Friday, February 6, 2015

RINDU YANG TEROBATI (Cerita Pendek)


Bagaimana kabarmu hari ini, Jess ? tadi siang mama tidak menjengukmu, maafkan mama yah, sayang”.
Aku hanya tersenyum menatapnya lalu kuucapkan selamat malam “tidak apa apa, ma. Sudah malam, mama tidur di sini yah”.


Mungkin karena aku adalah anak semata wayang maka kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Sewaktu masih kecil, aku sering melihat papa dan mama saling berpelukan dan bermesraan. Kami juga sering berpergian ke luar kota menikmati hari libur. Namun, kemesraan tersebut telah pupus dan tak pernah terlihat lagi sejak tiga tahun yang lalu. Mereka berdua mungkin terlalu sibuk dengan urusannya masing masing.


Mama selalu menemuiku saat aku sedang sendiri, begitupun papa yang sering mengajakku ke luar makan atau jalan jalan tanpa mama. Ketika kutanya, mama bilang sering merindukan papa, begitu juga papa bilang masih sangat mencintai mama. Walau usiaku masih 7 tahun tapi aku bisa melihat kejanggalan ini dan entahlah sepertinya ada banyak masalah orang dewasa yang masih belum kupahami.


Sudah hampir dua bulan tubuhku terbaring di bangsal rumah sakit. Papa mengunjungiku setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan sore hari sepulangnya dari kantor untuk membacakan buku cerita. Kebenaran jarak rumah kami hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit ini.


Tidak seorangpun yang pernah memberitahuku penyakit apa yang kuderita. Mereka hanya bilang aku harus banyak beristirahat. Yang kurasakan kini adalah semua anggota tubuh terutama persendian tulang dan jemariku semakin melemah dan rambut di kepalaku semakin mudah sekali terlepas sehingga kulit kepalaku tampak menggundul.


Hallo........... Selamat pagi Jessica. Ayo tebak siapa yang ada di luar untuk menemuimu ?” sapa suster Emma dengan ramah sambil membuka gorden jendela untuk membiarkan sinar mentari menghangati seisi ruang kamar.
Belum lagi aku menjawabnya sekelompok anak anak seusiaku memasuki ruang kamar kemudian saling berebut untuk menyapa dan memelukku. Mereka adalah teman teman SD sekelasku yang datang bersama Ibu Martha, guru kami. Kedatangan mereka juga bersamaan dengan waktu kunjungan papa.


Apa kabar ibu Martha ?” sapa papa sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Hai........ Pak Marco, kami baik baik dan maaf bila pagi ini mengganggu kunjungan bapak. Anak anak sejak kemarin sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jessica”
Tidak apa apa, bu. Saya dan terutama Jessica sangat senang menerima kunjungan ibu dan teman kelas Jessica” sahut papa.
Oh ya, bagaimana kondisi Jessica ?” sambung ibu Martha.


Papa menengok ke arahku sambil mengajak ibu Martha ke pojok ruangan untuk menjauhi keramaian teman temanku. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tapi kulihat ibu Martha tertunduk lalu mengusap pipinya dengan sapu tangan, sesekali memalingkan wajahnya untuk dapat menatap dan tersenyum kepadaku. Beruntung sekali aku memiliki teman teman baik seperti mereka walau ruang kamarku kembali sunyi setelah mereka pergi.


Hidupku benar benar dipenuhi dengan kejenuhan. Butiran butiran obat yang kutelan tiga kali sehari sepertinya tidak membantuku untuk pulih. Sampai suatu ketika kurasakan tubuhku begitu lemah dan menggigil dingin setelah aku dan papa baru saja menyelesaikan makan malam.


Pa, kemarin malam mama datang dan membacakan buku cerita untukku. Mama cantik sekali seperti seorang Permaisuri mengenakan gaun putih dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai indah seperti kilau mahkota”.
Mama juga cerita kepadaku kalau mawar merah yang papa berikan tadi malam sudah ditaruh di vas bunga”.


Perlahan Papa mendekatiku lalu berkata:

Jessica sayang, kemarin malam papa bersama mamamu pergi ke suatu pesta dimana semua undangan mengenakan gaun putih. Di setiap meja terdapat banyak bunga mawar, dan papa memetiknya satu untuk mama”.
Tapi..........tapi........... itu hanya mimpi, Jess. Itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak nyata” sahut papa perlahan dengan mata berkaca kaca dan bibir gemetar.
Papa tau perasaanmu dan kepedihanmu, tapi kita harus menerima kenyataan kini mama bukan milik kita lagi sejak tiga tahun lalu saat usiamu masih 4 tahun”.
Papa akan selalu sayang kepadamu dan juga tidak akan pernah ada wanita lain untuk menggantikan mamamu” sambungnya.


