siap berangkat ke sekolah tidak sengaja
menyenggol gelas di meja dan menumpahkan air yang ada di dalamnya.
Halimah yang semalaman tidak mendapatkan “tamu” dan baru pulang
jam 4 pagi itu belum sempat tidur kemudian melampiaskan kekesalan dan
kemarahannya kepada Ari.
Berulang
kali rotan dicambukan ke tubuh Ari tanpa ampun hingga tiada lagi
terdengar suara jerit tangis Ari.
Para
tetangga berdatangan untuk segera mengamankan Halimah yang sudah
seperti kerasukan setan, lalu beberapa orang membawa Ari yang tidak
sadarkan diri ke Rumah Sakit. Pada hari itu Ari mendapat perawatan
serius di ruang gawat darurat yang masih belum siuman hingga
menjelang malam.
Keesokan
paginya, Halimah berserta beberapa tetangga kembali ke rumah sakit
untuk menjenguk Ari.
“Apa
saya bisa bicara dengan orang tua Ari” tanya Dr. Daud.
“Saya
ibunya Ari, Pak Dokter” sahut Halimah.
Dr.
Daud menghela napas panjang sebelum berkata “Kami sudah berusaha
sebisa kami, namun kondisi tulang kaki kanan anak ibu sepertinya
tidak dapat lagi diselamatkan dan harus diamputasi”. Seperti petir
di siang hari, Halimah menangis menyesali perbuatannya namun semua
sudah terlambat.
Dr.
Daud sebenarnya sudah mendengar dari para tetangga Halimah tentang
kejadian apa yang menimpa Ari namun beliau tidak mau membahasnya
karena hanya akan membuat hati Halimah semakin hancur. Dr. Daud
adalah seorang pria paruh baya yang bijaksana dan sudah menikah lebih
dari 20 tahun namun belum dikaruniai seorang anakpun. Istrinya
bernama Shinta adalah mantan asistennya di rumah sakit. Pasangan
harmonis ini sering dijadikan teladan oleh para sahabatnya.
“Saya
tidak punya uang untuk biaya operasi, Dok”
kata Halimah.
“mengenai
biaya operasi ibu
tidak perlu khawatir dan kalau ibu tidak keberatan, setelah operasi
nanti Ari dapat tinggal di tempat saya dulu sampai Ari benar benar
merasa nyaman memakai kaki
palsunya”.
Atas
saran para tetangga yang mengantarnya ke rumah sakit, dan merasa
tidak mampu merawat Ari maka Halimah pun menganggukan kepala, “terima
kasih Dok, semua ini kesalahan saya”.
Dalam
satu bulan pertama Ari tinggal di rumah Dr.
Daud, Halimah mengunjunginya setiap minggu, setelah itu Halimah
seperti tidak pernah lagi peduli dengan Ari. Di akhir pekan atau hari
libur Dr. Daud mengajak Ari mengunjungi Halimah namun Halimah selalu
memiliki alasan
untuk tidak mau menemui dan ngobrol dengan mereka terlalu lama.
Setahun
sudah Ari tinggal bersama keluarga Dr. Daud
yang sudah menganggap Ari seperti anak kandungnya sendiri dan
Ari-pun sangat senang tinggal bersama
mereka. Sampai suatu saat Dr. Daud
bersama Shinta
mengajukan permohonan kepada Halimah untuk mengadopsi Ari menjadi
anak angkatnya.
“Kalau
dokter mau meng-adopsi Ari boleh saja tapi dokter juga harus
memberikan uang penggantian kepada saya karena saya yang melahirkan
Ari” pinta Halimah sambil mengepulkan
asap rokok dari celah bibirnya yang bergincu merah muda.
Seperti
yang sudah diduga sebelumnya oleh pasangan Dr. Daud dan Shinta, maka
permintaan Halimahpun tersebut tidak mereka tolak bahkan memberikan
lebih dari jumlah yang diminta oleh Halimah.
Dengan
menggunakan jasa pengacara maka Ari-pun resmi menjadi anak angkat
mereka. Tidak berapa lama kemudian Dr. Daud mendapat tugas baru dan
keluarga merekapun pindah ke ibu kota.
Ari
sepertinya sudah terbiasa dan tidak lagi terbebani dengan kaki
kanannya yang palsu. Hari harinya selalu diisi dengan canda tawa
bersama kedua orang tua angkatnya yang begitu mencintainya.
Sejak
ikut dengan keluarga Dr. Daud, sudah ratusan kali Ari mengirim surat
kepada Halimah, namun tidak pernah sekalipun surat Ari mendapat
balasan. Bahkan Halimah juga tidak hadir saat Ari mengundangnya pada
wisuda Sarjana Kedokterannya.
