Saturday, January 9, 2016

MENYAMBUT TERANG


mendung belum berlalu
rintik hujan terus mengguyur
desah pertempuran
napas pembantaian
mayat hangat masih memuat berita pagi
iblis sorak bernyanyi
meratap jerit tangis wanita dan bayi

mereka selalu menyuruh sabar
terlalu banyak kata berbasa basi
aku tau harus sabar dan akupun juga sedang menanti
entah kapan derita dunia berakhir
asaku bergayut di ujung jari
imanku menanti Raja Damai turun ke bumi


SELAMAT HARI NATAL 2015.
KASIH-NYA TIADA AKHIR.

Sunday, December 20, 2015

LENTERA KASIH (Cerita Pendek)




Jauh di dalam hutan, sekelompok orang terengah engah. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu bayi. Wajah wajah mereka terlihat pucat pasi penuh ketakutan berharap memperoleh perlindungan.

Tiba tiba............. bruk.......... salah seorang diantara mereka terjatuh.

Kalian boleh melanjutkan biarlah aku di sini. Aku sudah tidak kuat lagi untuk terus berlari” ujar Suminah meringis kesakitan.
Ayo mbakyu biar ku gendong. Kamu pasti kuat dan kami tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini” sahut Karso.
dik Karso, aku benar benar sudah tidak sanggup lagi. Larilah bersama bayi kalian dan aku titipkan kedua anakku ini kepada kalian” lirih Suminah.

Bersamaan dengan itu, kedua anak remajanya berlari ke arahnya dan memeluknya “Ibu jangan berpisah dengan kami. Ayah sudah tiada dan kami tidak ingin kehilangan ibu juga”.

Tiada terbendung tangis pilu mereka sambil berpelukan. Namun, tidak ada lagi yang dapat mereka perbuat selain meninggalkan Suminah terkulai lemah menghembuskan napas terakhirnya dengan darah yang terus mengucur dari punggung dan lambungnya.


Tiga bulan sebelum semuanya itu terjadi.


Di sebuah ruang, dua orang sedang membicarakan suatu hal. Yang satu berkulit sawo matang lengkap dengan pakaian angkatan daratnya. Sedangkan satunya lagi berkulit putih berambut pirang. Pembicaraan empat mata ini sepertinya serius sekali.


Ketika beliau berkunjung ke Washington, boss saya sudah berusaha membujuknya untuk bekerja sama namun sepertinya beliau sangat keras kepala dan arogan. Kini beliau malah merangkul si beruang bersama tirai bambu” ucap si pirang dengan ekspresi wajah penuh kejengkelan.

Kami juga tau bahwa negara anda belum lama merdeka tapi kami tidak ingin paham komunisme mencengkram negeri ini” tambah si pirang yang juga merupakan seorang diplomat yang diutus oleh petinggi Washington.


Kolonel AD tersebut menarik napas dalam dalam lalu dengan senyuman khasnya dia berkata “Kharisma beliau begitu besar sehingga seluruh rakyat di negeri ini menganggap beliau lebih dari seorang pemimpin. Begitupun dengan para Jenderal di negeri ini sangat loyal terhadapnya. Saya harap Washington dapat lebih bersabar”.


Dahi si pirang berkerut kemudian memanggut manggutkan kepalanya “Kami yakin anda dapat melakukannya dan kami juga akan meyakinkan para wartawan asing untuk berpihak kepada anda”.


Sementara itu, di sebuah desa kecil dimana masyarakatnya adalah para keluarga petani miskin yang hanya memiliki sepetak atau dua petak sawah dengan rumah berbilik bambu berlantai tanah. Keceriaan yang tampak pada para keluarga petani tersebut menunjukan suka cita dengan apa yang mereka miliki.


Pasangan suami istri Hasan dan Suminah memiliki dua anak lelaki Agus berusia 12 tahun dan Bejo adiknya yang masih berusia 10 tahun. Keluarga ini sangat soleh dan taat menjalankan perintah agama.

Mereka memiliki tetangga, pasangan Karso dan Suryati yang baru saja dikarunia seorang bayi perempuan yang diberi nama Suci.


Mas Hasan, apakah tadi siang ada orang yang datang menawarkan bibit ikan lele dengan harga murah ?” tanya Karso sambil menikmati secangkir kopi.
Iya tuh tapi aku tidak tau dia datang dari desa mana. Dia bilang bibit lelenya dari partainya untuk membantu para petani” sahut Hasan. “Aku tidak peduli mereka dari partai mana yang pasti mereka baik terhadap kita, jadi aku beli saja bibitnya” tambah Hasan dengan memainkan kepulan asap rokok dari celah bibirnya.

Oh.... gitu yah, Mas” Karso mengangguk anggukan kepalanya penuh keraguan.


Seminggu kemudian, sekelompok orang berwajah garang mendatangi Hasan yang baru saja selesai makan siang bersama isti dan kedua anaknya.

Heiii..... kamu Hasan anggota partai arit yah ?!!” bentak seorang bercelana hitam cingkrang.
Oleh karena tidak mengerti apa yang ditanyakan, Hasan menjawabnya dengan gugup “Ampun pak.... apa ? Partai apa, pak ? Aku tidak tau apa apa tentang partai, pak”.
Kamu yang membeli bibit lele minggu lalu itu kan ?” bentaknya lagi
I....i...iya bet...bet....betul aku beli bibit lele murah minggu lalu ta....ta.....tapi aku tidak tau partai, pak” jawab Hasan semakin gugup.

Tetapi, orang orang tersebut semakin beringas dan salah seorang diantaranya mengayunkan parang tepat menghantam tempurung kepala Hasan yang langsung ambruk bermandi darah, disaksikan oleh mata kepala istri dan anak anaknya.


Langsung saja Suminah bersama Agus dan Bejo berteriak teriak histeris, sedangkan orang orang ganas tersebut sudah bersiap akan membantai mereka.


Kegaduhan yang terjadi membuat Karso dan Suryati yang sedang menyusui bayinya keluar rumah. Karso yang dikenal banyak orang karena memiliki keahlian bela diri itu menghajar orang orang ganas tersebut. Dari tujuh orang enam diantaranya terkapar tak berkutik, sedangkan satunya lagi berhasil melarikan diri.


Para tetanggapun segera berdatangan ingin melihat apa yang telah terjadi pada kedua keluarga ini.


Lebih baik kalian secepatnya pergi dari sini sebelum mereka datang kembali” ujar Pak Zainal yang berada di antara kerumunan.

Kemarin juga terjadi hal serupa di desa seberang hanya gara gara membeli bibit lele dari orang yang sama dari partai arit. Jangan jangan mereka juga akan menghabisi orang orang di desa kita yang minggu lalu membeli bibit lele murah” sambung Pak Zainal.

Iya betul. Aku juga kemarin dengar berita katanya mereka juga menculik para Jenderal” sahut seorang warga.


Tiba tiba seorang anak berlari menghampiri kerumunan sambil teriak teriak “Pak.... mereka datang bawa bedil.... mereka datang bawa bedil..... Pak.... mereka datang bawa bedil....” kata kata itu diulang terus menerus.


Kontan saja warga berhamburan menyelamatkan diri, tanpa terkecuali Suminah bersama kedua anaknya, juga Karso dan Suryati dengan bayinya.

 
Sekelompok orang bersenjata seperti orang kesurupan membabi buta menembaki para warga desa, sambil berteriak teriak “bantai mereka......... bantai orang orang partai arit..... bantai mereka..........”.

Malang bagi Suminah sebuah peluru menembus punggung dan sebuah peluru lainnya menyerempet lambung kirinya.


Demikianlah awal pelarian kedua keluarga tersebut.


Bermandi air hujan dan makan minum seadanya. Mereka sendiri tidak tau apa dosa mereka hingga mereka diburu seperti binatang. Beberapa kali dalam pelariannya mereka menemukan desa, tetapi mereka selalu berbalik arah menjauhi desa desa tersebut.

Entah berapa tahun lamanya mereka berlima hidup di tengah hutan seolah terputus dari dunia luar sambil mencari waktu yang tepat untuk kembali ke lingkungan masyarakat.


Pembantaian terhadap orang orang desa yang polos dan lugu terus berlangsung. Orang orang bersenjata mengadili mereka dengan cara yang tidak jelas. Bangkai manusia bergelimpangan di sungai, di rawa, di kebun, maupun di sawah tanpa proses pengadilan bersalah atau tidak. Puluhan ribu nyawa menjadi korban kekejaman dunia politik.

Teriakan mereka terlalu lemah untuk didengar. Kulit mereka terlalu tipis untuk menahan timah panas dan tajamnya parang. Rentetan tembakan terdengar siang malam tanpa peduli suara azan.

Kebiadaban bukan lagi celoteh burung di pagi hari, tetapi sudah melanda seluruh negeri. Dimanakah Tuhan ?? Apakah DIA akan menurunkan bantuan ??
Tak terdengar jawaban. Sedangkan genangan darah dan tangis pilu terdengar hingga ke ujung dunia.


Saya tidak dapat memberikan apa apa atas jasa negara anda yang telah membantu saya menjadi pemimpin negeri. Namun, satu hal yang pasti bangsa ini membutuhkan negara anda untuk mengelola bumi kami dan anda boleh memulainya dari ujung timur negeri ini” ujar seorang Kolonel AD kepada seorang berambut pirang yang sebelumnya pernah saling bertemu.


Tuan Kolonel, bolehkah saya tau apa sebenarnya yang terjadi di negara anda dua tahun lalu ? tanya si pirang perlahan dengan sangat hati hati.
Suatu bencana yang tidak pernah diharapkan oleh Washington” sambungnya.


Sang Kolonel memalingkan wajahnya menatap hamparan padi menguning di hadapannya, lalu berkata “Layaknya sebuah perlombaan panjat pinang. Tubuh kita perlu dilumuri dengan debu kotor untuk mencapai puncak dan membersihkan semuanya”.


Tanpa terasa, lima puluh tahun kejadian brutal dan barbar tersebut telah berlalu.


Selepas menunaikan sholat magrib, dua orang kakak beradik yang sangat soleh bersama istri dan anak anak mereka mengunjungi sebuah keluarga untuk makan malam bersama.


Pak de dan Bu de bangga dengan kalian berdua. Pak de juga yakin kedua orang tua kalian di alam sana bangga sekali dengan kalian” ujar seorang kakek yang ternyata adalah Pak Karso yang usianya kini sudah mendekati kepala delapan, duduk di sebelahnya istri tercinta bu Suryati dan putri tunggalnya, Suci yang kini juga telah memiliki dua orang anak.


Ketika masih di desa dulu, Pak de dan Bu de mu ini satu satunya keluarga Kristiani. Setiap hari Natal, hanya keluarga kalianlah yang mengunjungi kami” sambung Pak Karso.

Hingga kini kalian masih tetap mengunjungi kami” suara serak Pak Karso mulai terdengar terputus putus menahan linangan air matanya. Demikian pula dengan bu Suryati yang terlihat kian renta menangis dan memeluki mereka satu persatu sejak mereka datang tadi.


Pak de Karso dan bu de Suryati sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri, juga dik Suci sudah seperti adik kandung kami” ucap Agus.

Kami tidak pernah lupa saat saat indah di desa, dan hari Natal adalah hari yang selalu kami nantikan untuk berkumpul bersama” sahut Bejo yang tak tahan lagi menitikan air matanya.


Agus dan Bejo menghampiri dan memeluk pak Karso dan bu Suryati “Selamat Natal Pak de Bu de, Semoga kasih Yesus Kristus selalu menyertai kita semua”.


Malam itu begitu cerah. Kemerlap bintang menerangi bumi menyambut lahirnya Sang Juru Selamat di kota Bethlehem.


Kita semua hanyalah pengembara. Melintasi jalan berdebu, mendaki bukit kerikil batu. Kidung kidung-Nya begitu sejuk lembut menerangi jalan setapak, layaknya lentera api yang tak pernah pudar membimbing kita untuk menjadi pemenang.



Salam sejahtera dan sehat selalu.
Selamat Natal untuk semua sahabat yang merayakannya.
Raymond Liauw.

SN ku Malang, JK ku Senang, dan LP ku Melintang




Kesuksesan Riza Chalid dalam menjalankan bisnis minyaknya bukan terjadi secara mendadak seperti orang yang baru saja memenangi Mega Million lottery. Salah satu faktor yang mendukung adalah kepiawaiannya menjalin dan menjaga hubungan baik dengan penguasa dan para penegak hukum di Indonesia.


Dalam rekaman “Papa Minta Saham”, nama Luhut Panjaitan disebut puluhan kali. Bahkan, pembicaraan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya dibawa ke opini bahwa LP adalah kunci penghubung antara pihak istana dengan pihak Freeport.


Terus terang, satu hal yang saya sangat suka dengan pribadi Luhut adalah gaya bicara beliau yang ceplas ceplos seakan menyatakan beliau tidak suka menyembunyikan “sesuatu”. Bahkan beliau menantang MKD untuk segera memanggilnya dengan melakukan sidang terbuka, namun oleh karena sikap MKD selalu 'belet' mengulur waktu, LP tidak sabar kemudian membuka konference dengan mengundang para wartawan dan anggota MKD.


Ketegasan dan sifat jantan LP terlihat sejak masa kampanye mendukung Jokowi, bahkan rela meninggalkan partai Golkar padahal saat itu posisi beliau adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, posisi yang sangat strategis dan dihormati semua kader Golkar.

Rasa patriotisme dan nasionalisme LP yang juga seorang politikus dan kini menjabat sebagai MonkoPolkam tidak perlu diragukan lagi.


Tidak ada peraturan undang undang negara Indonesia yang melarang seorang pejabat negara untuk memiliki usaha pribadi. Demikian juga halnya dengan LP yang sejak tahun 2004 mendirikan PT Toba Sejahtera yang bergerak di bidang batu bara dan pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik swasta, serta perkebunan dan kehutanan. Perusahaan beliaupun dikabarkan sering bekerjasama menggarap proyek dengan perusahaan milik Aburizal Bakri.


Setelah saya mendengarkan konferensi pers yang dilakukan oleh LP, ada hal yang menarik perhatian saya. LP mengatakan “.......bila kita berteman janganlah cuma saat senangnya saja........”. Pernyatan dari seorang Purnawirawan Jenderal AD yang pernah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk NKRI di tanah Timor Timur sangatlah menampar mereka yang memiliki kebiasaan hanya memanfaatkan teman saat bersenang lalu meninggalkannya saat si teman sedang dalam kesusahan.


Mungkinkah itu adalah sebuah sindiran telak dan keras kepada seorang petinggi negara lainnya yang juga seorang pengusaha dan kini merangkap sebagai Wakil Presiden ??


Nama seorang JK bukanlah baru di dunia perpolitikan. Ketika beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum Golkar, beliau bersama bersama beberapa fungsionaris Golkar lainnya memberikan penghargaan Widya Bhakti Karya Pratama kepada mantan penguasa rezim Orde Baru, Suharto padahal apa yang dilakukannya tersebut adalah terang terangan bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia yang telah muak dengan Sang Diktator kurup.


Sedangkan di dunia bisnis nama JK sudah tak asing lagi dengan kelompok Kalla Group.

Kemahiran seorang JK berdiplomasi dan melakukan pendekatan dengan segudang pengalaman di bidang politik dan bisnis telah memincut hati Megawati memasangkannya dengan Jokowi, sehingga membuat JK menyandang posisi Wakil Presiden RI sebanyak dua kali.


Menurut logika saya, sangatlah mustahil bila seorang JK yang pernah menjadi Ketua Umum Partai tidak mengetahui “permainan kotor” para petinggi partainya untuk mengeruk uang negara.

Perlu diingat bahwa sebagian uang haram yang diperoleh para kader partai harus disetorkan ke partai untuk menunjang kelangsungan hidup partai terutama digunakan untuk pilkada atau lebih lebih extremnya untuk pemilu. Kalau cuma mengandalkan gaji pokok, bagaimana bisa melakukan setoran wajib ke partai ?? dan bagaimana mungkin parta bisa berkembang ??


Memanglah benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa untuk berhasil dalam politik harus pintar memainkan drama sinetron.


Berulang kali LP mengakui memiliki hubungan baik dengan Riza dan SN walau hanya sebatas teman usaha. Beliau juga dengan lantang mengatakan bahwa kasus Freeport adalah kasus wajar dan tidak perlu dibesar besarkan dengan alasan pemberian saham Freeport sebesar 20% adalah suatu hal aneh.

Saya setuju dengan logika Luhut Panjaitan bahwa yang berhak memberikan saham Freeport secara gratis adalah komisioner Freeport yang tentunya harus melalui rapat para pemegang saham di US, apalagi jumlahnya tidak tanggung tanggung 20%.


Namun, satu hal yang LP tidak sebutkan di muka publik adalah Sarana Pendukung yang akan menghasilkan uang haram dimana para pejabat koruptor “memaksa” Freeport membeli jasa mereka dalam bentuk kerja sama Sarana Pendukung untuk kegiatan Freeport di tanah Papua.

Bukankah LP sendiri yang mengakui bahwa pada pertemuan bulan April 2012 LP diajak oleh CEO Freeport - Jim Bob untuk kerjasama dengan Freeport ?? walaupun akhirnya dibatalkan.

Bila Freeport dapat meraup keuntungan Milyard-an US dollar, sepertinya tidak ada alasan bagi Freeport menolak untuk memberikan 20% saham kepada para penegak hukum koruptor di Indonesia daripada harus hengkang dari bumi pertiwi.


Muncul pemikiran seekor udang dari balik karang. Apakah dengan gaya bicara ceplas ceplosnya kini LP malah sedang menutupi “sesuatu” ??


Dengan terkuaknya kasus yang melibatkan juragan minyak Riza Chalid yang telah menjalankan bisnis dan menjalin hubungan baiknya dengan Keluarga Cendana sejak puluhan tahun lalu dan terus berlangsung hingga kini telah membuat para petinggi partai dan pejabat beserta mantan pejabat negara merasa ketar ketir dan blingsatan mencari lubang jendela menghindari pengapnya ruang gerak.


Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Kesalahan seorang SN yang terlalu sembrono memainkan perannya sungguh nikmat dan gurih untuk dikunyah oleh JK, apalagi sebagian besar rakyat Indonesia telah “menghakimi” SN sebagai calon terpidana.


Sejauh mana keterlibatan SN, JK dan LP yang ketiganya berasal dari Partai Golkar dalam kasus Freeport ??


Saat ini hanya mereka yang terlibat yang tau jawabannya, sedangkan rakyat Indonesia masih dipaksa untuk tetap sabar menikmati sinetron sampai kisahnya tamat atau mungkin kelak juga dipaksa untuk menggigit jari saat kasus ini dipeti-es-kan.



Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

Friday, December 11, 2015

HUKUM vs DERITA RAKYAT INDONESIA




Ketika pulang kuliah dulu di terminal bus Grogol - Jakarta yang letaknya tepat bersebrangan dengan kampus saya Universitas Trisakti, dari kejauhan saya melihat seorang anak muda lari ke arah saya dengan menggenggam tas wanita. Di belakangnya mengejar seorang ibu paruh baya bersama beberapa orang sambil berteriak “jambret.... jambret.... jambret....”.

Tanpa pikir panjang, saya yang saat itu memang sempat menyandang sabuk hitam Tae Kwon Do, mengayunkan kaki saya dan tepat menghantam telak perut si anak muda hingga dia tersungkur. Hanya dalam hitungan detik puluhan orang telah mengerubungi si pemuda dan anda pun dapat membayangkan apa yang terjadi selanjutnya terhadap si penjambret tersebut.


Belum lama ini saya melihat sebuah video dimana seorang begal motor tertangkap oleh warga setempat. Dari wajahnya tampak cucuran darah karena diadili oleh masyarakat.

Ketika si pelaku memperoleh “pengadilan jalanan”, dia berteriak teriak minta ampun namun tetap saja warga melayangkan bogem mentahnya.


Tanpa munafik, seandainya saya pun berada di dekat kejadian tersebut maka saya pribadi belum tentu dapat menahan napsu untuk mendaratkan tinju saya ke wajah si pelaku begal.


Sekarang saya mau menantang anda untuk bicara jujur dan tidak munafik.


Berapa banyak di antara kalian yang pernah menjadi korban kejahatan / kriminal kemudian kalian hanya mampu bilang “biarlah ku serahkan semuanya kepada Tuhan” atau “biarlah kupasrah berdoa” atau “semoga Tuhan menurunkan azab-Nya” atau “semoga si pelaku bertobat”....... atau....... atau...... dan atau.......


Saya tidak menyalahkan kalian dan sebaliknya saya pikir justru itulah jalan yang terbaik yang semestinya kita lakukan sebagai umat beragama dan percaya akan Maha Kuasa Allah.

Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa hati kecil kita marah, geregetan dan berontak karena harus menerima pasrah ketidakadilan tersebut. Ingin hati melawan tetapi takut atau demi keselamatan, atau mungkin karena kita tidak memiliki kekuasaan.


Masih kental diingatan kita ketika seorang nenek divonis 1 tahun penjara karena mencuri kayu yang harganya tidak lebih dari 500 ribu rupiah.

Belum lagi seorang nenek di Tegal yang berusia 85 tahun divonis 5 bulan penjara hanya karena menjual petasan dengan upah Rp.2000. Kenapa bukan si cukong penjual sumbu dan bubuk petasan yang dilempar ke dalam bui ??


Rasanya ingin sekali saya hadir di persidangan mereka lalu menghampiri dengan telunjuk mengarah ke wajah para hakim dan jaksa penuntut sambil berteriak “Bangsat luh !! Binatang !!”.


Astaghfirullahalazim........ gue nyebut dah tuh karena lupa bahwa NKRI adalah negara hukum, berarti siapapun bersalah patut dihukum.


Memang benar terdapat puluhan pejabat negara ditangkap dan telah dipenjarakan. Tetapi hal yang janggal adalah jumlah uang negara / uang rakyat yang dikorupsi oleh mereka besarnya ratusan milyard bahkan trilyunan rupiah tetapi hukumannya hanya beberapa tahun.

Santai tidur makan bangun di dalam penjara selama beberapa tahun, apalagi kalau bisa bebas jalan jalan keluar penjara walau statusnya masih tahanan dalam. Istilah kata, pasang badan tinggal di bui tapi setelah bebas akan menjadi milyarder atau trilyuner.


Bandingkan dengan si nenek pencuri kayu dan penjual petasan. Sudah hidup miskin, dijeblosin ke penjara, lalu begitu keluar penjara masih juga dicemooh oleh para tetangga di lingkungan mereka tinggal. Sudah hidup menderita dibikin lebih menderita.


Seperti biasa setiap pagi saya mencari berita dari tanah air.

Saat saya membaca drama seorang “koruptor” yang juga pejabat negara Setya Novanto kini mempolisikan Prastyo - Jaksa Agung, Sudirman - Menteri ESDM, Maroef Syamsuddin - Pres Dir Freeport dan Stasiun TV Metro, atas tuduhan pencemaran nama baik, terus terang saya ngakak campur geram dengan rasa nano nano.


Hati awak ini tak tahan, bang.


Lagi lagi darah putih lompat ke otak dan tanpa sengaja bibir berucap :”SN.... SN.... SN.... kenapa tidak sekalian mempolisikan Jokowi, JK, Menkopolkam, KaPolri, KaPolda, beserta semua rakyat yang menuntut anda mundur dari jabatan Ketua DPR ?? Memangnya anda pikir ini negara milik bapak moyang luh, Jancuk !! “



Salam sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

Wednesday, December 9, 2015

MENGINTIP "JURAGAN MINYAK" RIZA CHALID




Membaca sepak terjang Muhammad Riza Chalid yang juga dikenal sebagai “Gasoline God Father” di dunia bisnis minyak, membuat saya bukan lagi menggaruk garuk kepala tetapi juga menggaruk bokong. Rasanya tidak akan pernah mungkin saya lakukan seumur hidup saya.


Mengingatkan saya pada kisah sebuah keluarga mafia Don Carleone dalam film The God Father yang dibintangi oleh Marlon Brando dan Al Pacino. Singkat cerita, dalam kisah tersebut Don Carleone memiliki hubungan luas dengan Polisi, Gubernur maupun Senator untuk melancarkan bisnis illegal minuman keras dan casino nya.


Begitupun dengan Riza Chalid yang memiliki hubungan dekat bukan hanya dengan para wakil rakyat di parlemen tetapi juga dengan para kepala negara sejak Eyang Suharto masih duduk di singgasana.


Riza adalah salah satu peserta “rapat” bersama dua orang lainnya dalam kasus “Papa Minta Saham”. Beliau seakan tau betul seluk beluk cara kerja pejabat negara baik dalam tugas pemerintahan maupun dalam menumpuk harta kekayaan. Di dalam pembicaraannya, ada satu hal menarik saya ketika beliau mengatakan bahwa Jokowi akan “jatuh” bila tidak memperpanjang kontrak Freeport.


Woowwww........ siapakah sebenarnya Mohammad Riza Chalid yang sepertinya juga dapat menentukan nasib seorang Kepala Negara RI ??


Terus terang, saya tidak bisa membayangkan tindak tanduk Riza bila “Sang Jenderal” lah yang menjadi Presiden RI saat ini, mengingat si Tukang Minyak ini telah menyalurkan dananya sebanyak Rp.500 M untuk kampanye “Sang Jenderal”.


Riza adalah murni seorang pengusaha minyak konglomerat yang memiliki hubungan baik dengan para pejabat negara untuk melicinkan usahanya. Beliau tidak pernah disumpah jabatan seperti yang dilakukan oleh para pejabat negara saat pelantikan. Beliaupun juga tidak pernah disumpah untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia.


Entah benar atau tidak, minimal Oom Nazar pernah “bernyanyi” bahwa Keluarga Cikeas adalah salah satu penerima aliran “dana haram” dari si Tukang Minyak atas jasa jasanya membekingi bisnis minyaknya.
Namun demikian, saya pribadi bukanlah orang yang mudah percaya dengan suatu berita yang bisa berdampak fitnah. Jadi untuk hal tersebut, saya yakin seluruh rakyat Indonesia sangat berharap Riza bersedia membentangkannya di hadapan MKD atau bilamana mungkin di hadapan Kejaksaan dalam sidang terbuka.


Seandainya Riza sungkan untuk “berkicau” layaknya Cucakrowo, maka saran saya untuk si “Tukang Minyak” tersebut janganlah anda menginjakan kaki di Bumi Pertiwi selama Jokowi masih menjadi Presiden NKRI, karena anda akan ditangkap dengan tuduhan Rencana Kudeta.
Anda juga jangan pernah lagi berkunjung ke Padang – Sumatera Barat, karena anda telah terlanjur mengatakannya sebagai Provinsi Dajjal dihadapan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.
Namun , relakanlah bila pemerintah RI menyita seluruh harta kekayaan keluarga anda termasuk membekukan seluruh rekening bank anda di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dengan demikian anda beserta keluarga akan lebih santai menikmati makan malam di tepi pantai sambil menikmati alunan lagu Four Season-nya Vivaldi.


Rakyat Indonesia sudah tidak sabar menanti akhir cerita dari sinetron “Papa Minta Saham” ini.


Selamat Pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw.

JERIT BATHINKU UNTUKMU PAPUA


 
Kemerdekaan yang dimiliki oleh suatu bangsa semestinya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat bangsa tersebut.


Partai Golkar yang pernah berkuasa selama 33 tahun berturut turut justru menambah penderitaan rakyat Papua, dengan "menjual" kemakmuran rakyat Papua kepada pihak asing.


Semboyan "Suara Rakyat Suara Golkar" hanyalah bagian dari kampanye para rampok uang rakyat. Mereka bekerja keras cuma beberapa bulan setiap 5 tahun untuk memperoleh suara rakyat namun setelah meraih kemenangan mereka akan bekerja keras menimbun harta kekayaan. Peduli setan dengan rakyat kecil yang telah menjadikan mereka pejabat negara.


Ribuan bahkan jutaan ton emas dikeruk dari Tanah Papua selama berpuluh tahun.
Rakyat Papua telah berkontribusi memberikan kekayaan kepada asing dan para koruptor pejabat negara Trilyunan US dollar.

Apa yang didapat oleh rakyat Papua ??
Hanya "Cawat dan Panah" yang tidak berubah sejak Indonesia merdeka 70 tahun lalu.


Papa minta saham, main golf, beli pesawat jet mewah dengan mengorbankan rakyat Papua adalah bentuk penindasan terhadap kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat Papua.


Hati nurani seorang Jokowi memendam tangisan pilu dan melihat semua ketidak adilan ini. Beliau melihat kebiadaban para pejabat negara yang tanpa belas kasih menjadikan Tanah Papua sebagai sumber penghasilan tapi menjadikan rakyat Papua hanya sebagai "kerbau bajak" yang setelah tua dipotong atau dibiarkan mati dengan sendirinya.


Walaupun beliau adalah seorang Kepala Negara namun beliau tanpa malu tanpa sungkan membuka lebar lebar mata hati setiap orang dan mempertontonkan kepada dunia "Inilah Prilaku Biadab Pejabat Indonesia".
Beliau juga rela direndahkan dan disebut sebagai presiden gila, presiden saraf atau presiden koppig.

Sosok Jokowi bukanlah sekedar Kepala Negara RI, melainkan juga seorang Malaikat Pendobrak para pejabat biadab.


Kita semua berharap pemerintahan Jokowi - JK mampu memberikan hasil alam Tanah Papua 100% sepenuhnya hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Papua.


GOD bless Indonesia !!
GOD bless Papua !!


Salam sejahtera selalu.
Raymond Liauw

PERSAHABATAN TIGA WAKIL RAKYAT



Sejak kecil hingga sekarang ini, saya paling suka nonton film action khususnya film perang.

Seperti kisah kisah perang klasik dimana ada sekelompok sahabat yang selalu bersama sejak hari pertama menginjakan kaki di medan tempur hingga perang berakhir.
Ketika pertempuran terjadi, sahabat karib ini saling melindungi dan bila ada salah satu yang kena tembak maka yang lainnya akan membopong teman yang terluka untuk melarikan diri bersama sama. Istilah kampungnya adalah "no one left behind".


Yang paling saya suka di sini adalah mereka rela berkorban demi sahabatnya bahkan mempertaruhkan nyawanya demi membela teman sampai titik darah penghabisan.
Saat mereka berada di medan tempur, mereka seakan tidak lagi mengingat istri dan anak anak mereka di rumah. Mereka juga seolah tidak peduli dengan apa yang sedang dirasakan / dipikirkan keluarganya, sekalipun si istri dan anak anak mereka menangis rindu pagi siang malam.


Terlepas dari masalah yang sedang dihadapi oleh Setya Novanto, saya melihat ada sesuatu yang sangat menarik walau kasusnya berbeda dengan para prajurit pada kisah di atas.

Kita semua dapat melihat hubungan Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Setya Novanto sangat akrab layaknya tiga ulat di satu tangkai. Bahkan ketiganya memenuhi panggilan suci menunaikan ibadah haji ke Mekkah bersama sama.


Secara jujur akan saya katakan bahwa secara pribadi saya salud dengan hubungan persahabatan yang telah mereka jalin begitu kompak dan begitu solid.
Ketiganya juga seakan akan tidak peduli dengan tekanan yang sedang dihadapi oleh istri dan anak anak mereka baik dari sahabat, para tetangga maupun teman sekolah, terutama media massa.


Akankah Fahri Hamzah dan Fadli Zon juga akan mempertaruhkan karir politiknya hingga titik ludah terakhir keluar dari mulut mereka untuk membela seorang Setya Novanto ???

Kisah ini akan menjadi lebih menarik bila Setya Novanto dinyatakan bersalah oleh MKD apalagi sampai dijadikan tersangka oleh pihak Kejaksaan.


Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw