Saturday, January 9, 2016

MENGENANG SOSOK NJOO KIEM BIE



Ketika mendengar nama Rudy Hartono, kita akan langsung mengingatnya sebagai seorang Maestro Bulutangkis pengharum nama Indonesia di mata dunia. Mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui sosok pelatih di balik kesuksesan Rudy Hartono untuk menjuarai tunggal putra 8 kali Piala All England. Sosok pelatih tersebut adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan watak keras dan penuh kedisiplinan.
Beliau adalah NJOO KIEM BIE.

Semasa hidupnya Opa Kiem Bie, demikian kami memanggil beliau, seakan tidak pernah bosan untuk terus berjuang membela nama Indonesia. Prestasi terbesar yang pernah dicapai oleh arek Suroboyo kelahiran tahun 1927 ini adalah berpasangan dengan Tan King Gwan merebut Piala Thomas untuk pertama kali di Singapore pada tahun 1958 dan kembali mempertahankannya pada tahun 1961 di Jakarta.

Di kala memasuki usia pensiun, beliau melatih untuk menelurkan bibit bibit pebulutangkis nasional. Dari kerja kerasnya itu, Opa Kiem Bie juga berhasil membawa nama Alan Budikusuma ke puncak karir dengan meraih medali emas tunggal putra pada Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol.
Selama kariernya, Opa Kiem Bie telah menerima berbagai Piagam dan Penghargaan mulai dari Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer, hingga Presiden IBF Ron Palmer.

Meski sudah memasuki usia uzur beliau tetap mengabdikan dirinya sebagai pelatih bulutangkis dan Dewan Pakar PBSI Jawa Timur, hingga akhir hayatnya.
Opa Kiem Bie bukan hanya telah mengukir sejarah di hati bangsa Indonesia, beliau juga telah mematri cinta kasih yang begitu dalam kepada anak anak dan cucu cucunya.

Walaupun kini Opa Kiem Bie telah tiada namun banyak sekali kenangan yang telah kami lalui bersamanya dan tidak pernah dapat kami lupakan.

Kami semua selalu berdoa untuk (Alm) Opa Kiem Bie dan (Alm) Oma Sing Sioe Chen semoga tenang dan damai di sisi-NYA. Amin.

Mengenang 8 tahun berpulangnya Papa dan Opa kami tercinta, NJOO KIEM BIE ke rumah Bapa di Surga.


Salam sejahtera dan selamat berakhir pekan.
Raymond Liauw

PERLUKAH ADANYA FPI (Front Pembela Islam) ??


Siapa seh orang Indonesia yang tidak mengenal ormas garis keras yang satu ini. Bahkan sepak terjangnya banyak diketahui oleh negara negara tetangga termasuk Australia bahkan Amerika.
FPI adalah ormas yang dibentuk paska tumbangnya Orde Baru sebagai perwujudan "balas dendam" akibat rezim Suharto tidak mentolelir tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun.

Tujuan ormas ini adalah melawan kemaksiatan dengan cara yang lebih kita kenal dengan melakukan sweeping / penertiban. Namun seringkali berbuntut pengrusakan dan kekacauan.
Saya yakin banyak orang yang sudah muak dengan prilaku para anggota FPI yang sering menjurus ke anarkis, bukan cuma saat melakukan sweeping di bulan Ramadhan tetapi juga ketika mereka melakukan aksi demo menentang Gubernur Ahok yang dianggapnya tidak layak memimpin DKI karena Ahok adalah Tionghoa dan Non Muslim.

Saya bukanlah anggota maupun simpatisan FPI, tetapi saya melihat ada hal hal menarik yang sedikit atau bahkan tidak terlalu dipublikasikan oleh media tentang peran baik dari ormas ini. Dengan kata lain, saya melihat adanya pemberitaan media yang berat sebelah karena cenderung mendiskreditkan FPI.

Para anggota FPI telah banyak berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti mendirikan posko posko bantuan saat terjadi Tsunami Aceh, banjir Jakarta, bantuan untuk pengungsi Rohingya...... saya yakin masih ada lagi.

