Sunday, January 31, 2016

MENGORBANKAN KELUARGA DEMI "PELAYANAN DOA" ??



Setiap hari seseorang menulis renungan ayat ayat suci di halaman FB. Setiap hari pula dia adu argumentasi dengan mereka yang tidak seiman atau tidak sejalan dengan pikirannya.


Demi memposting tulisan tulisan nya di FB, dia rela mengeluarkan uang Ratusan Ribu Rupiah setiap bulan untuk membeli pulsa hand phone.

Dia merasa apa yang dilakukannya adalah sangat mulia dan merasa bangga disanjung oleh para pembaca dan sahabat sahabat dunia maya nya.


Namun, satu hal penting yang dia lupa bahwa istri dan anak anaknya sedang mengharapkan perhatian lebih darinya. Istrinya bahkan selalu bingung dan kecewa tidak tau mau makan apa hari ini karena tidak punya uang untuk membeli sayur dan makanan.


Kisah di atas bukanlah sebuah dongeng sebelum tidur, bukan pula kisah fiksi di theater atau majalah.

Kisah di atas tersebut juga mengingatkan saya pada seorang sahabat saya yang sering keluar kota berhari hari bahkan berminggu dengan alasan melakukan "Pelayanan Doa" bersama group di gerejanya. Sedangkan istrinya dibiarkan pontang panting bekerja merawat dan menghidupi kedua anaknya.
Menegur suami hanya akan memperkeruh suasana. Seakan hilang keharmonisan dalam rumah tangga mereka.


Bila anda dihadapkan pada situasi seperti kedua kisah nyata di atas, Apakah anda juga akan mengorbankan / menelantarkan keluarga anda demi melalukan "Pelayanan Doa" untuk orang lain ??

Bukankah membahagiakan istri dan anak adalah salah satu tujuan kita berumah tangga.


Salam sejahtera selalu.
Raymond Liauw

AHOK MENGANGKAT ORANG MISKIN melalui DUNIA PENDIDIKAN




Salah satu keuntungan bagi kami yang tinggal di US adalah memperoleh pendidikan (Public School) secara gratis dari tingkat Pre-K hingga lulus SMA.


Ketika pertama kali saya melakukan survey untuk membeli rumah di LA tahun 2003, saya perhatikan bahwa harga rumah di daerah yang distrik sekolahnya bagus ternyata lebih mahal dibanding rumah yang distrik sekolahnya tidak bagus.


Pada kenyataannya, banyak orang kaya di US yang ingin mengirim anaknya sekolah di Public School.
Setiap mereka yang memiliki rumah dikenakan School Tax (pajak sekolah) yang dimasukan ke dalam Property Tax (pajak rumah), tanpa peduli apakah mereka punya anak atau menyekolahkan anaknya di Public School.


Sedangkan orang orang yang memilih untuk menyewa rumah atau menyewa apartment, tidak dikenakan School Tax tetapi tetap bisa menyekolahkan anaknya di Public School sesuai dengan distrik dimana mereka tinggal.


Sayangnya di US tidak ada yang kuliah gratis kecuali mereka yang mendapat bea siswa penuh dari pemerintah karena prestasi (itupun jarang ada / tidak banyak). Akibatnya, banyak anak di US yang putus sekolah setelah lulus SMA karena tingginya biaya kuliah. Biasanya para mahasiswa di US meminjam uang dari pemerintah lalu mengembalikannya setelah lulus dan memperoleh pekerjaan.


Melihat rencana Gubernur Ahok ingin meneruskan penerima KJP dibiayai hingga kuliah, saya merasa bahwa warga DKI sangat beruntung dan terberkati terutama mereka yang sangat antusias dan menginginkan anak anaknya berhasil di dunia pendidikan demi masa depan mereka. Apalagi mereka yang bukan berasal dari keluarga mampu atau pas pasan.


