Untuk
kesekian kalinya rumah kami didatangi oleh para “pekerja ladang
Tuhan”. Ketika pintu saya buka, mereka dapat melihat langsung ke
dalam dan tepat di atas tungku api rumah kami terpampang kayu salib
dimana “seseorang” tergantung, yang menyatakan bahwa kami adalah
keluarga Katholik. Melihat dari penampilannya mereka sangat sopan dan
ramah. Seperti biasa, sebelum pergi mereka memberikan selebaran
sekaligus mengundang kita untuk datang ke gerejanya. Perlu digaris
bawahi bahwa mereka siap membantu kita dalam bentuk apapun termasuk
mencarikan pekerjaan bahkan hingga masalah financial.
Saya
salud dengan kesabaran dan keuletan mereka yang tetap datang walau
kami tidak tertarik. Bahkan terkadang orang yang datang adalah orang
yang sama. Saya tidak heran bila ada Pendeta yang menggunakan harta
kekayaannya untuk mempromosikan gerejanya untuk menarik orang banyak
datang. Mungkin juga itu adalah salah satu cara Tuhan menggunakan
kemewahan dunia melalui Sang Pendeta dan pengikutnya agar banyak
orang beribadah, meninggalkan perjudian, pelacuran atau segala macam
bentuk kemaksiatan.
Perlu
diingat bahwa Tuhan dapat menggunakan segala apapun dalam misinya
sekalipun Tuhan dapat menggunakan orang jahat untuk “menyembuhkan”
kita.
Yang konyol tuh seandainya mereka ingin membantu kita tetapi
kita wajib menjadi pengikutnya.
Bagi
umat non-Kristiani mungkin akan berpikir, sesama pengikut Yesus (Nabi
Isa) semestinya tidak apa apa bebas pergi ke gereja manapun. Apalagi
ada lagu yang liriknya bilang “...Ku tak tau kau dari gereja mana….
Asalkan beralaskan Kristus…. Engkaulah saudara saudariku….
Marilah kita bekerja sama…. Hallelujah Halelujah…. Bla bla bla
bla……”.
Umat
Katolik mengakui bahwa para Paus sebagai pengganti Santo Petrus yang
menurut ajaran Gereja Katolik telah dijadikan "gembala"
oleh Yesus dan "batu karang" dari Gereja Katolik. "Engkau
adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan
jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan
Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan
terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas
di sorga." (Matius 16:18-19).
Dalam
perjalanan sejarah Katholik, Reformator Protestan mengkritik kepausan
sebagai institusi yang korup dan mengkarakterkan paus sebagai seorang
anti-kristus. Para Protestan juga berargumen bahwa ”batu” yang
dimaksud ialah Yesus sendiri ataupun kepercayaan atau iman dari
Petrus.
Pada
tulisan ini, saya tidak tertarik memperdebatkan masalah di atas
(Katholik vs Protestant), karena dalam kenyataannya hingga kini
Katholik masih berdiri tegar sedangkan penyebaran Protestant pun
tidak terbendung bahkan menciptakan banyak aliran.
Namun,
ada suatu hal yang lebih menarik bagi saya.
Sering
kita lihat / baca berita banyak hal yang tidak pantas dilakukan oleh
para biarawan/wati Katholik yang telah melakukan kaul untuk hidup
membiara.
Tadi pagi ada seorang teman Katholik yang bilang zaman
sudah berubah dimana kini di Indonesia banyak Pastor berpacaran atau
senang mengganggu istri orang atau para janda Katholik, baik secara
terang terangan maupun sembunyi sembunyi. Belum lagi adanya Pastor
yang selalu berorintasi ke uang untuk hidup berfoya dan kepentingan
pribadi.
Hal
hal demikian saya yakin tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga
di negara lain.
Jadi
dapat terlihat bahwa sebenarnya banyak Biarawan/wati Katholik yang
ingin hidup seperti manusia biasa (atau seperti Pendeta Protestant)
namun juga ingin tetap dilihat sebagai Biarawan/wati penggembala umat
Katholik.
Saya
koq’ jadi teringat film lama yang berjudul The Thorn Bird dimana
kisah seorang Pastor yang menjalin cinta dengan seorang wanita hingga
memiliki anak tetapi si Pastor baru mengetahui bahwa dia punya anak
saat di ujung ajalnya (saat itu sudah menjadi Kardinal).
Saya
secara pribadi dari satu sisi tidak menyalahkan mereka karena mereka
hanyalah manusia biasa yang setiap saat dapat terjerumus ke lembah
dosa. Namun, di sisi lain saya tidak menyukainya karena keangkuhan
diri dan demi menjaga gengsi mereka tetap tidak mengundurkan diri
dari posisinya sebagai Pastor.
Lalu
teman saya bilang semestinya peraturan Gereja Katholik diperlunak
untuk memberikan kebebasan kepada Biarawan/wati nya untuk menikah dan
hidup layaknya Pendeta Protestant.
Untuk
itu, saya langsung jawab tidak setuju karena bila itu sampai terjadi
maka Katholik akan menjadi kenangan belaka hanya gara gara para oknum
imam mengkhianati kaul mereka.
Semoga
Tuhan selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada para pemimpin gereja;
Paus, para Kardinal dan semua rohaniwan/wati agar selalu dikuatkan
imannya dan tetap menjaga kesucian kaul Katholik-nya. Amin.