Untuk skala internasional, FPI juga telah mnyumbang milyard-an rupiah untuk rakyat Gaza, Palestina yang berarti mereka bukan hanya membantu saudara Muslim di sana tetapi juga membantu para pejuang Kristiani dan Yahudi Palestina melawan penindasan zionis tentara Israel.
Ketika reputasi Polri sedang terpuruk, tiba tiba mereka berhasil melacak dan menemukan sarang gembong teroris. Kalian bertepuk tangan menyanjung Polisi dan menyebut mereka sebagai pahlawan.

Hhmmm.......
Tidakkah kalian terlalu cepat hanya melihat hasil akhir ??
Apakah kalian tidak berpikir, dalam suatu penyelidikan memasuki wilayah preman juga sebaiknya menggunakan preman ?? dan bukan menggunakan seragam perlente.
Tidakah kalian memperhitungkan kontribusi ormas garis keras seperti FPI dalam mengungkap suatu kasus teroris di dalam negeri ??
Hal ini tidak pernah diberitakan / diekspose oleh media massa. Apalagi menyebut FPI sebagai pahlawan ketika berhasil melacak dan menyusup ke sarang persembunyian teroris.
Yang kita tau hanyalah berita pagi berjudul "Sarang Penyamun Berhasil Digrebek, 3 Penyamun Tewas".

Bila anda berpikir bahwa saya meremehkan kemampuan Polisi untuk mengungkap kasus teror tersebut, anda salah.
Sebaliknya, menurut saya justru itu adalah suatu cara yang cerdik menanggapi buah matang di bawah sedangkan orang lain yang memanjat pohonnya.
 Namun suatu hal yang pasti adalah bukan lagi rahasia bahwa FPI didanai oleh Polri dan BIN sebagaimana Yahya Assegaf seorang senior anggota BIN dalam suatu wawancara pernah menyatakan bahwa FPI sangat dibutuhkan sebagai "attack dog".

Janganlah heran bila banyak prilaku para angota FPI yang nyata nyata melanggar hukum tetapi seolah olah didiamkan atau mungkin mendapat "restu" dari pihak penegak hukum. Justru itulah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh "pelatih" agar persepsi orang terhadap FPI adalah brutal anarkis bertameng agama.
 Sebelum kalian menjawab pertanyaan apakah FPI dibutuhkan oleh rakyat Indonesia, maka jawablah dulu pertanyaan Masihkan Polri dan BIN membutuhkan FPI di lapangan sebagai "anjing pelacak dan penyerang" ??

Dengan mengibaratkan FPI adalah
Sekelompok anjing liar yang diadopsi, diberi makan dan dilatih menjadi serigala untuk membantu tugas negara selama belasan tahun.
Si Pelatih dan Pemelihara FPI memang sengaja membuat buruk wajah FPI ternyata berhasil membuat kebanyakan orang membenci FPI. Semakin buruk wajah FPI maka semakin berhasil si Pelatih dan Pemelihara.

Bagaimanapun pembubaran ormas yang satu ini memerlukan konsolidasi dengan pihak terkait yang membutuhkannya dan mungkin cara "pelatihan" dapat dirubah agar tidak terlalu terkesan anarkis. Misalnya FPI diminta untuk bekerja sama dengan banser NU atau membantu Ahok membersihkan sungai / jalanan atau apapun kegiatan yang menimbulkan rasa simpati masyarakat kepada mereka. Kegiatan simpati tersebut harus dilakukan terus menerus, bukan cuma sekali dua kali, tetapi dijadikan kegiatan rutin.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya turut berduka cita atas berpulangnya Habib Selon kepada Sang Pencipta.
Semoga amal ibadah beliau diterima Allah.
Kepada keluarga, saudara dan kerabat yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.
Hanya kepada-NYA kita semua akan kembali. Aamiin.


Salam damai dan sejahtera.

TAMPARAN KEPADA PARA INTOLERANT DAN DUNIA


Seminggu sebelum hari raya Natal, kita disuguhi sebuah kabar gembira dimana Miss Indonesia, Maria Harfanti berhasil meraih juara ke-3 Miss World 2015 di Sanya, China yang diikuti oleh 114 kontestan dari berbagai negara. Suatu prestasi yang sangat mengagumkan.