Kalau pemikiran saya benar, maka saya tidak akan heran bila Pemda DKI akan menaikan pemungutan Pajak Bangunan (rumah dan ruko) karena sebagian hasil dari penerimaan pajak tersebut akan digunakan untuk subsidi anak sekolah dari SD hingga Universitas.


Para orang kaya (menengah dan menengah ke atas) akan "dihajar" saat membayar Pajak sedangkan mereka yang menengah ke bawah akan diuntungkan dan "diangkat" melalui KJP ini.


Mereka yang berekonomi menengah ke bawah memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi.
Jadi untuk ke depannya tidak ada lagi orang miskin di DKI yang bilang tidak bisa kuliah setelah lulus SMA dengan alasan tidak punya uang. Kecuali mereka yang mencuri uang KJP untuk beli motor atau gonta ganti HP maupun perlengkapan alat make up.

GOD bless DKI Jakarta
GOD bless Indonesia


Salam sejahtera dan damai selalu.
Raymond Liauw

PELACUR dan "WANITA EMAS"



Politik uang bukanlah barang baru terutama setiap kali menjelang Pemilu dan Pilkada.


Seorang pelacur secara terang terangan melanggar perintah agama manapun dengan menjajakan dirinya.
Mereka membanting harga diri mereka demi memenuhi kebutuhan hidup dan susu formula bayi mereka. Adapula diantara mereka yang hanya ingin menikmati glamornya dunia.
Apapun alasannya, tanpa rasa munafik mereka tidak malu menjajakan tubuh mereka ke para pria hidung belang. Mereka tidak menjual ayat suci.


Berbeda dengan seorang wanita yang dijuluki sebagai "Wanita Emas" yang ingin terlihat sebagai wanita solehah tampak sangat anggun layaknya putri keraton dengan kerudungnya. Lelaki hidung belangpun rasanya gemes dengan gaya dan tutur bahasanya yang luwes kemayu.
Namun sangat disayangkan, demi mencapai ambisinya untuk menjadi seorang pejabat publik dia melakukan apa saja sekalipun apa yang dibenci oleh masyarakat pintar malah sengaja dilakukannya. Atau mungkin juga memang dia tidak memiliki otak pintar sehingga dia melakukannya.


Sadar atau tidak sadar si "Wanita Emas" telah "Melacurkan" akhlak dan harga dirinya sendiri dengan menganggap rendah dan menghina martabat para orang miskin.
Dia berpikir bahwa harga martabat orang miskin hanyalah seharga selembar uang 5 ribu perak dan sembako lalu bersedia memilihnya sebagai pemimpin mereka.
Dengan caranya tersebut, dia secara langsung pula telah mengajarkan orang miskin untuk menjadi pengemis tanpa bekerja.


Mungkin setelah acara bagi bagi uang selesai si "Wanita Emas" langsung cepat cepat ke salon untuk mandi susu gara gara naik bajaj dimana selama di dalam bajaj dia menikmati vibration alias getaran bangku bajaj yang tepat di bawah pantatnya sambil merem melek meresapi khayalannya.......


Jangan anda pikir harkat martabat orang miskin lebih rendah daripada anda yang merasa orang kaya.

Tetapi yang pasti adalah harga diri seorang pelacur lebih tinggi daripada harga diri anda walaupun anda dipanggil sebagai "Wanita Emas" dan berteman dengan seorang "Pangeran".

Saya usulkan ibu ganti julukan menjadi "Wanita Goceng".


Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw.

KAUL SUCI YANG TERKHIANATI



Untuk kesekian kalinya rumah kami didatangi oleh para “pekerja ladang Tuhan”. Ketika pintu saya buka, mereka dapat melihat langsung ke dalam dan tepat di atas tungku api rumah kami terpampang kayu salib dimana “seseorang” tergantung, yang menyatakan bahwa kami adalah keluarga Katholik. Melihat dari penampilannya mereka sangat sopan dan ramah. Seperti biasa, sebelum pergi mereka memberikan selebaran sekaligus mengundang kita untuk datang ke gerejanya. Perlu digaris bawahi bahwa mereka siap membantu kita dalam bentuk apapun termasuk mencarikan pekerjaan bahkan hingga masalah financial.


Saya salud dengan kesabaran dan keuletan mereka yang tetap datang walau kami tidak tertarik. Bahkan terkadang orang yang datang adalah orang yang sama. Saya tidak heran bila ada Pendeta yang menggunakan harta kekayaannya untuk mempromosikan gerejanya untuk menarik orang banyak datang. Mungkin juga itu adalah salah satu cara Tuhan menggunakan kemewahan dunia melalui Sang Pendeta dan pengikutnya agar banyak orang beribadah, meninggalkan perjudian, pelacuran atau segala macam bentuk kemaksiatan.


Perlu diingat bahwa Tuhan dapat menggunakan segala apapun dalam misinya sekalipun Tuhan dapat menggunakan orang jahat untuk “menyembuhkan” kita.
Yang konyol tuh seandainya mereka ingin membantu kita tetapi kita wajib menjadi pengikutnya.


Bagi umat non-Kristiani mungkin akan berpikir, sesama pengikut Yesus (Nabi Isa) semestinya tidak apa apa bebas pergi ke gereja manapun. Apalagi ada lagu yang liriknya bilang “...Ku tak tau kau dari gereja mana…. Asalkan beralaskan Kristus…. Engkaulah saudara saudariku…. Marilah kita bekerja sama…. Hallelujah Halelujah…. Bla bla bla bla……”.


Umat Katolik mengakui bahwa para Paus sebagai pengganti Santo Petrus yang menurut ajaran Gereja Katolik telah dijadikan "gembala" oleh Yesus dan "batu karang" dari Gereja Katolik. "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Matius 16:18-19).


Dalam perjalanan sejarah Katholik, Reformator Protestan mengkritik kepausan sebagai institusi yang korup dan mengkarakterkan paus sebagai seorang anti-kristus. Para Protestan juga berargumen bahwa ”batu” yang dimaksud ialah Yesus sendiri ataupun kepercayaan atau iman dari Petrus.


Pada tulisan ini, saya tidak tertarik memperdebatkan masalah di atas (Katholik vs Protestant), karena dalam kenyataannya hingga kini Katholik masih berdiri tegar sedangkan penyebaran Protestant pun tidak terbendung bahkan menciptakan banyak aliran.


Namun, ada suatu hal yang lebih menarik bagi saya.

Sering kita lihat / baca berita banyak hal yang tidak pantas dilakukan oleh para biarawan/wati Katholik yang telah melakukan kaul untuk hidup membiara.
Tadi pagi ada seorang teman Katholik yang bilang zaman sudah berubah dimana kini di Indonesia banyak Pastor berpacaran atau senang mengganggu istri orang atau para janda Katholik, baik secara terang terangan maupun sembunyi sembunyi. Belum lagi adanya Pastor yang selalu berorintasi ke uang untuk hidup berfoya dan kepentingan pribadi.

Hal hal demikian saya yakin tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain.

Jadi dapat terlihat bahwa sebenarnya banyak Biarawan/wati Katholik yang ingin hidup seperti manusia biasa (atau seperti Pendeta Protestant) namun juga ingin tetap dilihat sebagai Biarawan/wati penggembala umat Katholik.


Saya koq’ jadi teringat film lama yang berjudul The Thorn Bird dimana kisah seorang Pastor yang menjalin cinta dengan seorang wanita hingga memiliki anak tetapi si Pastor baru mengetahui bahwa dia punya anak saat di ujung ajalnya (saat itu sudah menjadi Kardinal).


Saya secara pribadi dari satu sisi tidak menyalahkan mereka karena mereka hanyalah manusia biasa yang setiap saat dapat terjerumus ke lembah dosa. Namun, di sisi lain saya tidak menyukainya karena keangkuhan diri dan demi menjaga gengsi mereka tetap tidak mengundurkan diri dari posisinya sebagai Pastor.


Lalu teman saya bilang semestinya peraturan Gereja Katholik diperlunak untuk memberikan kebebasan kepada Biarawan/wati nya untuk menikah dan hidup layaknya Pendeta Protestant.


Untuk itu, saya langsung jawab tidak setuju karena bila itu sampai terjadi maka Katholik akan menjadi kenangan belaka hanya gara gara para oknum imam mengkhianati kaul mereka.


Semoga Tuhan selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada para pemimpin gereja; Paus, para Kardinal dan semua rohaniwan/wati agar selalu dikuatkan imannya dan tetap menjaga kesucian kaul Katholik-nya. Amin.

IMAN, BERKAT & HARTA




Seringkali kita melihat tulisan atau orang berkata "Semakin banyak jumlah hartanya / kekayaannya di dunia berarti semakin nyata orang tersebut diberkati Allah".


Seseorang bilang kepada saya bahwa hidupnya masih susah / miskin karena Allah belum memberikan berkat kepadanya.

Saudara sepupu saya pernah bilang bahwa Pendeta di gerejanya sangat diberkati Allah karena dapat dilihat dari kehidupannya yang penuh glamor. Kalau naik pesawat minimal Business Class tapi biasanya First Class, memiliki beberapa rumah mewah dan ruko ratusan milyard rupiah. Anak anaknya sekolah di luar negeri juga bisa hidup mewah menikmati "berkat" Allah.

Ada pula umat Katholik berpikir bahwa seorang Pastor sangat diberkati Allah karena selalu mendapat tugas ke luar negeri di Eropa atau US.


Saya bertanya:
Lantas, bagaimana dengan Para Pendeta Protestan yang hidupnya sangat sederhana melayani masyarakat miskin di pedesaan. Atau, bagaimana dengan kehidupan para Biarawan Biarawati Katholik yang selalu bergelut dengan hutan rimba untuk menjangkau umat Katholik di pelosok desa bahkan di tengah hutan.
Apakah kalian akan bilang bahwa mereka kurang atau bahkan tidak diberkati Allah ??


Saya tidak pungkiri bahwa setiap napas kehidupan adalah datang dari Allah.
Namun, saya tidak setuju bila semua rejeki dan harta kekayaan yang kita miliki di dunia ini selalu datang dari Allah.


Banyak orang piara kuntilanak atau tuyul atau pesugihan untuk memperoleh kekayaaan dengan menumbalkan jiwa pembantu RT bahkan anggota keluarga.
Apakah kekayaan yang dimilikinya juga berkat Allah ??

Para koruptor dan para pemimpin agama penjual ayat ayat suci dapat hidup dengan bergelimpangan harta dunia.
Apakah itu juga berkat Allah ??


Bila kita sebagai seorang Kristiani mau melihat nasib para Rasul dan para martir pengikut Kristus, semestinya kita sadar bahwa kita harus selalu siap untuk memikul Salib (sengsara) Kristus. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki.
Bila saat ini kita hidup susah / miskin bukan berarti kita tidak mendapat berkat Allah. Setiap napas yang kita hirup dan setiap detak jantung kita adalah berkat Allah.
Begitupun bila kita sedang senang, janganlah terlalu takabur. Lihatlah sekeliling kita masih banyak orang yang hidup susah / miskin.


Saudara kita bukanlah semata mata hanya saudara seiman melainkan juga mereka yang tidak seiman dengan kita.
Musuh utama kita adalah yang datang dari dalam diri kita sendiri karena kita yang merasa paling benar, paling suci, dan pemegang kunci Surga.

Kasih Allah tidak pernah membedakan apakah agama kita, atau suku kita, atau kebangsaan kita.
Kasih Allah adalah untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Berhati hatilah dengan harta dunia yang kita miliki karena justru dapat menjerumuskan kita ke lembah dosa.


Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw

PELINDUNG BANGSA(T) NEGARA



Bangsat atau Kutu Busuk adalah sejenis hewan menjijikan yang biasanya tinggal di sela sela bangku atau ranjang. Binatang ini menyengat dan meminum darah manusia sehingga bagian tubuh korban yang disengatnya akan membekas luka sengatan.


Dalam kehidupan sehari hari kita sering mendengar istilah "minum darah manusia", yang biasa digunakan sebagai sebutan kepada mereka yang menindas / menzolimi rakyat kecil.

Sebutan inipun sebenarnya layak disandang oleh para pejabat Koruptor, walaupun pada kenyataannya dapat terjadi Bangsat teriak Bangsat.


Seorang staf anggota DPR ketika sedang digiring karena tertangkap tangan menerima suap, memaki dan berteriak "BANGSAT" entah kepada siapa tetapi yang pasti di sekitarnya ada KPK dan para wartawan.
Saya yakin umpatan itu terlepas dari mulutnya karena dia merasa begitu kecewa karena gagal dalam melakukan aksi korupsinya. Belum lagi malu yang harus ditanggung si ibu dan keluarganya, itupun kalau dia masih memiliki urat malu.


Mendengar adu mulut (you tube) antara anggota KPK dengan FH di gedung DPR membuat saya geli cekikikan sendiri di ruang kerja.

Salah satu teriakan keras dan berang yang keluar dari mulut kader PKS tersebut adalah 'Saya juga tugas negara'.

Mungkin situasi adu argumentasi yang memakan waktu itu adalah waktu yang tepat untuk "membersihkan" ruang kerja yang akan diperiksa KPK dari segala berkas berkas dan bukti bukti.


Kalau saya teliti ulang, teriakan si FH kepada si petugas KPK itu ada benarnya juga karena si FH yang juga adalah Wakil Ketua Dewan mungkin maksudnya sedang bertugas melindungi BANGSA(T) negara.


Salam sejahtera dan selamat berakhir pekan.
Raymond Liauw

Thursday, January 14, 2016

ENTE JUAL ANE BELI




Kami menolak untuk bergabung memerangi kalian di Timur Tengah bukan karena kami takut atau bukan karena kami mendukung. Tetapi kami memiliki pemikiran lain yang tidak akan dapat dicerna oleh otak dungu kalian.


Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang dapat kami usir. Belum lagi rongrongan lainnya yang harus kami hadapi setelah kami merdeka. Kalau kalian pikir bahwa negara kami dapat kalian acak acak seperti yang kalian lakukan di Timur Tengah, ahahaaaa..... K...alian Salah Kaprah, Bung !! Makin tampak jelas kedunguan otak kalian.


Kalian baru saja "memainkan langkah" di ibukota kami tercinta dan untuk itu kami katakan bahwa kalian telah Salah Langkah !!


Mereka yang membantu kalian hanyalah orang orang yang buta akan cinta kasih.
Mereka yang kalian rangkul sebenarnya adalah orang orang yang buta akan agama bahkan sebenarnya tidak memiliki agama melainkan pemuja iblis.
Mereka yang kalian rangkul hanyalah tikus tikus comberan radikal yang membenci ketentraman dan keutuhan NKRI.


Kami bukanlah Eropa yang rakyatnya cuma kena air hujan besoknya meriang. Kami juga bukan Paris yang tergores dikit langsung meringis.
Kami adalah INDONESIA. Tanah yang kami pijak ini adalah Bumi Pertiwi yang telah dilumuri darah para pejuang terdahulu kami.


Kalian hanyalah para gembel politik yang bertingkah tidak lebih dari lalat lalat lapar di tumpukan sampah.


Tidak ada tempat untuk kalian hidup di Bumi Pertiwi dan setiap saat pun kalian dipersilahkan hengkang dari negara ini, atau kami akan tendang kalian dengan cara kami.


NKRI Harga Mati


Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw