Sunday, December 20, 2015

SN ku Malang, JK ku Senang, dan LP ku Melintang




Kesuksesan Riza Chalid dalam menjalankan bisnis minyaknya bukan terjadi secara mendadak seperti orang yang baru saja memenangi Mega Million lottery. Salah satu faktor yang mendukung adalah kepiawaiannya menjalin dan menjaga hubungan baik dengan penguasa dan para penegak hukum di Indonesia.


Dalam rekaman “Papa Minta Saham”, nama Luhut Panjaitan disebut puluhan kali. Bahkan, pembicaraan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya dibawa ke opini bahwa LP adalah kunci penghubung antara pihak istana dengan pihak Freeport.


Terus terang, satu hal yang saya sangat suka dengan pribadi Luhut adalah gaya bicara beliau yang ceplas ceplos seakan menyatakan beliau tidak suka menyembunyikan “sesuatu”. Bahkan beliau menantang MKD untuk segera memanggilnya dengan melakukan sidang terbuka, namun oleh karena sikap MKD selalu 'belet' mengulur waktu, LP tidak sabar kemudian membuka konference dengan mengundang para wartawan dan anggota MKD.


Ketegasan dan sifat jantan LP terlihat sejak masa kampanye mendukung Jokowi, bahkan rela meninggalkan partai Golkar padahal saat itu posisi beliau adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, posisi yang sangat strategis dan dihormati semua kader Golkar.

Rasa patriotisme dan nasionalisme LP yang juga seorang politikus dan kini menjabat sebagai MonkoPolkam tidak perlu diragukan lagi.


Tidak ada peraturan undang undang negara Indonesia yang melarang seorang pejabat negara untuk memiliki usaha pribadi. Demikian juga halnya dengan LP yang sejak tahun 2004 mendirikan PT Toba Sejahtera yang bergerak di bidang batu bara dan pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik swasta, serta perkebunan dan kehutanan. Perusahaan beliaupun dikabarkan sering bekerjasama menggarap proyek dengan perusahaan milik Aburizal Bakri.


Setelah saya mendengarkan konferensi pers yang dilakukan oleh LP, ada hal yang menarik perhatian saya. LP mengatakan “.......bila kita berteman janganlah cuma saat senangnya saja........”. Pernyatan dari seorang Purnawirawan Jenderal AD yang pernah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk NKRI di tanah Timor Timur sangatlah menampar mereka yang memiliki kebiasaan hanya memanfaatkan teman saat bersenang lalu meninggalkannya saat si teman sedang dalam kesusahan.


Mungkinkah itu adalah sebuah sindiran telak dan keras kepada seorang petinggi negara lainnya yang juga seorang pengusaha dan kini merangkap sebagai Wakil Presiden ??


Nama seorang JK bukanlah baru di dunia perpolitikan. Ketika beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum Golkar, beliau bersama bersama beberapa fungsionaris Golkar lainnya memberikan penghargaan Widya Bhakti Karya Pratama kepada mantan penguasa rezim Orde Baru, Suharto padahal apa yang dilakukannya tersebut adalah terang terangan bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia yang telah muak dengan Sang Diktator kurup.


Sedangkan di dunia bisnis nama JK sudah tak asing lagi dengan kelompok Kalla Group.

Kemahiran seorang JK berdiplomasi dan melakukan pendekatan dengan segudang pengalaman di bidang politik dan bisnis telah memincut hati Megawati memasangkannya dengan Jokowi, sehingga membuat JK menyandang posisi Wakil Presiden RI sebanyak dua kali.


Menurut logika saya, sangatlah mustahil bila seorang JK yang pernah menjadi Ketua Umum Partai tidak mengetahui “permainan kotor” para petinggi partainya untuk mengeruk uang negara.

Perlu diingat bahwa sebagian uang haram yang diperoleh para kader partai harus disetorkan ke partai untuk menunjang kelangsungan hidup partai terutama digunakan untuk pilkada atau lebih lebih extremnya untuk pemilu. Kalau cuma mengandalkan gaji pokok, bagaimana bisa melakukan setoran wajib ke partai ?? dan bagaimana mungkin parta bisa berkembang ??


Memanglah benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa untuk berhasil dalam politik harus pintar memainkan drama sinetron.


Berulang kali LP mengakui memiliki hubungan baik dengan Riza dan SN walau hanya sebatas teman usaha. Beliau juga dengan lantang mengatakan bahwa kasus Freeport adalah kasus wajar dan tidak perlu dibesar besarkan dengan alasan pemberian saham Freeport sebesar 20% adalah suatu hal aneh.

Saya setuju dengan logika Luhut Panjaitan bahwa yang berhak memberikan saham Freeport secara gratis adalah komisioner Freeport yang tentunya harus melalui rapat para pemegang saham di US, apalagi jumlahnya tidak tanggung tanggung 20%.


Namun, satu hal yang LP tidak sebutkan di muka publik adalah Sarana Pendukung yang akan menghasilkan uang haram dimana para pejabat koruptor “memaksa” Freeport membeli jasa mereka dalam bentuk kerja sama Sarana Pendukung untuk kegiatan Freeport di tanah Papua.

Bukankah LP sendiri yang mengakui bahwa pada pertemuan bulan April 2012 LP diajak oleh CEO Freeport - Jim Bob untuk kerjasama dengan Freeport ?? walaupun akhirnya dibatalkan.

Bila Freeport dapat meraup keuntungan Milyard-an US dollar, sepertinya tidak ada alasan bagi Freeport menolak untuk memberikan 20% saham kepada para penegak hukum koruptor di Indonesia daripada harus hengkang dari bumi pertiwi.


Muncul pemikiran seekor udang dari balik karang. Apakah dengan gaya bicara ceplas ceplosnya kini LP malah sedang menutupi “sesuatu” ??


Dengan terkuaknya kasus yang melibatkan juragan minyak Riza Chalid yang telah menjalankan bisnis dan menjalin hubungan baiknya dengan Keluarga Cendana sejak puluhan tahun lalu dan terus berlangsung hingga kini telah membuat para petinggi partai dan pejabat beserta mantan pejabat negara merasa ketar ketir dan blingsatan mencari lubang jendela menghindari pengapnya ruang gerak.


Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Kesalahan seorang SN yang terlalu sembrono memainkan perannya sungguh nikmat dan gurih untuk dikunyah oleh JK, apalagi sebagian besar rakyat Indonesia telah “menghakimi” SN sebagai calon terpidana.


Sejauh mana keterlibatan SN, JK dan LP yang ketiganya berasal dari Partai Golkar dalam kasus Freeport ??


Saat ini hanya mereka yang terlibat yang tau jawabannya, sedangkan rakyat Indonesia masih dipaksa untuk tetap sabar menikmati sinetron sampai kisahnya tamat atau mungkin kelak juga dipaksa untuk menggigit jari saat kasus ini dipeti-es-kan.



Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

Friday, December 11, 2015

HUKUM vs DERITA RAKYAT INDONESIA




Ketika pulang kuliah dulu di terminal bus Grogol - Jakarta yang letaknya tepat bersebrangan dengan kampus saya Universitas Trisakti, dari kejauhan saya melihat seorang anak muda lari ke arah saya dengan menggenggam tas wanita. Di belakangnya mengejar seorang ibu paruh baya bersama beberapa orang sambil berteriak “jambret.... jambret.... jambret....”.

Tanpa pikir panjang, saya yang saat itu memang sempat menyandang sabuk hitam Tae Kwon Do, mengayunkan kaki saya dan tepat menghantam telak perut si anak muda hingga dia tersungkur. Hanya dalam hitungan detik puluhan orang telah mengerubungi si pemuda dan anda pun dapat membayangkan apa yang terjadi selanjutnya terhadap si penjambret tersebut.


Belum lama ini saya melihat sebuah video dimana seorang begal motor tertangkap oleh warga setempat. Dari wajahnya tampak cucuran darah karena diadili oleh masyarakat.

Ketika si pelaku memperoleh “pengadilan jalanan”, dia berteriak teriak minta ampun namun tetap saja warga melayangkan bogem mentahnya.


Tanpa munafik, seandainya saya pun berada di dekat kejadian tersebut maka saya pribadi belum tentu dapat menahan napsu untuk mendaratkan tinju saya ke wajah si pelaku begal.


Sekarang saya mau menantang anda untuk bicara jujur dan tidak munafik.


Berapa banyak di antara kalian yang pernah menjadi korban kejahatan / kriminal kemudian kalian hanya mampu bilang “biarlah ku serahkan semuanya kepada Tuhan” atau “biarlah kupasrah berdoa” atau “semoga Tuhan menurunkan azab-Nya” atau “semoga si pelaku bertobat”....... atau....... atau...... dan atau.......


Saya tidak menyalahkan kalian dan sebaliknya saya pikir justru itulah jalan yang terbaik yang semestinya kita lakukan sebagai umat beragama dan percaya akan Maha Kuasa Allah.

Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa hati kecil kita marah, geregetan dan berontak karena harus menerima pasrah ketidakadilan tersebut. Ingin hati melawan tetapi takut atau demi keselamatan, atau mungkin karena kita tidak memiliki kekuasaan.


Masih kental diingatan kita ketika seorang nenek divonis 1 tahun penjara karena mencuri kayu yang harganya tidak lebih dari 500 ribu rupiah.

Belum lagi seorang nenek di Tegal yang berusia 85 tahun divonis 5 bulan penjara hanya karena menjual petasan dengan upah Rp.2000. Kenapa bukan si cukong penjual sumbu dan bubuk petasan yang dilempar ke dalam bui ??


Rasanya ingin sekali saya hadir di persidangan mereka lalu menghampiri dengan telunjuk mengarah ke wajah para hakim dan jaksa penuntut sambil berteriak “Bangsat luh !! Binatang !!”.


Astaghfirullahalazim........ gue nyebut dah tuh karena lupa bahwa NKRI adalah negara hukum, berarti siapapun bersalah patut dihukum.


Memang benar terdapat puluhan pejabat negara ditangkap dan telah dipenjarakan. Tetapi hal yang janggal adalah jumlah uang negara / uang rakyat yang dikorupsi oleh mereka besarnya ratusan milyard bahkan trilyunan rupiah tetapi hukumannya hanya beberapa tahun.

Santai tidur makan bangun di dalam penjara selama beberapa tahun, apalagi kalau bisa bebas jalan jalan keluar penjara walau statusnya masih tahanan dalam. Istilah kata, pasang badan tinggal di bui tapi setelah bebas akan menjadi milyarder atau trilyuner.


Bandingkan dengan si nenek pencuri kayu dan penjual petasan. Sudah hidup miskin, dijeblosin ke penjara, lalu begitu keluar penjara masih juga dicemooh oleh para tetangga di lingkungan mereka tinggal. Sudah hidup menderita dibikin lebih menderita.


Seperti biasa setiap pagi saya mencari berita dari tanah air.

Saat saya membaca drama seorang “koruptor” yang juga pejabat negara Setya Novanto kini mempolisikan Prastyo - Jaksa Agung, Sudirman - Menteri ESDM, Maroef Syamsuddin - Pres Dir Freeport dan Stasiun TV Metro, atas tuduhan pencemaran nama baik, terus terang saya ngakak campur geram dengan rasa nano nano.


Hati awak ini tak tahan, bang.


Lagi lagi darah putih lompat ke otak dan tanpa sengaja bibir berucap :”SN.... SN.... SN.... kenapa tidak sekalian mempolisikan Jokowi, JK, Menkopolkam, KaPolri, KaPolda, beserta semua rakyat yang menuntut anda mundur dari jabatan Ketua DPR ?? Memangnya anda pikir ini negara milik bapak moyang luh, Jancuk !! “



Salam sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

Wednesday, December 9, 2015

MENGINTIP "JURAGAN MINYAK" RIZA CHALID




Membaca sepak terjang Muhammad Riza Chalid yang juga dikenal sebagai “Gasoline God Father” di dunia bisnis minyak, membuat saya bukan lagi menggaruk garuk kepala tetapi juga menggaruk bokong. Rasanya tidak akan pernah mungkin saya lakukan seumur hidup saya.


Mengingatkan saya pada kisah sebuah keluarga mafia Don Carleone dalam film The God Father yang dibintangi oleh Marlon Brando dan Al Pacino. Singkat cerita, dalam kisah tersebut Don Carleone memiliki hubungan luas dengan Polisi, Gubernur maupun Senator untuk melancarkan bisnis illegal minuman keras dan casino nya.


Begitupun dengan Riza Chalid yang memiliki hubungan dekat bukan hanya dengan para wakil rakyat di parlemen tetapi juga dengan para kepala negara sejak Eyang Suharto masih duduk di singgasana.


Riza adalah salah satu peserta “rapat” bersama dua orang lainnya dalam kasus “Papa Minta Saham”. Beliau seakan tau betul seluk beluk cara kerja pejabat negara baik dalam tugas pemerintahan maupun dalam menumpuk harta kekayaan. Di dalam pembicaraannya, ada satu hal menarik saya ketika beliau mengatakan bahwa Jokowi akan “jatuh” bila tidak memperpanjang kontrak Freeport.


Woowwww........ siapakah sebenarnya Mohammad Riza Chalid yang sepertinya juga dapat menentukan nasib seorang Kepala Negara RI ??


Terus terang, saya tidak bisa membayangkan tindak tanduk Riza bila “Sang Jenderal” lah yang menjadi Presiden RI saat ini, mengingat si Tukang Minyak ini telah menyalurkan dananya sebanyak Rp.500 M untuk kampanye “Sang Jenderal”.


Riza adalah murni seorang pengusaha minyak konglomerat yang memiliki hubungan baik dengan para pejabat negara untuk melicinkan usahanya. Beliau tidak pernah disumpah jabatan seperti yang dilakukan oleh para pejabat negara saat pelantikan. Beliaupun juga tidak pernah disumpah untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia.


Entah benar atau tidak, minimal Oom Nazar pernah “bernyanyi” bahwa Keluarga Cikeas adalah salah satu penerima aliran “dana haram” dari si Tukang Minyak atas jasa jasanya membekingi bisnis minyaknya.
Namun demikian, saya pribadi bukanlah orang yang mudah percaya dengan suatu berita yang bisa berdampak fitnah. Jadi untuk hal tersebut, saya yakin seluruh rakyat Indonesia sangat berharap Riza bersedia membentangkannya di hadapan MKD atau bilamana mungkin di hadapan Kejaksaan dalam sidang terbuka.


Seandainya Riza sungkan untuk “berkicau” layaknya Cucakrowo, maka saran saya untuk si “Tukang Minyak” tersebut janganlah anda menginjakan kaki di Bumi Pertiwi selama Jokowi masih menjadi Presiden NKRI, karena anda akan ditangkap dengan tuduhan Rencana Kudeta.
Anda juga jangan pernah lagi berkunjung ke Padang – Sumatera Barat, karena anda telah terlanjur mengatakannya sebagai Provinsi Dajjal dihadapan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.
Namun , relakanlah bila pemerintah RI menyita seluruh harta kekayaan keluarga anda termasuk membekukan seluruh rekening bank anda di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dengan demikian anda beserta keluarga akan lebih santai menikmati makan malam di tepi pantai sambil menikmati alunan lagu Four Season-nya Vivaldi.


Rakyat Indonesia sudah tidak sabar menanti akhir cerita dari sinetron “Papa Minta Saham” ini.


Selamat Pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

JERIT BATHINKU UNTUKMU PAPUA


 
Kemerdekaan yang dimiliki oleh suatu bangsa semestinya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat bangsa tersebut.


Partai Golkar yang pernah berkuasa selama 33 tahun berturut turut justru menambah penderitaan rakyat Papua, dengan "menjual" kemakmuran rakyat Papua kepada pihak asing.


Semboyan "Suara Rakyat Suara Golkar" hanyalah bagian dari kampanye para rampok uang rakyat. Mereka bekerja keras cuma beberapa bulan setiap 5 tahun untuk memperoleh suara rakyat namun setelah meraih kemenangan mereka akan bekerja keras menimbun harta kekayaan. Peduli setan dengan rakyat kecil yang telah menjadikan mereka pejabat negara.


Ribuan bahkan jutaan ton emas dikeruk dari Tanah Papua selama berpuluh tahun.
Rakyat Papua telah berkontribusi memberikan kekayaan kepada asing dan para koruptor pejabat negara Trilyunan US dollar.

Apa yang didapat oleh rakyat Papua ??
Hanya "Cawat dan Panah" yang tidak berubah sejak Indonesia merdeka 70 tahun lalu.


Papa minta saham, main golf, beli pesawat jet mewah dengan mengorbankan rakyat Papua adalah bentuk penindasan terhadap kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat Papua.


Hati nurani seorang Jokowi memendam tangisan pilu dan melihat semua ketidak adilan ini. Beliau melihat kebiadaban para pejabat negara yang tanpa belas kasih menjadikan Tanah Papua sebagai sumber penghasilan tapi menjadikan rakyat Papua hanya sebagai "kerbau bajak" yang setelah tua dipotong atau dibiarkan mati dengan sendirinya.


Walaupun beliau adalah seorang Kepala Negara namun beliau tanpa malu tanpa sungkan membuka lebar lebar mata hati setiap orang dan mempertontonkan kepada dunia "Inilah Prilaku Biadab Pejabat Indonesia".
Beliau juga rela direndahkan dan disebut sebagai presiden gila, presiden saraf atau presiden koppig.

Sosok Jokowi bukanlah sekedar Kepala Negara RI, melainkan juga seorang Malaikat Pendobrak para pejabat biadab.


Kita semua berharap pemerintahan Jokowi - JK mampu memberikan hasil alam Tanah Papua 100% sepenuhnya hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Papua.


GOD bless Indonesia !!
GOD bless Papua !!


Salam sejahtera selalu.
Raymond Liauw

PERSAHABATAN TIGA WAKIL RAKYAT



Sejak kecil hingga sekarang ini, saya paling suka nonton film action khususnya film perang.

Seperti kisah kisah perang klasik dimana ada sekelompok sahabat yang selalu bersama sejak hari pertama menginjakan kaki di medan tempur hingga perang berakhir.
Ketika pertempuran terjadi, sahabat karib ini saling melindungi dan bila ada salah satu yang kena tembak maka yang lainnya akan membopong teman yang terluka untuk melarikan diri bersama sama. Istilah kampungnya adalah "no one left behind".


Yang paling saya suka di sini adalah mereka rela berkorban demi sahabatnya bahkan mempertaruhkan nyawanya demi membela teman sampai titik darah penghabisan.
Saat mereka berada di medan tempur, mereka seakan tidak lagi mengingat istri dan anak anak mereka di rumah. Mereka juga seolah tidak peduli dengan apa yang sedang dirasakan / dipikirkan keluarganya, sekalipun si istri dan anak anak mereka menangis rindu pagi siang malam.


Terlepas dari masalah yang sedang dihadapi oleh Setya Novanto, saya melihat ada sesuatu yang sangat menarik walau kasusnya berbeda dengan para prajurit pada kisah di atas.

Kita semua dapat melihat hubungan Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Setya Novanto sangat akrab layaknya tiga ulat di satu tangkai. Bahkan ketiganya memenuhi panggilan suci menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama sama.


Secara jujur akan saya katakan bahwa secara pribadi saya salud dengan hubungan persahabatan yang telah mereka jalin begitu kompak dan begitu solid.
Ketiganya juga seakan akan tidak peduli dengan tekanan yang sedang dihadapi oleh istri dan anak anak mereka baik dari sahabat, para tetangga maupun teman sekolah, terutama media massa.


Akankah Fahri Hamzah dan Fadli Zon juga akan mempertaruhkan karir politiknya hingga titik ludah terakhir keluar dari mulut mereka untuk membela seorang Setya Novanto ???

Kisah ini akan menjadi lebih menarik bila Setya Novanto dinyatakan bersalah oleh MKD apalagi sampai dijadikan tersangka oleh pihak Kejaksaan.


Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

Monday, December 7, 2015

KETIKA YANG BENAR DIANGGAP SESAT




Di saat dunia bergejolak penuh dengan kebencian, pertengkaran dan peperangan. Masih ada saja orang orang angkuh yang merasa dirinya paling benar mungkin merasa hampir sempurna tetapi tidak sadar bahwa sebenarnya mereka adalah orang orang tolol yang sangat mudah diprovokasi untuk diadu domba.


Sebagai seorang Katholik saya benar benar bangga memiliki seorang Paus Fransiskus yang begitu rendah hati dan penuh cinta kasih tanpa syarat.


Saat beliau mengunjungi Palestina, beliau disambut bukan hanya oleh umat Kristiani namun juga oleh umat Yahudi dan umat Muslim.


Saat beliau berkunjung ke Turki, beliaupun tidak segan segan untuk melakukan sembayang bersama umat Muslim di dalam sebuah masjid menghadap Kiblat.


Apaaaa ??
Paus Fransiskus sembahyang di Masjid menghadap Kiblat ??
Haaaa ??
Seorang Pemimpin umat Katholik Roma sedunia berdoa bersama umat Muslim di dalam masjid menghadap Kiblat ??
Kagak salah tuh ??


Demikianlah pertanyaan pertanyaan yang muncul di otak kaum Sumbu Pendek.


Dalam suatu wawancara, Paus Fransiskus menyebut Mahmoud Abbas sebagai 'malaikat perdamaian' dan menyebutnya sebagai Presiden Negara Palestina.


Ente sadar apa kagak, Dul ??


Paus tidak menyebut wilayah Palestina atau teritorial Palestina tetapi secara nyata blak blakan menyebutnya sebagai Negara Palestina, yang artinya Vatikan mendukung 100% penuh kemerdekaan Negara Palestina.


Ente udah ngerti kan, Dul ??


Para pemimpin dunia termasuk Presiden Turki, juga Raja & Ratu Yordania sangat hormat kepada Paus Fransiskus.


Coba kita buka buku sejarah dulu deh.


Seorang Simon diberi nama Petrus yang artinya batu karang oleh Yesus Kristus sebagai isyarat bahwa Yesus Kristus meletakan landasan gereja-Nya di atas Petrus. Jadi, Simon Petrus itu adalah Paus pertama umat Kristiani.
Berarti, Paus Fransiskus adalah penerus dari Simon Petrus.


Naaahh..... sekarang ente udah ngerti kan' kenapa umat Kristiani Katholik memiliki seorang pemimpin Paus, Dul ?!!


Tugas yang paling berat dari seorang Paus adalah memupuk rasa Cinta Kasih tanpa syarat dalam diri setiap manusia, layaknya Cinta Kasih Allah kepada manusia ciptaan-Nya.


Bila seorang Paus Fransiskus selalu menyerukan perdamaian dunia dan menyebarkan Cinta Kasih Allah kepada sesama umat Allah tanpa terkecuali kepada seluruh umat agama, seluruh bangsa dan seluruh negara. Bahkan banyak umat Muslim di dunia juga mengagumi Paus Fransiskus.
Masa seh ente yang rajin ke gereja bisa bisanya bilang Katholik itu aliran sesat ?? Yang bener aje luh, Dul ??!!!
(postingan ente udah ente cabut tuh, Dul ??)


Saran ane, kalau ente punya otak dipakai untuk perpanjang sumbu, jangan jadi Kristen Sumbu Pendek terus, Dul !!


Salam sejahtera dan selamat berakhir pekan.
Raymond Liauw

TOLERANSI dan KAUM RADIKAL



Lunturnya rasa toleransi dalam bermasyarakat biasanya terjadi di mana minoritas merasa diperlakukan tidak adil oleh kaum mayoritas.
Rasa tidak nyaman ini dirasakan bukan hanya oleh pemeluk agama minoritas tetapi juga oleh suku / bangsa minoritas pada suatu daerah / negara.


Ketika seorang dari kaum minoritas memimpin suatu daerah, katakanlah Ahok, para intolerant sangat merasa terpukul.
Apapun yang diperbuat oleh Ahok akan selalu salah. Jangankan si Ahok berbuat jahat, bahkan Ahok berbuat baikpun akan tetap salah.

Setiap kali mendemo para intolerant akan selalu menyangkut pautkannya dengan agama dan kesukuan Ahok.


Saya yakin ada di antara kalian yang nyeletuk "eehhh...... Raymond, ente membela Ahok karena ente China dan non muslim seh".


Saya akan tersenyum dan jawab anda bahwa siapapun yang menjadi Gubernur DKI tidak akan mempengaruhi saya karena saya tidak memilih siapapun.
Saya juga tidak sedang membela Ahok, melainkan yang saya soroti di sini adalah perlakuan tidak adil yang diperoleh seorang Ahok sebagai warga negara Indonesia (WNI) yang lahir dan besar di Indonesia dan memiliki garis keturunan dari China (kakek) dan Thailand (nenek).

Jadi, alasan saya menulis ini bukan karena saya adalah keturunan China dan Non-Muslim tetapi ini adalah pandangan saya yang juga sebagai kaum minoritas di USA, negara tempat saya bermukim.


Bila para intolerant sudah tidak dapat lagi mengendalikan rasa emosinya, mereka tidak akan lagi menggunakan akal sehat. Segala cara akan mereka gunakan untuk mencapai keinginannya termasuk menggunakan ayat ayat kitab suci untuk mencari pembenaran.

FPI akan menggunakan ayat Quran yang menyatakan bahwa kafir tidak boleh memimpin mereka. Semua orang yang non muslim dianggapnya kafir.
Padahal hal ini sudah ditentang oleh beberapa ulama di Indonesia.
KH Alwi Shihab dalam suatu pernyataannya mengatakan seorang non muslim pun boleh menjadi pemimpin asalkan jujur tidak korupsi.


Demikian juga Gus Nuril pada ceramahnya di sebuah gereja pada hari Natal beberapa tahun lalu menyatakan Kristiani bukanlah kafir seperti yang para intolerant teriakan.


Hhmmm....... nanti dulu sebentar sebentar........ kebayang gak' tuh oleh anda.
Seorang ulama Kyai Haji Nuril Arifin bukan hanya mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani, tetapi beliau juga merayakan Natal bersama kaum Kristiani dan bahkan menjadi penceramah di gereja pada hari Natal tersebut.


Bukan main, Subhanallah Islam yang benar benar nyata sebagai rahmatan lil alamin.

Di negara USA yang sudah merdeka sejak ratusan tahun lalu, hingga kini masih ada kaum intolerant dengan menamakan kelompoknya The Army Of God, dimana mereka menganggap bahwa ras putih adalah superior. Namun, hukum yang berlaku di sini benar benar dijalankan oleh pemerintah US. Dalam undang undang anti diskriminas dinyatakan hukum tidak akan dibedakan bagi siapapun yang bersalah dan melakukan pelanggaran, tetap diproses dan kriminal. Dengan ketegasan ini ruang gerak para intolerant sangat dibatasi walaupun sebenarnya jumlah mereka masih ratusan bahkan ribuan di pedesaan.


Dalam melakukan aksinya mereka akan mengambil kutipan kutipan ayat suci untuk mendukung kejahatan yang mereka lakukan.


Seperti yang dilakukan oleh kelompok Ku Klux Klan (KKK) yang pernah berjaya beberapa puluh tahun lalu di US, mereka memulainya dengan melakukan kebaktian di gereja sebelum melakukan aksi intolerant nya.
Kekerasan bahkan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum yang mereka anggap rendah adalah sebagai suatu hal yang wajar.
Mereka menganggap apapun bangsanya, apapun agamanya dan apapun warna kulitnya, bila tidak sama dan satu ras dengan mereka (Kulit Putih Kristiani), maka akan mereka musnahkan.


Suatu hal yang juga menarik perhatian saya adalah pakaian yang dikenakan oleh para kaum intolerant lucu seperti memakai daster atau sering disebut sebagai "manusia daster" yang menjadi kebanggaan para pengikut KKK.

 
Pelangi tidak akan cantik bila cuma satu warna. Melodi tidak akan elok bila hanya satu nada.
Begitupun Allah menciptakan dunia yang begitu indah dengan beragam bangsa dan beragam manusia.


Salam sejahtera dan selamat berakhir pekan.
Raymond Liauw