Ketika namanya disebut sebagai pemenang ke-3 pada ajang kompetisi dunia ini, Maria dengan tawanya yang ceria melangkah anggun sambil membuat tanda salib sebagai simbol puji syukur dan kemenangan seorang Katholik.

Secara pribadi dan sebagai seorang Katholik, saya melihat ada pesan yang disampaikan oleh Miss Indonesia tersebut bukan cuma untuk rakyat Indonesia tetapi juga untuk masyarakat dunia.
Sudah tentu sebagai wakil dari Indonesia, saya dapat bayangkan bagaimana pribadi Maria bangga sekali menjadi seorang wanita yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, walaupun dia penganut agama minoritas Katholik. Untuk menjadi seorang popular, Maria tidak menjual keimanannya, seperti yang banyak orang lakukan demi harta, jabatan dan ketenaran. Hal ini mengingatkan saya kepada sosok Ahok yang diminta untuk mengubah keimanannya menjadi seorang muslim oleh Adhyaksa Dault supaya Ahok kembali terpilih menjadi Gubernur DKI, tetapi permintaan tersebut ditolak oleh Ahok.

Untuk apa berpura pura menjadi seorang muslim bila bertujuan untuk memperoleh kemewahan duniawi ??
Manusia dapat dibohongi dan dibodohi, tetapi Allah dapat melihat bersih atau kotornya isi hati kita. Bukankah sudah banyak pejabat negara yang menjual keimanannya berpura pura memperoleh hidayah tetapi akhirnya terbukti keburukannya, seperti pelaku utama sinetron Papa Minta Saham.
Saya percaya bahwa hidayah adalah milik Allah, jadi hidayah bukan untuk dimain mainkan apalagi dipaksakan hanya untuk mencapai kepuasan duniawi.

Saya yakin puluhan juta pasang mata yang menyaksikan acara penobatan pemenang Miss World 2015 tertegun melongo melihat Maria Harfanti dari Indonesia tampil maju dengan tanda salibnya.
Di antara mereka mungkin berkata “Am I seeing what I'm seeing ??” atau mungkin sambil makan popcorn mereka juga saling bertanya “Is she Indonesian ?? I thought Indonesia is muslim country”.
Maria Harfanti telah “menampar” masyarakat negara barat yang selama ini selalu mencap Indonesia sebagai negara muslim yang para intolerant-nya sering melakukan tindakan anarki / kekerasan terhadap kaum minoritas.

Maria telah membuktikan dan menunjukan bahwa dia bangga sebagai orang Indonesia beragama minoritas Katholik.
Maria juga telah membuktikan kepada masyarakat dunia bahwa rakyat Indonesia tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Apalagi mereka yang tinggal di negara negara yang selama ini pemerintahnya selalu mengeluarkan travel warning to Indonesia.

Belum lagi hilang dibicarakan orang, seminggu kemudian dunia maya dan media Indonesia pun dibuat geger dengan semakin banyaknya umat Muslim yang secara terang terangan tanpa malu tanpa sungkan tanpa takut mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Bahkan sekelompok umat muslim turut menghadiri perayaan Natal di gedung gereja, walaupun masih ada sebagian intoleran yang meng-haram-kan mengucapkan Selamat Natal dengan berbagai alasan.

Yang lucunya, ada sebagian intoleran yang mengancam Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk tidak masuk ke gedung gereja untuk mengucapkan Selamat Natal. Namun, ancaman tersebut dianggap hanya angin lalu oleh orang nomor satu di Kota Kembang itu yang tetap hadir di gereja bersama umat Kristiani.

Pihak asing yang tidak suka dengan ketentraman dan yang ingin mengobok obok kerukunan agama di Indonesia harus bekerja lebih keras dan berpikir berulang kali. Paling tidak, mereka akan bekerja sama dengan para intoleran lokal yang kini hanyalah sekelompok nyamuk di selokan yang lari terbirit birit ketika mencium asap racun anti serangga.

Kami umat Kristiani benar benar merasakan begitu indahnya jalinan persaudaraan antar umat beragama di Indonesia.