Papa baik tetapi kenapa mama tega meninggalkan papa ?, aku setiap hari bertemu dengan mama” bisikku ke telinganya.


Papa hanya menatapku sambil menggigit bibir bawahnya tanpa berkata sepatah katapun tetapi malah mendekap tubuhku yang mungil. Kulihat titik titik bening terus mengalir dari sudut keriput matanya yang lembut.


Seketika kurasakan tubuhku semakin menggigil dan entah kenapa hal itu membuat papa merasa panik kemudian lari secepatnya ke luar kamar. Hanya dalam sekejap kamarku sudah dipenuhi oleh para suster dan dokter.

Sementara papa menunggu di luar kamar, para medis tampak sibuk sambil mengguncang guncangkan tubuhku. Tiba tiba saja aku merasakan suatu gelombang kehangatan yang membuat diriku merasa begitu nyaman.


Kulihat papa mendekatiku lalu memeluk tubuhku sambil menangis tersedu dan menciumi wajahku. Air matanya menutupi kelopak mataku dan mengatup bibirku yang sejak tadi tak bersuara.

 
Aku masih di sini, kenapa papa menangis ?” tanyaku dalam hati.

 
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bercerita kepada papa mengenai hari hariku bersama mama.
Sedangkan papa semakin sering pulang dalam keadaan mabuk. Bila malam aku ke dapur menyalakan lampu untuk mengambil minum, papa langsung keluar dari kamarnya dan mematikan lampu tanpa menghiraukan aku yang berdiri tepat di sampingnya.
Setiap kali ku sapa, papa tidak pernah menjawab tapi malah memalingkan wajahnya yang tampak kusam dan tidak ramah. 

 
Aku tidak tau kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga papa begitu membenciku. Setiap hari aku menangis di dalam kamar dan hanya mamalah satu satunya penghiburku.


Di suatu malam, hujan turun deras sekali. Kutoleh sisi ranjangku ternyata mama masih belum pulang. Petir dan kilat saling menyambar memekakkan telinga membuatku sangat ketakutan. Perlahan ku jalan berjingjit menuju kamar papa untuk meminta izin tidur bersamanya.
Tidak seperti biasa, pintu kamar papa malam itu tidak terkunci rapat. Sayup terdengar papa sedang berbicara kepada seseorang.

Penderitaan inikah yang harus kutanggung sampai akhir hayatku ?”
Oh........ aku mencintaimu tapi aku juga mencintai istri dan anakku”

 
Dengan siapakah papa bicara ?, apakah papa memiliki kekasih lagi ?” pikirku


Rasa penasaranku kian menjadi dan ku beranikan diri untuk menyibak pintu kamarnya. Namun, aku tidak melihat siapa siapa di dalam kamar kecuali papa yang sedang bersimpuh di sisi ranjang dengan kedua tangannya mengepal sambil menangis terisak.
Ruang kamarnya begitu berantakan tak terwat dan di atas meja tulisnya berserakan botol kosong minuman keras. Aku benar benar heran dengan prilaku papa yang semakin lama semakin aneh itu.


Tiba tiba papa menoleh ke arahku dengan tatapan tajam lalu berlari ke arahku dan “duaaarrrr..........” pintu kamar ditutup sekencang kencangnya dan layaknya seorang sedang mabuk papa pun berteriak teriak “Pergi kau setan, jangan ganggu aku. Tuhan telah menyediakan tempat bagimu di neraka jahanam” “Jangan ganggu akuuuuu........” “pergi kau setan......pergiiiiii..........neraka jahanam tempatmu...........pergiiiii........”.


Baru kali ini aku mendengar papa marah dan memakiku dengan umpatan begitu kasar. Aku berlari secepatnya kembali ke kamarku dan malam itu kutahan rasa takutku dengan bersembunyi di bawah selimut sambil menanti mama kembali.


Apa yang kualami menjadi rahasiaku dan tidak kuceritakan kepada mama agar mereka tidak bertengkar yang dapat memperburuk hubungan mereka berdua, walaupun sesekali mama bercerita bila dirinya baru bertemu papa untuk makan malam bersama.