Rasa
rindu Ari kepada Halimah tidak tertahankan, sehingga Ari pergi ke
kampung halamannya untuk menjenguk ibu kandung yang melahirkannya.
Kondisi
Halimah saat itu sudah kian parah. Dia tidak dapat lagi membedakan
mana yang benar dan mana yang salah. Minuman keras dan narkoba sudah
mendarah daging di tubuhnya.
“Ibu
sebaiknya berhenti dengan barang barang maksiat itu, bu, biar nanti
Ari bawa ibu ke panti rehabilitasi supaya ibu dapat sehat kembali”.
“Kamu
baru jadi Dokter saja sudah mau mengajari ibumu ?” “Sekarang juga
kamu keluar dari rumah ini, kamu sudah bukan anakku lagi” bentak
Halimah kepada Ari dengan telunjuk mengarah ke pintu keluar.
Bertahun
tahun Ari tidak mengunjungi Halimah dan setiap bulan Ari hanya
mentransfer uang sebagian dari penghasilnya kepada Halimah.
Kebiasaan
Ari mengirimkan surat dan foto foto terbarunya juga masih belum
berubah.
Pada
bagian atas surat Ari selalu menuliskan kalimat “Salam sejahtera
dan sehat selalu untuk Ibu ku tercinta”. Sedangkan di bagian bawah
surat, tertulis “Ari akan selalu sayang dan tersenyum untukmu Ibu”.
Senja
itu selepas makan malam sekitar jam 6 sore, seseorang mengetuk pintu
pagar.
“Siapa
yang mengetuk pintu yah, ri” tanya Dr. Daud dan Ari-pun bergegas
keluar untuk melihat tamu yang datang.
“Oh...Pak
Bejo dan Ibu Rusmini, mari silahkan masuk. Apa kabar ?” tanya Ari
kepada kedua tamunya.
“Pa
Ma, ini lho ada pak Bejo dan bu Rusmini dari kampung” kata Ari
kepada Dr. Daud dan Shinta.
Pasangan
suami istri Pak Bejo dan Ibu Rusmini sepertinya sangat terburu buru
dan tak sabar lagi untuk menyampaikan suatu berita penting kepada
keluarga Dr. Daud terutama kepada Ari.
“Begini,
ri, kami mau mengabarkan Ibu Halimah masuk rumah sakit tadi pagi”
pak Bejo memulai pembicaraan.
“Ibu
sakit apa Pak” tanya Ari dengan reflek.
“Entahlah,
ri, nanti saja biar Ari yang tanya dokter di rumah sakit” jawab pak
Bejo agak gugup.
Malam
itu juga mereka berlima berangkat menuju stasiun kereta agar besok
pagi pagi sekali sudah dapat menjenguk Halimah di rumah sakit.
Setibanya
di rumah sakit, mereka bertemu dengan dokter yang menangani Halimah,
dan ternyata pembuluh darah otak Halimah pecah akibat penggunaan
narkoba yang over dosis.
“Maafkanlah
Ibu bila selama ini Ibu telah membuatmu menderita, ri” suara
gemetar Halimah yang tak
mampu lagi membendung air mata.
Wajahnya
pucat pasi dan tubuhnya sudah sangat lemah
namun tetap memaksakan telapak tangan kanannya menjamah wajah Ari.
“Ibu
jangan tinggalkan Ari, bu. Ari sangat
sayang kepada Ibu” “Ibu juga tidak
pernah bersalah kepada Ari. Tanpa Ibu, Ari tidak akan pernah jadi
begini” “nanti kalau sudah sembuh Ibu
tinggal bersama Ari yah, bu”.
Tetesan
tetesan bening
itu kian deras mengalir di kedua sudut mata
Ari yang juga meletakan kedua tangannya di wajah ibunda.
Sejenak
Halimah terdiam sambil memandangi raut wajah putra kandungnya yang
pernah dia sia siakan. Ujung ibu jarinya lembut menghapus tetesan
bening di pipi Ari, kemudian tersenyum dan berkata “Ari, kamu sudah
besar dan kamu anak baik, nak, Ibu bangga sekali kepadamu”.
Perlahan
kedua kelopak mata Halimah tertutup. Telapak tangan kanannya yang
sejak tadi menempel di pipi Ari terlepas lunglai dan tubuhnya mulai
mendingin, namun senyuman masih menempel di antara kerut wajahnya.
Dr. Daud dan Ibu Shinta yang duduk di sebelah Ari tidak dapat menahan
tangis pedihnya sambil merangkul tubuh Ari yang mendekap jasad kaku
Halimah.
Tamat.