Natal bukanlah sebuah pesta hura hura dengan berbagai atribut pohon cemara, sinterklas, boneka, salju, apalagi bermabuk mabukan dan pesta sex.
Arti Natal yang sebenarnya adalah bentuk sebuah kesederhanaan dan cinta kasih yang mampu untuk tetap hidup di tengah tengah ketidakadilan dan penindasan.
Spirit Natal yang sesungguhnya tidak hanya dirayakan setiap tahun sekali, melainkan harus ada di hati kita setiap hari dan setiap saat.


Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw.

KETIKA NATAL TIDAK DIANGGAP HARAM


Almarhum Yasser Arafat adalah seorang tokoh pemimpin PLO yang penuh karisma bukan hanya karena perjuangannya untuk mencapai Palestina merdeka tetapi juga perannya dalam mempersatukan umat Muslim, Kristiani dan Yahudi di Palestina.
Beliau telah menunjukan pribadinya sebagai seorang Muslim yang rendah hati dan penuh cinta kasih terhadap sesama.
Setiap tahun beliau bersama istrinya yang bernama Suha seorang wanita Nasrani selalu menghadiri upacara perayaan Natal di gereja.
Beliau tidak pernah merasa haram untuk mengucapkan selamat Natal bahkan mengikuti misa gereja di hari Natal.
Salud untukmu Mr. Arafat. Semoga arwah anda tenang di Surga. Aamiin.

Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

MENYAMBUT TERANG


mendung belum berlalu
rintik hujan terus mengguyur
desah pertempuran
napas pembantaian
mayat hangat masih memuat berita pagi
iblis sorak bernyanyi
meratap jerit tangis wanita dan bayi

mereka selalu menyuruh sabar
terlalu banyak kata berbasa basi
aku tau harus sabar dan akupun juga sedang menanti
entah kapan derita dunia berakhir
asaku bergayut di ujung jari
imanku menanti Raja Damai turun ke bumi


SELAMAT HARI NATAL 2015.
KASIH-NYA TIADA AKHIR.

Sunday, December 20, 2015

LENTERA KASIH (Cerita Pendek)




Jauh di dalam hutan, sekelompok orang terengah engah. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu bayi. Wajah wajah mereka terlihat pucat pasi penuh ketakutan berharap memperoleh perlindungan.

Tiba tiba............. bruk.......... salah seorang diantara mereka terjatuh.

Kalian boleh melanjutkan biarlah aku di sini. Aku sudah tidak kuat lagi untuk terus berlari” ujar Suminah meringis kesakitan.
Ayo mbakyu biar ku gendong. Kamu pasti kuat dan kami tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini” sahut Karso.
dik Karso, aku benar benar sudah tidak sanggup lagi. Larilah bersama bayi kalian dan aku titipkan kedua anakku ini kepada kalian” lirih Suminah.

Bersamaan dengan itu, kedua anak remajanya berlari ke arahnya dan memeluknya “Ibu jangan berpisah dengan kami. Ayah sudah tiada dan kami tidak ingin kehilangan ibu juga”.

Tiada terbendung tangis pilu mereka sambil berpelukan. Namun, tidak ada lagi yang dapat mereka perbuat selain meninggalkan Suminah terkulai lemah menghembuskan napas terakhirnya dengan darah yang terus mengucur dari punggung dan lambungnya.


Tiga bulan sebelum semuanya itu terjadi.


Di sebuah ruang, dua orang sedang membicarakan suatu hal. Yang satu berkulit sawo matang lengkap dengan pakaian angkatan daratnya. Sedangkan satunya lagi berkulit putih berambut pirang. Pembicaraan empat mata ini sepertinya serius sekali.


Ketika beliau berkunjung ke Washington, boss saya sudah berusaha membujuknya untuk bekerja sama namun sepertinya beliau sangat keras kepala dan arogan. Kini beliau malah merangkul si beruang bersama tirai bambu” ucap si pirang dengan ekspresi wajah penuh kejengkelan.

Kami juga tau bahwa negara anda belum lama merdeka tapi kami tidak ingin paham komunisme mencengkram negeri ini” tambah si pirang yang juga merupakan seorang diplomat yang diutus oleh petinggi Washington.