Hari hariku tanpa papa penuh dengan kemuraman. Rangkaian kenangan manis bersamanya seketika lenyap tertelan kegelapan. Aku rindu peluk hangatnya, canda tawanya, belaiannya, pangkuannya,........... ohhhhh........... aku benar benar merindukan papa yang pernah kukenal begitu lembut penuh kasih sayang sejak aku masih bayi.

 
Tahun demi tahun telah berlalu tanpa tegur sapa dengan papa yang sudah tampak semakin tua. Namun, suatu hal yang pasti dan masih tidak kumengerti, hampir setiap malam ketika kulewati kamar tidurnya, papa sedang berbicara dengan seseorang sambil menyebut nyebut nama mama dan namaku. Papa masih mencintaiku.


Malam itu sekitar jam 08:30, dengan bantuan sebuah tongkat di tangan kanannya untuk menyanggah tubuh yang kian renta dan semakin membungkuk, papa tertatih berjalan masuk ke kamarnya.
Tangan kirinya menggenggam dua tangkai bunga mawar. Satu mawar berwarna merah ceria dan satunya lagi berwarna segar merah muda. Kemudian dia menuliskan sesuatu di atas secarik kertas putih.


Nyaliku hanya berani melalui celah pintu untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.


Setelah mencium kedua mawar tersebut diletakannya bersama carikan kertas putih di sisi bantal kepalanya, kemudian dia berbaring dan berkata “Tuhan, izinkanlah malam ini aku bertemu dengan istri dan anakku”. Kemudian papa menumpangkan kedua telapak tangannya di atas dada lalu memejamkan matanya.


Entah berapa lama aku memperhatikan tingkah lakunya yang semakin aneh.
Kenapa papa merasa aku dan mama meninggalkannya ?? padahal setiap hari kami berdua selalu berada di rumah ini dan setiap haripun kami tidak dihiraukannya.
Jantungku berdebar, jemariku mengepal dan ingin sekali aku berteriak di hadapannya tapi hanya geram yang kutahan dalam linangan air mata.


Mama keluar dari kamar menghampiriku. Sambil membelai rambutku lalu dengan lembut berkata “Jessica sayang, bersabarlah. Suatu saat kamu akan tau”.


Setelah kuyakini papa terlelap, aku dan mama memasuki kamar papa untuk melihat apa yang ditulisnya pada carikan kertas putih yang diselipkan pada kedua tangkai bunga mawar itu.


Pucat wajahku terperangah kaku tak mampu membendung linangan air mata menjadi tetesan hujan yang membanjiri lantai pijakku. Demikian pula mama yang semakin keras meremaskan jemari tangannya di kedua belah pundakku lalu menempelkan wajahnya yang ayu ke pipiku.


Selamat ulang tahun yang tercinta istriku Rebecca dan putriku Jessica di Surga”.


Detak jantung papa begitu lemah dan semakin melemah sampai tidak terdengar sama sekali. Saat melihat kami berdua, papa tersenyum dan melambaikan tangannya. Wajahnya terlihat kembali segar dan muda seperti saat kukenal dulu.


Aku dan mama saling berpandangan tersenyum lalu membalas lambaian tangan papa yang semakin jelas kian mendekat.......mendekat..........dan mendekat.


Tamat.

Tuesday, February 3, 2015

HENING BERSUJUD


terkatup layar
ruas membentang menelan keruh
tak mampu bayu mengusik sepi
menuturi pijak pijak suci

bersimpuh di atas hamparan sajadah
sujud bertiang doa
bersama riak kugapai surga



Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

MENATAP PAGI


bayangan malam pupus sirna
terlumat cangkul para tani
kaum ilalang menjemput pagi
mencabik mimpi tanpa arti
di sinilah ranting jiwaku mengalun
menghirup aroma pucuk daun
amboi
terpejam mata
berbait seruling gembala
elok melangkah
sepoi menjaring asa dan nyata


Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

Monday, January 26, 2015

SHOLAT


bersimpuh tanpa sapa
detak nadi tak mampu memberi arti
jauh sukma melangkah
mengebat kepingan debu
menuju kedalaman Ilahi

rajutan sabda bersutera
elok terangkum
pesona takdir dan nyata
pasrah
menanti redha Allah

sholatku merunduk bisu
puing dosa tergolek mati
mati
dan mati
kiblatku hening mengarah gerbang Surgawi


Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

Friday, January 9, 2015

KESABARAN KALAJENGKING (Cerita Pendek)


Pasangan suami istri Tuan Calvin dan Nyonya Kimberly Smith adalah pasangan yang berkecukupan dan masing masing memiliki perusahaan pribadi, namun mereka tidak menemukan keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga.

Di saat Nyonya Kimberly tidak berada di rumah, Tuan Calvin sering membawa wanita lain untuk berpesta miras dan narkotik kemudian tidur bersamanya.

Begitupun Nyonya Kimberly yang juga sering bersama pria lain dalam keadaan mabuk di malam hari ketika Tuan Calvin sedang ke luar kota.

Mereka saling mengetahui apa yang mereka perbuat namun sepertinya mereka tutup mata dan tidak peduli. Merekapun sudah tidak merasa sebagai suami istri lagi.

Semua hal ini dilakukan di depan mata putra tunggal mereka, Alexander yang saat itu masih berusia 9 tahun.

Di suatu pagi, para tetangga dikejutkan oleh raungan ambulan dan hanya dalam sekejap belasan Polisi Los Angeles yang diperlengkapi dengan senjata laras panjang telah mengepung rumah pasangan suami istri tersebut.

Tuan Calvin dan Nyonya Kimberly ditemukan tewas dengan lubang tembakan di dada dan kepala. Pada waktu yang bersamaan Polisi juga mendapati Alex yang tidak lain adalah putra tunggal dari pasangan tersebut sedang menggenggam sebuah pistol kaliber 45 sambil duduk di kursi kerja sang ayah sambil memandangi kedua mayat berlumur darah. Anehnya di setiap kening para korban tergambar tanda 'X'.

Di atas mejapun terdapat setumpuk berkas surat cerai yang telah ditandatangani oleh Tuan Calvin dan Nyonya Kimberly.

Tanpa bersusah payah Polisi meringkus si pelaku pembunuhan.

"Apakah namamu Maxwell Alexander Smith ? tanya Jaksa penuntut
"Benar, yang mulia" jawab Alex
"Untuk apa pistol yang kamu genggam saat Polisi menemukanmu di ruang kerja ayahmu ?"
"Aku gunakan pistol itu untuk membunuh kedua orang tuaku" jawab Alex santai dan datar tanpa ekspresi di wajahnya.
"Kenapa kamu tega membunuh mereka ?
"Aku tidak suka dengan mereka" lagi lagi Alex menjawabnya dengan wajah serius tanpa ekspresi.
"apakah kamu menyesal ?"
"Tidak" jawab Alex tanpa pikir panjang.
"Hmm....... lalu apakah maksud tanda 'X' di kening kedua orang tuamu ?
"Tidak tau" demikianlah seterusnya Alex selalu memberikan jawaban tidak tau untuk setiap pertanyaan berikutnya yang diberikan Jaksa penuntut kepadanya.

Kuasa hukum yang membela Alex berusaha agar clientnya dibebaskan dengan syarat, namun pengadilan tetap memutuskan Alex dihukum penjara 15 tahun dengan therapy mental dan kejiwaan karena usianya yang masih terlalu muda.

Selama satu tahun di penjara, Alex terus mendapat bimbingan dokter jiwa.
Entah bagaimana mulanya telah terjadi kekacauan di Lembaga Pemasyarakatan di mana Alex ditahan dan dirawat.
Dari sepuluh orang narapidana yang melarikan diri, sembilan diantaranya tertangkap kembali namun Polisi kehilangan jejak satu narapidana, dialah Alexander Smith yang kala itu sudah berusia 10 tahun.

Dua puluh tahun kemudian, di sebuah kota kecil 50 kilometer dari kota Denver di negara bagian Colorado, sedang hangat diberitakan pembunuhan berseri yang pelakunya diduga orang yang sama dengan yang pernah terjadi 21 tahun lalu di Los Angeles dimana para korban mendapat tanda 'X' di dahinya.

Kasus ini ditangani oleh Sheriff Samuel Lund yang memiliki perawakan tinggi dan kurus.

Sore itu Sheriff Samuel memberhentikan sebuah mobil yang berisi dua wanita dan dua pria. Mereka adalah Joan, Adam, Eva dan Tom.

"Mau kemana kalian ?" tanya Sheriff Samuel saat memeriksa surat surat kendaraan dan kartu identitas keempat penumpang.
"kami akan ke villa di kaki bukit untuk berakhir pekan"
"Kalian semua dari Los Angeles dan saya harap kalian sudah mendengar mengenai apa yang sedang terjadi di sini. Bila kalian melihat adanya sesuatu yang mencurigakan tolong hubungi saya" kata Sheriff Samuel sambil mengembalikan surat surat dan memberikan nomor telphonenya kepada keempat muda mudi tersebut.
Terima kasih Sheriff. Kami sudah mendengar kisah itu dan pasti menghubungi bapak bila kami melihat ada hal yang tidak beres” sahut Adam sambil meraih surat surat yang disodorkan oleh Sheriff Samuel.

Setibanya di villa yang dituju, kedua pasangan ini berhamburan seperti burung lepas dari sangkar. Villa itu cukup besar dengan halaman luas dan memiliki empat kamar tidur dengan ruang bawah tanah.

Walaupun terlihat kuno tapi tampak sangat rapih terawat. Sayangnya villa tersebut terlalu jauh dari keramaian begitupun juga tidak memiliki tetangga. Jarak dari villa ke tempat Sheriff Samuel sekitar 5 kilometer.

Tampak seseorang baru saja selesai merapihkan taman bunga, namanya Alfredo. Konon Alfredo adalah bekas anak jalanan yang kemudian diajak bekerja oleh si pemilik villa untuk menjadi penjaga dan tukang kebun villa.

Masa kecil yang kurang menyenangkan membuat Alfredo sering bertingkah aneh dan sangat pemalu bahkan hampir tidak pernah menatap wajah lawan bicaranya. Dia selalu tertunduk saat berbicara. Tubuhnya yang kekar dan tegap juga selalu terbungkus dengan jaket hijau tentara.

"Selamat sore Pak. Kami berempat yang menyewa villa ini untuk tiga malam" sapa Tom kepada Alfredo yang sedang membenahi peralatan kebunnya.
"Iya" jawab singkat Alfredo sambil membenarkan topi capingnya
"Apa bapak tinggal di dekat sini ?" tanya Joan
"di rumah kecil di belakang villa" sahut Alfredo dengan memalingkan wajah siap untuk meninggalkan kebun.
"Aneh tuh orang bicara tidak mau memperlihatkan wajahnya" bisik Eva kepada Joan yang juga tersenyum kecut.

Mereka berempatpun memasuki villa untuk siap berpesta. Radio compo dan beberapa botol minuman keras siap tersaji, tidak ketinggalan setumpuk lintingan daun ganja dan beberapa kantong plastik kecil berisi bubuk haram.

Dua malam sudah mereka lalui dengan pesta miras dan obat bius. Mereka berempat benar benar menikmati surga dunia.

Tom, kamu lihat Adam gak' ?” tanya Eva yang siang itu baru bangun.
Tadi malam dia mau ke luar sebentar tapi belum kembali” sambungnya.
Nanti kalau dia lapar juga balik” jawab Tom sambil menonton TV dan memanja Joan yang meletakan kepalanya di paha Tom.

Waktu sudah menunjukan jam 6 sore dan langit mulai gelap diiringi gerimis hujan yang turun sejak pagi tadi tapi Adam masih belum juga kembali ke villa.

Eva, kamu tunggu di sini biar aku dan Joan cari Adam di luar dan kunci saja pintunya”
Ok, Tom tapi jangan lama lama yah, aku iseng sendirian di sini” jawab Eva.

Tidak berapa lama kemudian mereka menemukan Adam telah tergeletak di dalam gudang villa dengan berlumur darah dengan tanda 'X' di dahinya.

Oh.... Tuhan, apakah yang telah terjadi pada Adam ?” jerit Joan dan langsung memeluk Tom, kekasihnya.

Mereka berdua lupa membawa hand phone. Namun, karena lokasi gudang dengan pondokan Alfredo berdekatan, maka merekapun bergegas lari ke sana ingin meminjam telephone untuk menghubungi Sheriff Samuel.

Setibanya di pondokan, mereka juga menemukan Alfredo telah tergeletak dengan luka tembak di dada.

Mereka berduapun semakin panik dan bergegas lari kembali ke villa.

Tepat di atas meja dimana telephone ditaruh, tubuh Eva telah menjadi mayat tergantung dengan seuntai tali yang diikatkan pada tiang tangga dan tanda 'X' di dahinya.

Aliran listrik mati, Tom dan Joan tidak dapat menemukan hand phone mereka. Suasana sore itu sekitar jam 7 benar benar mencekam ditambah gelap dan hujan yang kian melebat.

Tiba tiba mereka melihat sosok bayang yang ternyata Sheriff Samuel.

Oh.... Sheriff Samuel, bapak tepat sekali datang kepada kami. Kedua teman kami tewas terbunuh, begitu juga dengan Alfredo pengurus kebun” sambut Joan dengan wajah pucat dan gemetar penuh harap.

Tetapi tiba tiba Sheriff Samuel menembakan pistolnya ke arah tubuh Tom yang seketika itu juga rubuh ke lantai.

Tidaaaaakkkk......” teriak Joan histeris.
Kenapa bapak membunuh kekasih saya ?”
Jangan lah bapak bunuh saya, saya mohon jangan pak” tangis pilu Joan sambil memeluk tubuh Tom.

Dengan langkah gontai Sheriff Samuel berjalan ke arah Joan.

Aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada diriku bila pasangan suami istri Lund tidak mengadopsiku menjadi anaknya” ujar Sheriff Samuel memulai ceritanya.
Mereka adalah pasangan baik yang saling mengasihi dan tidak pernah berbuat maksiat”.
Namun, hidup ini sangat tidak adil karena aku hanya mengenal mereka 5 tahun sebelum kecelakaan maut merenggut jiwa mereka”.
Lihatlah diri kalian yang selalu berpesta pora dengan barang haram. Malam ini aku akan memberikan tanda 'X' di dahi kalian sebagai tanda moral kalian yang bejad layaknya kedua orang tua kandungku”.

Tatapan bengis Sheriff Samuel kepada Joan semakin tampak dan alis matanya mengerling sangat mengerikan. Perlahan pistolnya diarahkan ke kepala Joan dan siap untuk menarik pelatuknya.

Saat itu, Joan tidak dapat lagi berbuat apa apa selain merangkul jasad Tom yang sudah mulai mendingin sambil menutup kedua matanya dan pasrah berdoa.

Dor.....Dor.....Dor...... terdengar tiga tembakan.
Dua peluru menembus punggung dan satu peluru melubangi tempurung kepala Sheriff Samuel yang kemudian ambruk tak berkitik bermandi darah.

Joan sangat terkejut dan berteriak teriak histeris seperti orang gila, hingga seseorang yang menggenggam sebuah walky talky menghampirinya.

Tenang nona, tenang. Saya akan menolong nona. Semuanya sudah selesai dan nona kini aman” sapa orang tersebut kepada Joan.

Selesai sudah, kalian boleh segera masuk” sambungnya berbicara melalui walky talky-nya.

Maaf, bukankah bapak telah tewas tertembak di pondokan bapak ?” tanya Joan kepada pria bertubuh kekar tegap bermantel jaket hijau tentara yang berdiri di hadapannya.

Perkenalkan nama saya sebenarnya adalah Scorpion Vincent, bukan Alfredo, dan nona silahkan cukup panggil saya Scorpion”.
Saya dari kepolisian Los Angeles yang sejak 20 tahun lalu ditugasi mencari residivis bernama Maxwell Alexander Smith yang saat itu masih berusia 10 tahun”.
Selama ini pelaku selalu berpindah tempat tinggal dan sangat sulit dilacak. Tetapi sejak beberapa bulan lalu kami sudah mencurigai dan mencium bahwa Alex sedang beraksi di kota Denver ini”.
Beruntung sekali saya selalu menggunakan baju anti peluru di balik jaket hijau saya” sambungnya dengan senyum menutup pembicaraannya dengan Joan yang saat itu sudah dikelilingi oleh para medis.

Malam itu seorang detektive dari Los Angeles siap menutup sebuah kasus pembunuhan berseri tanda 'X'.


Tamat.

Tuesday, January 6, 2015

PENANTIAN


guratan karang
ombak berbisik berang
tercabik buih
gelegar
pesona alam kian menggarang

bisik hati melaju langkah
nyata
terjerat bahaya
tanpa tahta
peduli setan dengan pahala

jiwa jiwa memekak telinga
jasad mengantri
entah sejauh apa entah berapa lama
lenyap
terkikis garam samudra

 
Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw
 
 
 

 

Wednesday, December 31, 2014

BERSULANG 2015


daun daun kering itu masih berjatuhan
harum kayu bakar
entah ingatanku yang buram
atau masa terlalu kelam
retak gading pun belum rapih tersulam

rangkaian peristiwa berserakan mengisi album
tertelan hujat menghujat
murka bencana
celoteh kotor neraka
merajah bingkai menebar busuk bangkai

raga menggigil bersandar pada musim dingin
menyingkap setiap lembar kenangan
tatkala terompet tahun baru menggesek bumi
elok senyum
bersulang menjemput pagi


Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Tahun Baru 2015.
Raymond, Debby & Leonard Liauw