Saturday, August 31, 2013

KUBUR

di luar indah mengagumkan
rapih terawat
berbatu nisan mewah
tertabur bunga aneka warna
terbungkus permadani rumput hijau

di dalam tak lebih berharga dari besi karat
tiada cahaya terlihat
daging kaku terbujur
lendir jijik berjamur
cacing tanah melahap rakus

sengaja atau tidak sengaja
kubur telah menjadi idola manusia
sejak zaman purba hingga akhir dunia
mengagungkan luar diri dan harta benda
mengabaikan keboborokan dalam jiwa

Kubur
tidak peduli pada siapa pemilik raga


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

MENYAMBUT TAHUN 2013

Waktu terus bergulir tak dapat kembali
Semak belukar dan jalan berkerikil tertapaki
Menangis, tersenyum, dan tertawa adalah sebuah seni
Agar dunia tak terasa sepi

Roda kehidupan terus berputar
Bagaikan alur nadi yang melingkar
Aku kan terus menjalani kehidupan ini tanpa gentar
Baru kusadari hidup di dunia hanyalah sebentar

Alam semakin kotor dan rusak
Kejahatan dan pembunuhan semakin merangsak
Bencana alam datang berarak
Kemiskinan seakan kian merebak

Manusia berlomba menumpuk harta kekayaan
Sedikit yang peduli kepada mereka yang kelaparan
Tak terlepas dari sifat manusia yang keduniawian
Akankah ini terus berlangsung hingga kita dijemput kematian

Dua belas bulan penuh tlah terlewati
Kesan buruk dan baik melekat di dalam hati
Tak kan pupus asa kita menanti
Walaupun masih panjang perjalanan ini

Angin berhembus dari timur ke barat
Kuncup bunga terus berkembang penuh hasrat
Mereka menyebut tiga belas angka keramat
Kiranya Allah terus melimpahkan kita dengan rahmat dan berkat


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

SURGA TEMPAT KITA BERTEMU

Pelangi melintang di cakrawala
Berpeluk mesra dengan semburat jingga
Terlintas seraut wajah nun jauh di sana
Menyirat rindu kita senada

Terdengar dentingan sonata
Begitu lembut menyejukan jiwa
Mengingatkanku saat saat indah kita berdua
Kenangan tak akan pernah terlupa

Angin surgawi memancarkan sinar kasih
Hembusan halusnya merasuk kalbu
Menggugah rasa terpendam ditinggal sang kekasih
Yang selalu setia hadir disetiap mimpiku

Begitu lelap tidurmu
hingga tak terdengar dengkurmu
Aku kan selalu setia mendampingimu
kelak di Surga kita kan bertemu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

SELAMAT JALAN Mr. HOGO CHAVEZ

Lihatlah yang kau lakukan untuk negerimu
Kau hancurkan tingkat kebodohan
Kau lumat jajaran kemiskinan
Kau ciptakan kemakmuran untuk bangsamu

Kesuksesanmu menimbulkan iri hati para pemimpin bangsa lain

Gelombang laut barat menderu
Topan mencoba terus menghantammu
Dari segala arah kau diserang
Layaknya sebongkah karang kokoh, kau tidak tergoyahkan

Tangan tangan kokoh berhasrat mencengkram
Bersilat lidah dengan tameng memerangi kediktatoran
Mereka bersekutu untuk membekapmu
Bagaikan asap bening, kau tak terjamahkan

Selamat jalan Mr. Hugo Chavez

Langit berduka
Bumi tertunduk pilu
Malaikat Allah telah membuka gerbang Surga untukmu
Sang Pencipta telah mempersiapkan tugas baru bagimu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

CINTA TAK HARUS BERSATU

Angin samudra mengukir berjuta makna
Indahnya bahasa cinta merasuk sukma
Tak mampu kumenahan gelora asmara
Tak sanggup kumenolak apa yang kau minta

Kau janjikan bintang turun ke bumi
Kau janjikan gunung bernyanyi
Bahkan kau janjikan mawar tak berduri
Ternyata semua hanya dusta yang kau beri

Kurentangkan jiwa melepas kepergian senja
kepasrahan memupuk butiran asa
mencari arah kemana langkah kan kubawa
untuk melupakan semua derita

Dikala cinta terucapkan
terkadang sangat mudah terabaikan
Dikala cinta tak pernah dinyatakan
tertanam di hati tak terhapuskan

Seraut wajah tersipu malu melintas dalam angan
tak banyak bicara
dia yang dulu pernah kusingkirkan
namanya terucap dari bibirku yang tak bersuara

Serpihan rindu datang menghampiri
Butiran bening menetes di pipi
Pengalaman hidup selalu tersirat di dalam hati
Mengubur penyesalanku yang tiada lagi berarti


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

BUTIRAN AIR MATA DI TEPIAN DANAU TOBA

Seraut wajah tertunduk berteman sepi
Duduk di atas sebongkah batu menyendiri
Kabut tipis mengawang pergi
Tiada yang tau siapa yang kau nanti

Remah remah kegalauan terhembus dari napasmu
Pucat pasi menghantui kecantikan parasmu
Tetesan air bening mengalir di sudut kelopak matamu
Membisikan betapa sedihnya hatimu

Bila kau dapat melayang
Kau kan terbang ke bulan
Bila kau dapat berenang
Kau kan menyelam ke dasar lautan

Janjinya telah mengakar di hatimu
Baginya, tiada gadis lain selain dirimu
Seluruh cintanya hanyalah untukmu
Namun, tiada restu kau peroleh dari orang tuamu

Cahaya bintang menangis pilu
Kegelapan malam menikam kalbu
Dunia ini bukanlah dunia semu
Di tepian Danau Toba kau kucurkan air matamu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw

MENANTIKAN SANG DEWI

Terbentang samudra; ombak menderu
Bayangan bertudung langit biru
Tubuh terbalut sutera ungu
Kaki melangkah bermain dengan waktu

Bulu mata lentik berakar ke dasar bumi
Lesung pipit membuat cemburu setiap insani
Senyum menembus jantung surgawi
Berlenggok anggun layaknya Permaisuri

Kurajut syair tuk meraih rembulan
Kugoreskan tinta dari hati yang tertawan
Butiran embun merangkul kesejukan
Mengalir keheningan dalam penantian

Kepakan merpati berjubah suci
Melanglang buana menghindari sepi
Kubiarkan cintaku terbungkus dalam mimpi
Engkaulah Sang Dewi yang sedang kunanti

Senja tak pernah berkedip menatapmu
Tak pernah jenuh berkerudung asmara semu
Serat kerinduan merayap tuk menggapaimu
Kapankah purnama cinta kita kan bertemu


Salam kasih dan sejahtera selalu,
Raymond Liauw