Kolonel AD tersebut menarik napas dalam dalam lalu dengan senyuman khasnya dia berkata “Kharisma beliau begitu besar sehingga seluruh rakyat di negeri ini menganggap beliau lebih dari seorang pemimpin. Begitupun dengan para Jenderal di negeri ini sangat loyal terhadapnya. Saya harap Washington dapat lebih bersabar”.


Dahi si pirang berkerut kemudian memanggut manggutkan kepalanya “Kami yakin anda dapat melakukannya dan kami juga akan meyakinkan para wartawan asing untuk berpihak kepada anda”.


Sementara itu, di sebuah desa kecil dimana masyarakatnya adalah para keluarga petani miskin yang hanya memiliki sepetak atau dua petak sawah dengan rumah berbilik bambu berlantai tanah. Keceriaan yang tampak pada para keluarga petani tersebut menunjukan suka cita dengan apa yang mereka miliki.


Pasangan suami istri Hasan dan Suminah memiliki dua anak lelaki Agus berusia 12 tahun dan Bejo adiknya yang masih berusia 10 tahun. Keluarga ini sangat soleh dan taat menjalankan perintah agama.

Mereka memiliki tetangga, pasangan Karso dan Suryati yang baru saja dikarunia seorang bayi perempuan yang diberi nama Suci.


Mas Hasan, apakah tadi siang ada orang yang datang menawarkan bibit ikan lele dengan harga murah ?” tanya Karso sambil menikmati secangkir kopi.
Iya tuh tapi aku tidak tau dia datang dari desa mana. Dia bilang bibit lelenya dari partainya untuk membantu para petani” sahut Hasan. “Aku tidak peduli mereka dari partai mana yang pasti mereka baik terhadap kita, jadi aku beli saja bibitnya” tambah Hasan dengan memainkan kepulan asap rokok dari celah bibirnya.

Oh.... gitu yah, Mas” Karso mengangguk anggukan kepalanya penuh keraguan.


Seminggu kemudian, sekelompok orang berwajah garang mendatangi Hasan yang baru saja selesai makan siang bersama isti dan kedua anaknya.

Heiii..... kamu Hasan anggota partai arit yah ?!!” bentak seorang bercelana hitam cingkrang.
Oleh karena tidak mengerti apa yang ditanyakan, Hasan menjawabnya dengan gugup “Ampun pak.... apa ? Partai apa, pak ? Aku tidak tau apa apa tentang partai, pak”.
Kamu yang membeli bibit lele minggu lalu itu kan ?” bentaknya lagi
I....i...iya bet...bet....betul aku beli bibit lele murah minggu lalu ta....ta.....tapi aku tidak tau partai, pak” jawab Hasan semakin gugup.

Tetapi, orang orang tersebut semakin beringas dan salah seorang diantaranya mengayunkan parang tepat menghantam tempurung kepala Hasan yang langsung ambruk bermandi darah, disaksikan oleh mata kepala istri dan anak anaknya.


Langsung saja Suminah bersama Agus dan Bejo berteriak teriak histeris, sedangkan orang orang ganas tersebut sudah bersiap akan membantai mereka.


Kegaduhan yang terjadi membuat Karso dan Suryati yang sedang menyusui bayinya keluar rumah. Karso yang dikenal banyak orang karena memiliki keahlian bela diri itu menghajar orang orang ganas tersebut. Dari tujuh orang enam diantaranya terkapar tak berkutik, sedangkan satunya lagi berhasil melarikan diri.


Para tetanggapun segera berdatangan ingin melihat apa yang telah terjadi pada kedua keluarga ini.


Lebih baik kalian secepatnya pergi dari sini sebelum mereka datang kembali” ujar Pak Zainal yang berada di antara kerumunan.

Kemarin juga terjadi hal serupa di desa seberang hanya gara gara membeli bibit lele dari orang yang sama dari partai arit. Jangan jangan mereka juga akan menghabisi orang orang di desa kita yang minggu lalu membeli bibit lele murah” sambung Pak Zainal.

Iya betul. Aku juga kemarin dengar berita katanya mereka juga menculik para Jenderal” sahut seorang warga.


Tiba tiba seorang anak berlari menghampiri kerumunan sambil teriak teriak “Pak.... mereka datang bawa bedil.... mereka datang bawa bedil..... Pak.... mereka datang bawa bedil....” kata kata itu diulang terus menerus.


Kontan saja warga berhamburan menyelamatkan diri, tanpa terkecuali Suminah bersama kedua anaknya, juga Karso dan Suryati dengan bayinya.

 
Sekelompok orang bersenjata seperti orang kesurupan membabi buta menembaki para warga desa, sambil berteriak teriak “bantai mereka......... bantai orang orang partai arit..... bantai mereka..........”.

Malang bagi Suminah sebuah peluru menembus punggung dan sebuah peluru lainnya menyerempet lambung kirinya.


Demikianlah awal pelarian kedua keluarga tersebut.


Bermandi air hujan dan makan minum seadanya. Mereka sendiri tidak tau apa dosa mereka hingga mereka diburu seperti binatang. Beberapa kali dalam pelariannya mereka menemukan desa, tetapi mereka selalu berbalik arah menjauhi desa desa tersebut.

Entah berapa tahun lamanya mereka berlima hidup di tengah hutan seolah terputus dari dunia luar sambil mencari waktu yang tepat untuk kembali ke lingkungan masyarakat.


Pembantaian terhadap orang orang desa yang polos dan lugu terus berlangsung. Orang orang bersenjata mengadili mereka dengan cara yang tidak jelas. Bangkai manusia bergelimpangan di sungai, di rawa, di kebun, maupun di sawah tanpa proses pengadilan bersalah atau tidak. Puluhan ribu nyawa menjadi korban kekejaman dunia politik.

Teriakan mereka terlalu lemah untuk didengar. Kulit mereka terlalu tipis untuk menahan timah panas dan tajamnya parang. Rentetan tembakan terdengar siang malam tanpa peduli suara azan.

Kebiadaban bukan lagi celoteh burung di pagi hari, tetapi sudah melanda seluruh negeri. Dimanakah Tuhan ?? Apakah DIA akan menurunkan bantuan ??
Tak terdengar jawaban. Sedangkan genangan darah dan tangis pilu terdengar hingga ke ujung dunia.


Saya tidak dapat memberikan apa apa atas jasa negara anda yang telah membantu saya menjadi pemimpin negeri. Namun, satu hal yang pasti bangsa ini membutuhkan negara anda untuk mengelola bumi kami dan anda boleh memulainya dari ujung timur negeri ini” ujar seorang Kolonel AD kepada seorang berambut pirang yang sebelumnya pernah saling bertemu.


Tuan Kolonel, bolehkah saya tau apa sebenarnya yang terjadi di negara anda dua tahun lalu ? tanya si pirang perlahan dengan sangat hati hati.
Suatu bencana yang tidak pernah diharapkan oleh Washington” sambungnya.


Sang Kolonel memalingkan wajahnya menatap hamparan padi menguning di hadapannya, lalu berkata “Layaknya sebuah perlombaan panjat pinang. Tubuh kita perlu dilumuri dengan debu kotor untuk mencapai puncak dan membersihkan semuanya”.


Tanpa terasa, lima puluh tahun kejadian brutal dan barbar tersebut telah berlalu.


Selepas menunaikan sholat magrib, dua orang kakak beradik yang sangat soleh bersama istri dan anak anak mereka mengunjungi sebuah keluarga untuk makan malam bersama.


Pak de dan Bu de bangga dengan kalian berdua. Pak de juga yakin kedua orang tua kalian di alam sana bangga sekali dengan kalian” ujar seorang kakek yang ternyata adalah Pak Karso yang usianya kini sudah mendekati kepala delapan, duduk di sebelahnya istri tercinta bu Suryati dan putri tunggalnya, Suci yang kini juga telah memiliki dua orang anak.


Ketika masih di desa dulu, Pak de dan Bu de mu ini satu satunya keluarga Kristiani. Setiap hari Natal, hanya keluarga kalianlah yang mengunjungi kami” sambung Pak Karso.

Hingga kini kalian masih tetap mengunjungi kami” suara serak Pak Karso mulai terdengar terputus putus menahan linangan air matanya. Demikian pula dengan bu Suryati yang terlihat kian renta menangis dan memeluki mereka satu persatu sejak mereka datang tadi.


Pak de Karso dan bu de Suryati sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri, juga dik Suci sudah seperti adik kandung kami” ucap Agus.

Kami tidak pernah lupa saat saat indah di desa, dan hari Natal adalah hari yang selalu kami nantikan untuk berkumpul bersama” sahut Bejo yang tak tahan lagi menitikan air matanya.


Agus dan Bejo menghampiri dan memeluk pak Karso dan bu Suryati “Selamat Natal Pak de Bu de, Semoga kasih Yesus Kristus selalu menyertai kita semua”.


Malam itu begitu cerah. Kemerlap bintang menerangi bumi menyambut lahirnya Sang Juru Selamat di kota Bethlehem.


Kita semua hanyalah pengembara. Melintasi jalan berdebu, mendaki bukit kerikil batu. Kidung kidung-Nya begitu sejuk lembut menerangi jalan setapak, layaknya lentera api yang tak pernah pudar membimbing kita untuk menjadi pemenang.



Salam sejahtera dan sehat selalu.
Selamat Natal untuk semua sahabat yang merayakannya.
Raymond Liauw.

SN ku Malang, JK ku Senang, dan LP ku Melintang




Kesuksesan Riza Chalid dalam menjalankan bisnis minyaknya bukan terjadi secara mendadak seperti orang yang baru saja memenangi Mega Million lottery. Salah satu faktor yang mendukung adalah kepiawaiannya menjalin dan menjaga hubungan baik dengan penguasa dan para penegak hukum di Indonesia.


Dalam rekaman “Papa Minta Saham”, nama Luhut Panjaitan disebut puluhan kali. Bahkan, pembicaraan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga yang mendengarnya dibawa ke opini bahwa LP adalah kunci penghubung antara pihak istana dengan pihak Freeport.


Terus terang, satu hal yang saya sangat suka dengan pribadi Luhut adalah gaya bicara beliau yang ceplas ceplos seakan menyatakan beliau tidak suka menyembunyikan “sesuatu”. Bahkan beliau menantang MKD untuk segera memanggilnya dengan melakukan sidang terbuka, namun oleh karena sikap MKD selalu 'belet' mengulur waktu, LP tidak sabar kemudian membuka konference dengan mengundang para wartawan dan anggota MKD.


Ketegasan dan sifat jantan LP terlihat sejak masa kampanye mendukung Jokowi, bahkan rela meninggalkan partai Golkar padahal saat itu posisi beliau adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, posisi yang sangat strategis dan dihormati semua kader Golkar.

Rasa patriotisme dan nasionalisme LP yang juga seorang politikus dan kini menjabat sebagai MonkoPolkam tidak perlu diragukan lagi.


Tidak ada peraturan undang undang negara Indonesia yang melarang seorang pejabat negara untuk memiliki usaha pribadi. Demikian juga halnya dengan LP yang sejak tahun 2004 mendirikan PT Toba Sejahtera yang bergerak di bidang batu bara dan pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik swasta, serta perkebunan dan kehutanan. Perusahaan beliaupun dikabarkan sering bekerjasama menggarap proyek dengan perusahaan milik Aburizal Bakri.


Setelah saya mendengarkan konferensi pers yang dilakukan oleh LP, ada hal yang menarik perhatian saya. LP mengatakan “.......bila kita berteman janganlah cuma saat senangnya saja........”. Pernyatan dari seorang Purnawirawan Jenderal AD yang pernah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk NKRI di tanah Timor Timur sangatlah menampar mereka yang memiliki kebiasaan hanya memanfaatkan teman saat bersenang lalu meninggalkannya saat si teman sedang dalam kesusahan.


Mungkinkah itu adalah sebuah sindiran telak dan keras kepada seorang petinggi negara lainnya yang juga seorang pengusaha dan kini merangkap sebagai Wakil Presiden ??


Nama seorang JK bukanlah baru di dunia perpolitikan. Ketika beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum Golkar, beliau bersama bersama beberapa fungsionaris Golkar lainnya memberikan penghargaan Widya Bhakti Karya Pratama kepada mantan penguasa rezim Orde Baru, Suharto padahal apa yang dilakukannya tersebut adalah terang terangan bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia yang telah muak dengan Sang Diktator kurup.


Sedangkan di dunia bisnis nama JK sudah tak asing lagi dengan kelompok Kalla Group.

Kemahiran seorang JK berdiplomasi dan melakukan pendekatan dengan segudang pengalaman di bidang politik dan bisnis telah memincut hati Megawati memasangkannya dengan Jokowi, sehingga membuat JK menyandang posisi Wakil Presiden RI sebanyak dua kali.


Menurut logika saya, sangatlah mustahil bila seorang JK yang pernah menjadi Ketua Umum Partai tidak mengetahui “permainan kotor” para petinggi partainya untuk mengeruk uang negara.

Perlu diingat bahwa sebagian uang haram yang diperoleh para kader partai harus disetorkan ke partai untuk menunjang kelangsungan hidup partai terutama digunakan untuk pilkada atau lebih lebih extremnya untuk pemilu. Kalau cuma mengandalkan gaji pokok, bagaimana bisa melakukan setoran wajib ke partai ?? dan bagaimana mungkin parta bisa berkembang ??


Memanglah benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa untuk berhasil dalam politik harus pintar memainkan drama sinetron.


Berulang kali LP mengakui memiliki hubungan baik dengan Riza dan SN walau hanya sebatas teman usaha. Beliau juga dengan lantang mengatakan bahwa kasus Freeport adalah kasus wajar dan tidak perlu dibesar besarkan dengan alasan pemberian saham Freeport sebesar 20% adalah suatu hal aneh.

Saya setuju dengan logika Luhut Panjaitan bahwa yang berhak memberikan saham Freeport secara gratis adalah komisioner Freeport yang tentunya harus melalui rapat para pemegang saham di US, apalagi jumlahnya tidak tanggung tanggung 20%.


Namun, satu hal yang LP tidak sebutkan di muka publik adalah Sarana Pendukung yang akan menghasilkan uang haram dimana para pejabat koruptor “memaksa” Freeport membeli jasa mereka dalam bentuk kerja sama Sarana Pendukung untuk kegiatan Freeport di tanah Papua.

Bukankah LP sendiri yang mengakui bahwa pada pertemuan bulan April 2012 LP diajak oleh CEO Freeport - Jim Bob untuk kerjasama dengan Freeport ?? walaupun akhirnya dibatalkan.

Bila Freeport dapat meraup keuntungan Milyard-an US dollar, sepertinya tidak ada alasan bagi Freeport menolak untuk memberikan 20% saham kepada para penegak hukum koruptor di Indonesia daripada harus hengkang dari bumi pertiwi.


Muncul pemikiran seekor udang dari balik karang. Apakah dengan gaya bicara ceplas ceplosnya kini LP malah sedang menutupi “sesuatu” ??


Dengan terkuaknya kasus yang melibatkan juragan minyak Riza Chalid yang telah menjalankan bisnis dan menjalin hubungan baiknya dengan Keluarga Cendana sejak puluhan tahun lalu dan terus berlangsung hingga kini telah membuat para petinggi partai dan pejabat beserta mantan pejabat negara merasa ketar ketir dan blingsatan mencari lubang jendela menghindari pengapnya ruang gerak.


Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Kesalahan seorang SN yang terlalu sembrono memainkan perannya sungguh nikmat dan gurih untuk dikunyah oleh JK, apalagi sebagian besar rakyat Indonesia telah “menghakimi” SN sebagai calon terpidana.


Sejauh mana keterlibatan SN, JK dan LP yang ketiganya berasal dari Partai Golkar dalam kasus Freeport ??


Saat ini hanya mereka yang terlibat yang tau jawabannya, sedangkan rakyat Indonesia masih dipaksa untuk tetap sabar menikmati sinetron sampai kisahnya tamat atau mungkin kelak juga dipaksa untuk menggigit jari saat kasus ini dipeti-es-kan.



Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw.