Saturday, March 21, 2015

PENGERAT RAKUS


tikus tikus mencari padi
grasak grusuk
rakus mengerat upeti
unjuk gigi
teriak anjing
memaki babi
lumbung termakan api
pengerat lari
hangus terjerat kaki
cuiiihhh.....
d'hewan keparat
bangkai basi



Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw

Thursday, March 5, 2015

DEMI BANGSA DAN NEGARAKU Bagian ke – 2 (Cerita Pendek)

              
Matt, apakah kamu pernah berpikir untuk mempunyai keluarga ?” tanya Olga manja kepada Matthew ketika mereka sedang menyusuri jalan setapak.
eheemm..….” jawab Matt sambil merogoh sesuatu dari kantung celananya.
Oooohhh….. Matt….. inikah jawabanmu ?” ujar Olga berwajah ceria ketika membuka bungkusan yang diberikan Matt yang ternyata sebuat cincin solitaire bermata kilau berlian sebagai tanda pinangan.

Kedua anak manusia yang dulunya berteman sebentar lagi akan bersatu perahu mengarungi bahtera rumah tangga. Gelora asmara yang begitu kuat tak lagi terbendung, bahkan sentuhan desah napas mereka membelah kesunyian malam hingga mentari pagi menjulang.

Hubungan asmara mereka sebenarnya sudah tercium oleh pusat Kremlin Moscow, namun belum saatnya memisahkan mereka dalam bertugas.

Siang itu kantor Kremlin digemparkan dengan desas desus bocornya rencana pembunuhan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang rencananya akan dibunuh saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba untuk bertemu dengan Fidel Castro pekan depan.

Kita semua yang berada di ruang ini sudah mendengar. Janganlah menganggap remeh desas desus ini”.
tingkatkan pengawasan dan perketat keamanan”.
Minggu depan Boss akan mengunjungi saudara saudara kita di Kuba. Aku tidak ingin rencananya dibatalkan dan aku secara pribadi yang akan langsung mendampinginya. Disamping itu, ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sana”.
Bila issu itu benar, biarlah aku mati bersama Tuan Presiden. Paling tidak, akan ku berikan nyawaku untuk menyelamatkannya” ujar Leonid Kasparov salah seorang petinggi KGB dalam rapatnya dengan nada berapi api.

Leonid Kasparov memulai karirnya di KGB ketika terjadi perang Teluk di Irak. Kepiawaiannya memainkan peran di Timur Tengah membuahkan hasil hingga karirnya meningkat pesat. Untuk memastikan tugasnya selesai dengan baik sempurna, Leonid tidak segan segan membantai satu keluarga bahkan bayipun kalau perlu dibunuhnya.

Sementara di daerah perbukitan tandus di Kuba terdapat sebuah bangunan raksasa di bawah tanah. Tempat itu konon hampir tidak pernah terjamah oleh orang biasa karena penuh mistery. Siapapun yang tiba ke tempat itu tidak pernah kembali alias hilang tanpa jejak. Namun, hanya mereka yang memiliki kata sandi yang dapat memasuki wilayah tersebut. Mereka adalah hanya orang orang Kremlin dan petinggi Kuba.

Bermodalkan ilmu yang diperolehnya dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) jurusan Atom, Dmitry Osglov merupakan Kepala Divisi Nuklir yang saat ini ditugaskan untuk melakukan serangkaian percobaan di Teluk Mexico.

Rencana Boss dan Castro untuk mencoba ‘bayi’ nuklir ini di Teluk Mexico akan tetap berjalan minggu depan” tegas Dmitry kepada beberapa agen di sebuah ruangan. Selain Olga dan Matthew, di situ juga ada James dan Ronin.
Aku dengar Leonid Kasparov juga akan mendampingi Boss” tambahnya dengan kerut di kening.

hmmm……. Leonid sialan……. untuk apa dia datang ke Kuba” pikir Olga dalam hati yang memang tidak menyukai pria dengan julukan si “Bengis” itu yang juga mantan atasannya ketika masih bertugas di Timur Tengah.

Selama beberapa hari menjelang kedatangan pemimpin Rusia berserta rombongan, pikiran Olga berkutat carut marut.

Apakah ada yang tidak beres, Olga ?”
Oh….. tidak apa apa, mungkin hanya karena aku terlalu semangat untuk melihat ledakan di Teluk Mexico beberapa hari lagi” jawab Olga berbohong.
Aku yakin kamu dapat mengatasinya” sahut Matt meyakinkan calon istrinya itu.

Semua tingkat pengamanan semakin diperketat sehubungan dengan issu pembunuhan terhadap orang nomor satu di Rusia itu semakin menyalak, terlebih ketika Putin telah menginjakan kakinya di tanah Kuba sejak dua hari lalu.

Pada malam sehari sebelum percobaan nuklir di Teluk Mexico yang juga akan dihadiri oleh kedua pemimpin Rusia dan Kuba itu, seseorang berhasil menyusup ke dalam kamar hotel Leonid Kasparov dan berhasil menancapkan belati tepat di antara kedua bola matanya, namun berita peristiwa ini berhasil “dibekukan” oleh para pengawal Putin selama di Kuba agar tidak dikonsumsi oleh media cetak. Sedangkan pelaku pembunuh gelap yang menggunakan topeng hitam berhasil melarikan diri tanpa diketahui identitasnya.

Bangsat !! Sungguh memalukan !!” bentak Dmitry yang pagi itu telah mengumpulkan keempat agen, Olga, Matthew, James dan Ronin.
Inikah yang Pentagon inginkan, melakukan perang terbuka dengan kita ?” teriak marahnya.

Selagi Dmitry masih mengoceh ….. biip ….. biip ….. biip….. sebuah pesan singkat muncul di hand phonenya.
Wajah Dmitry seketika memerah. Matanya bringas menatap wajah para agen di hadapannya satu persatu, kemudian menghisap cerutu dalam dalam dengan wajah menengadah ke langit langit. Whuuuusssss…….. hembusan asap cerutu keluar dari celah bibirnya seperti cerobong asap.

Ada perubahan rencana. Boss memutuskan bertolak balik ke Rusia pagi buta tadi” kata Dmitry perlahan dan kembali dihisap cerutunya dalam dalam.
Kremlin mau kita batalkan plan A dan jalankan plan B” whuuuusssss…….. lagi lagi asap cerutu terhembus dari mulutnya.

Keempat agen saling bertatapan bingung, sepertinya tidak tau kalau ada plan B dalam operasi ini, begitupun Olga dan Matthew.

Plan B ? apa itu ?” tanya Matthew.
Boss menginginkan rudal rudal itu ditembakan ke Gedung Putih dan markas Pentagon untuk melihat hasil langsung secara nyata” lirihnya dengan tatapan tajam kepada Matt.

Apakah aku tidak salah dengar ? banyak penduduk sipil yang akan menjadi korban” kata Ronin dengan dahi dikerutkan dan melirik pada James.
Rencana gila. Lebih baik dibatalkan daripada membantai manusia tak bersalah” teriak James dengan penuh semangat.

Olga bertolak pinggang meliukan tubuh rampingnya lalu perlahan melangkah ke arah Ronin dan James.

bertahun tahun seluruh rakyat Rusia menderita akibat sanksi ekonomi oleh Gedung Putih” sahut Olga ketus.
apakah mereka pernah memikirkan rakyat Rusia mati kelaparan dan perang saudara ?”
negara bedebah itu telah membuat kita menderita”
akan kita buat mereka mengerti dan merasakan arti sebuah penderitaan”
lihatlah yang mereka lakukan tadi malam. Bila saja Boss tidak menukar kamar hotelnya dengan Tuan Leonid maka Rusia akan dipermalukan” umpat Olga.

hhmmmm…….. sepertinya aku mencium bau “tikus” di ruang ini” pikir Dmitry dalam hati dan kembali memandangi satu persatu wajah para agen di hadapannya.
Tiba tiba dia mencabut pistol dari balik jasnya dan dor…. dor…. dua ledakan ke dada kiri James cukup membuat pria bertubuh tinggi kurus itu tersungkur bermandi darah.

Gerak reflek Olga, Matt dan Ronin pun serentak segera mencabut pistol masing masing lalu mengarahkannya ke Dmitry.

STOP !!! STOP !!! STOP!!!.....” teriak Dmitry mengangkat kedua tangannya.
Ok….. ok….. aku ingin menujukan sesuatu yang baru kuterima kepada kalian”.

Perlahan Dmitry meletakan pistolnya di atas meja, lalu dia meraih handphone dan memperlihatkan kepada mereka cuplikan beberapa photo James berpesta dengan para petinggi CIA di berbagai acara dimana James mengenakan badge CIA.

Kurang ajar !! ternyata selama ini aku dan keluargaku sering makan malam bersama anjing CIA…. cuiihh….” umpat Ronin kesal meludahi mayat James. Belum cukup lagi Ronin pun menginjak pelipis James dengan sepatu boot nya dan seketika itu juga biji mata James meloncat keluar. “Anjing CIA……cuuiiihhhhh” sekali lagi dia memaki dan meludahi mayat James.

Inilah harinya kita berpesta, mari ke ruang pengendali” ajak Dmitry.

Matthew yang sejak tadi masih menggenggam pistolnya sekonyong konyong menarik pelatuk ….dor…. satu peluru cukup melubangi kepala Ronin dan menghamburkan otaknya. Situasi tak terkendali, saling tembak Dmitry dengan Matthew dalam satu ruangan. Olga hanya melongo seakan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya.

Aku ke ruang kendali. Biar ku bumi hanguskan Amerika !!” teriak Olga sambil berlari.
OLGAAAAA……..” teriak Matthew, namun malang baginya beberapa peluru yang dimuntahkan oleh Dmitry menghantam lambung dan kaki kanannya, walaupun pada akhirnya Matt berhasil melumpuhkan Dmitry dengan dua tembakan di dada dan satu di kepala.

Dari dalam gedung semua karyawan tampak panik berhamburan keluar menyelamatkan diri setelah mereka mendengar suara tembak menembak. Dengan tertatih tatih Matthew pun berhasil mengejar Olga.

Olga…... tolong jangan kamu lakukan itu” pinta Matthew.
Jangan coba coba menghalangi aku, Matt !” bentak Olga tetap menuju tombol kendali.

Baru saja telunjuk Olga siap menekan tombol merah itu, sebuah peluru melesat dari arah belakang menghantam dada kirinya tembus mengoyak jantungnya. Olga berbalik dan tersenyum menatap dia yang melepaskan tembakan.

Kenapa kamu lakukan ini ?” tanya Olga dengan napas mulai tersengal.

Aku mencintaimu tetapi aku lebih mencintai bangsa dan negaraku, United State of America” sahut si penembak yang tak lain adalah kekasihnya, Matthew McDonald.

Perlahan Olga menghampiri Matt yang masih terduduk di lantai dengan punggung bersandar di tembok menahan rasa nyerih pada kaki kanannya dalam keadaan penuh lubang. Darah pun terus mengalir dari lambungnya.

Matt, aku mencintaimu walau aku tau siapa kamu sebenarnya”
Itulah alasanku kenapa aku melenyapkan Leonid tadi malam. Si bengis itu akan mengeksekusimu di ruangan ini di hadapan Boss dan Castro”
Apakah kamu sudah merasa puas telah menyelamatkan negaramu ?” lirih Olga
Aku pikir inilah tugas terakhirku dan aku ingin sekali menimang seorang bayi” lanjutnya sambil terbatuk darah.

Apa maksudmu Olga ?” tanya Matt penasaran.

Olga merangkul Matt untuk merapatkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Matt agar suara lemahnya dapat lebih jelas terdengar.

Sejak bulan lalu aku mengetahui bahwa aku positive hamil tapi aku sengaja tidak memberitahumu karena aku ingin membuat kejutan setelah proyek ini selesai” jawab Olga diikuti suara batuk darah yang semakin parah.
Tubuhnya lemas lunglai di pelukan Matt yang hanya dapat memeluk dan menangisi kekasihnya itu.

Ohhh……. tidak…. Olga…. tidak…. TIDAAAAKKKKKKK…..” jerit Matt menciumi wajah kekasihnya yang kian dingin membeku.

Baik Washington maupun Moscow tidak lagi menyebut nama Matthew McDonald yang dikenal sebagai agen ganda, dan namanyapun telah dihapus dari daftar keagenan. Kabar angin mengatakan abu jasad Matthew telah ditebar di Teluk Mexico sebagai pengganti rudal yang semestinya diluncurkan dihadapan Vladimir Putin dan Fidel Castro lima bulan lalu.

Musim Winter baru saja berakhir. Tercium angin sepoi menghantar Spring melalui desiran ombak pantai Santa Barbara, California.

Bagaimana kondisinya, Dok ?” tanya seorang Pria berpakaian rapih perlente kepada Dr. Ronald.
Masih belum menunjukan adanya kemajuan, Tuan Senator” jawab Dr. Ronald kepada si tamu pria yang ternyata adalah seorang Senator.
Dia sering mengigau dalam tidurnya memanggil manggil sebuah nama seorang wanita yang saya yakini adalah kekasihnya”
Anehnya lagi si wanita tersebut tidak pernah sekalipun mengunjunginya sejak dia dirawat di sini” kata Dr. Ronald memberikan informasi kepada si Senator.
Hmmm…… baiklah, Dok. Rawatlah dia terus dengan baik” ujar Senator perlente tersebut sambil menepuk bahu seorang pasien pria di kursi roda, kemudian dia mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.

Si pasien pria yang tengah duduk di kursi roda sedang menikmati panorama pantai bersama beberapa pasien lainnya. Dia hanya dapat memandangi seorang wanita muda sedang bermain dengan seorang bayi mungil dari kejauhan. Sesekali si wanita bersama si bayi melambaikan tangan dan melepaskan senyuman ke arahnya, lalu dia pun membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangannya.

Nyanyian ombak terus mengalun menghantarkan senja tenggelam. Tampak cahaya redup Sang Dewi Malam memayungi Rumah Sakit Jiwa dimana Matthew McDonald yang telah kehilangan kaki kanannya kini dirawat. Suara suara jangkrik pun siap menemani keheningan malam untuk menutup agenda hari itu.


Tamat

Tuesday, February 24, 2015

DEMI BANGSA DAN NEGARAKU (Cerita Pendek)


Bukan hanya karena posisinya sebagai Wakil Ketua CIA, Ashley Covington juga sangat disegani oleh para petinggi Gedung Putih karena sifatnya yang keras dan dingin dalam menghadapi setiap persoalan.

Beratnya tugas dan tekanan yang sering datang baik dari para senator bahkan Presiden sekalipun tidak mengurangi kemesraannya dengan Olga Kruchev, wanita Rusia yang dinikahinya sejak tahun lalu.


Perkenalan Ashley dengan Olga dimulai ketika Ashley sedang bertugas dan mengalami luka tembak di Bosnia beberapa tahun lalu. Selama di rumah sakit, Olga lah yang merawat Ashley dengan sabar sehingga rasa cinta di antara mereka berdua yang berbeda bangsa dan bahasa itupun merebak hingga ke pelaminan.


Robert Reagor adalah salah satu anak buah terbaik Ashley yang telah mengabdikan dirinya bekerja untuk CIA selama lebih dari 10 tahun dan pernah memperoleh empat bintang jasa dalam menangani beberapa kasus, tetapi sifatnya yang angkuh dan sangat berambisi dalam karir, membuatnya kurang disenangi oleh rekan rekan kerjanya.


Ketika Robert mengetahui rencana Ashley untuk melimpahkan sebuah proyek operasi yang sedang ditangani oleh salah satu rekan kerjanya, dengan tiada sungkan dia sering menemui Ashley baik di kantor maupun di rumah walaupun Ashley sedang menikmati waktu senggangnya bersama Olga.

Di sisi lain, Ashley terus mendapat tekanan dari atasannya untuk segera menuntaskan proyek tersebut, maka dengan berat hati Ashley pun membebas tugaskan Matthew McDonald, kemudian menyerahkan proyek tersebut kepada Robert.


Sore itu di salah satu ruang kantor CIA di Virginia, tiga orang sedang membicarakan masalah serius.

Kamu sudah menangani kasus ini hampir satu tahun tapi hingga hari ini belum ada titik terang sedikitpun” ujar Ashley sinis kepada Matthew.
Matt, ini adalah perintah atasan, untuk sementara waktu kamu boleh beristirahat sampai ada proyek berikutnya dan semua berkas akan kualihkan kepada Robert” sambung Ashley dengan lirikan mata ke arah Robert yang sejak tadi memasang wajah sumringah.


Matthew yang tahun depan akan genap 4 tahun bekerja sebagai agen CIA hanya terdiam pasrah sambil memandangi tattoo bunga mawar di pergelangan tangan kirinya.


Dengan rasa percaya diri Robert pun mulai menganalisa dan mengerjakan proyek yang bernama sandi “Rimbun” itu.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah sifat Robert yang ulet dan gigih penuh keyakinan, sehingga hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan dia telah menunjukan titik terang untuk segera menuntaskan proyek tersebut.


Proyek “Rimbun” adalah tugas khusus dari Ketua CIA kepada Ashley untuk mendapatkan sebuah disk yang berisi nama nama seluruh agen rahasia ganda di dunia. Saat ini disk tersebut bukan hanya diperebutkan oleh Rusia dan Amerika tetapi juga oleh negara lain.


Di suatu malam setelah Ashley bercumbu dengan Olga dimana desah napasnya masih sedikit terengah belum kembali normal, jemari Ashley membelai rambut Olga yang bermanja dengan membaringkan kepalanya ke dada bidang Ashley.


Olga, maafkan aku belum bisa membuatmu hamil”
Tidak apa apa Ash, dokter bilang kamu terlalu stress dengan pekerjaan” sahut Olga yang bersuara lembut penuh pengertian.
Iya, aku memiliki proyek yang sudah hampir satu tahun masih belum tuntas” sambung Ashley.
Kenapa kamu tidak tinggalkan saja proyek bermasalah itu, Ash ?”

Ashley tidak menjawab pertanyaan Olga tetapi malah memejamkan matanya untuk bersiap tidur dan bermimpi.


Keesokan paginya saat Ashley sedang bersiap untuk berangkat ke kantor ….ring ….ring …. ring…..


Olga, biar kuangkat telphonenya”.
Hallo…… Ashley di sini” namun seketika Ashley terdiam seribu bahasa kemudian duduk lemas di bangku ruang makan sambil mendengarkan suara di telephone sampai si penelphone menutup pembicaraannya.


Ada apa Ash ?” tanya Olga bergegas begitu melihat wajah suaminya berubah pucat pasi.
Ash, ada apa ? ada berita apa ? kamu tidak apa apa ?” cecar Olga semakin penasaran dengan sikap suaminya yang seperti orang linglung terdiam kaku.
hhhmmmm…….. sebuah bom mobil menewaskan Robert tepat tengah malam tadi di depan apartmentnya” ujar Ashley perlahan seakan masih tidak percaya dengan berita yang baru saja diterimanya.
Oh...... Ash…. kamu membuatku sangat takut. Tinggalkanlah proyek itu” pinta Olga yang memeluk suaminya erat erat sambil menumpahkan tetesan air mata ke pundak Ashley.


Setelah menghadiri upacara pemakaman jasad Robert yang sudah hangus tak dapat dikenali, para petinggi CIA termasuk Ashley segera memasuki ruang rapat. Matthew juga diminta hadir di dalam rapat tersebut karena dialah yang selama ini tau banyak mengenai proyek “Rimbun” dan rencananya dia akan kembali ditugaskan melanjutkan proyek tersebut.


Selagi mereka memperdebatkan pihak mana yang bertanggung jawab atas tewasnya Robert, tiba tiba Susan wanita paruh baya yang sudah bekerja di kantor tersebut selama lebih dari 30 tahun sebagai sekretaris memasuki ruang rapat “Maaf, seseorang ingin bicara dengan Ashley sepertinya penting sekali mengenai peristiwa ini” ujarnya.

Segera saja mereka mengatur system supaya pembicaraaan si penelphone dapat terdengar oleh semua peserta rapat.


Kami turut berduka untuk hilangnya orang anda” ujar si penelphone gelap dengan suara datar yang kental dengan logat Eropa Timur-nya.
Saya Ashley Covington. Dengan siapa saya bicara ?”
Anda tidak perlu tau nama saya. Saya tidak bekerja dan tidak peduli dengan pihak manapun” jawab ketus si penelphone gelap.
Bila anda masih menginginkan disk itu siapkanlah uang 100 juta dollar dan nanti kita akan atur pertemuan hanya anda dan saya tanpa alat perekam. Ingat sekali lagi, pertemuan ini hanya anda dan saya tanpa alat perekam !! ” lanjut si penelphone gelap dengan tegas mengancam lalu menutup pembicaraan.


Beberapa saat ruang rapat hening saling tatap dengan ratusan pertanyaan di otak mereka untuk menyusus strategy pertemuan itu.

Akhirnya mereka menyetujui mengirim Ashley untuk bertemu dengan si penelphone misterius tanpa pengawalan tetapi tetap akan memasang alat perekam untuk mengantisipasi hal hal buruk terjadi pada Ashley.

Pemasangan alat perekam di balik baju inilah yang justru membuat Ashley khawatir akan keselamatan dirinya dan Olga. Ashley tau benar cara kerja kejam para mafia Eropa Timur yang tidak pernah segan segan untuk membantai satu keluarga musuh sekalipun.


Pada hari pertemuan yang telah ditetapkan, Ashley mengajak Olga untuk makan malam di sebuah restaurant favorite mereka.


Olga, kemungkinan aku akan pulang ke rumah besok pagi. Malam ini proyek harus selesai” ucap Ashley.
Ash……. kenapa kamu masih juga ingin melanjutkan proyek yang membahayakan kita ?” Olga memelas supaya Ashley merubah pikirannya.
Olga sayang………. justru ini adalah proyek utama yang menentukan mati hidup karirku dan aku yakin tinggal selangkah lagi proyek ini akan tuntas. Beruntung sekali aku memiliki istri yang penuh pengertian sepertimu” tutup Ashley dengan ciuman mesra di kening Olga.


Merekapun meninggalkan restaurant tersebut dan Ashley mengantar Olga pulang sebelum menuju tempat yang telah ditentukan untuk bertemu dengan si pria misterus.


Saat itu sekitar pukul 2 dini hari. Beberapa ratus meter dari gudang tempat pertemuan, sebuah mobil van yang dilengkapi dengan system komunikasi penyadap suara dan juga berisi beberapa agen CIA telah siap memantau. Namun, sebelum memasuki gudang, Ashley membuang semua alat perekam yang dipasangkan di kemejanya karena tidak mau mengambil resiko terlalu besar.

Sambil menenteng tas koper yang berisi uang 100 juta dollar, dia melangkah dengan pasti memasuki gudang.


Ternyata, sesosok bayang telah menantinya di dalam ruang gudang.


Lepaskan jasmu, buka tas itu dan letakan di lantai. Dekatkan alat detector di bawah itu ke seluruh tubuhmu mulai dari telapak kaki” sebuah perintah dari balik keremangan.

Ashley mengikuti perintah tersebut lalu mendekatkan alat detector yang telah dipersiapkan ke seluruh tubuhnya.

Untung saja aku sudah membuang alat perekam brengsek tadi” pikirnya.


Mengetahui Ashley bersih, bayang tersebut perlahan muncul dengan menyandang senjata mesin dari balik kegelapan kemudian memulai pembicaraan.


tidak sopan bila tidak memperkenalkan diri. Namaku Ivan Charnenko”
terus terang, kami sangat membutuhkan biaya untuk menggempur pasukan Rusia di perbatasan Chechnya”
kami tidak dapat menghandalkan Presiden anda yang bermulut besar untuk membantu perjuangan kami”
kini lemparkanlah tas uang itu ke sini dan disk sialan ini akan menjadi milikmu


Bersamaan Ashley menendang tas koper tersebut, Ivan juga melemparkan disk ke arah Ashley sebagai pertukarannya.

Baru saja kedua barang tersebut berpindah tangan tiba tiba…… dor…dor…. dua tembakan kedap suara tepat mengenai pelipis dan jidat Ivan yang dengan seketika tubuh besarnya jatuh terbanting tak berkutik.


Ashley terperangah kaget menoleh ke arah si penembak “Oh….siapa kamu s….” belum lagi bibirnya menyelesaikan kalimat bertanya, ….dor…dor…dor….lagi lagi pistol kedap suara itu meletus. Dua peluru menghantam dada kiri dan kanan sedangkan peluru terakhir melubangi tengkoraknya.


Hanya dalam sekejap, si pelaku penembakan telah menyusup ke halaman belakang gudang dimana 3 mayat pria lainnya tampak tergeletak tanpa nyawa.

Di situ telah menanti sebuah mobil Ferrari yang siap meluncur dengan kecepatan tinggi dan hilang di tengah kegelapan malam.


Hingga keesokan paginya mereka tiba di perbatasan Mexico tempat pemeriksaan passport.


Selamat datang di Mexico, Tuan dan Nyonya Jose Lopez” kata Polisi Imigrasi sambil menyerahkan kembali passport si pengemudi Ferrari bersama temannya yang juga telah menyelipkan selembar uang $100 untuk makan siang petugas immigrasi tersebut.


Udara panas Mexico membuat Jose Lopez membuka dua kancing atas kemejanya dan menggulung lengan panjangnya sehingga tampak tattoo bunga mawar pada pergelangan tangan kirinya.


Mulai hari ini mereka akan memanggilmu Nyonya Jose Lopez” canda Jose kepada si wanita muda cantik nan sexy di sebelahnya sambil mengedipkan mata genitnya.
Oh....... aku mau tau apa perasaanmu setelah membunuhnya” tanya Jose.


Si wanita tersebut menoleh ke arah Jose dengan expresi wajah tanpa senyum lalu berkata “Aku mencintainya tetapi aku lebih mencintai bangsa dan negaraku, Rusia”


Selamat untuk kenaikan pangkat yang baru saja kamu terima, Comerad” ujar Jose Lopez alias Matthew McDonald yang juga seorang Agen Senior KGB ahli perancang bom mobil.
Hmmm……… terima kasih. Aku akan selalu siap melaksanakan tugas negara, Comerad” jawab si wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Olga Kruchev.


Disk yang memuat data data lengkap semua agen ganda di dunia termasuk nama Matthew McDonald dan Olga Kruchev di dalamnya telah tersimpan rapih di kantor pusat KGB Moscow.

Sedangkan uang tunai 100 juta dollar “hadiah” dari si pecundang CIA akan dinikmati oleh mereka berdua sambil menanti tugas barunya di Amerika Latin.


Tamat.

LORONG


pengap menusuk paru
pijak berlembab
tertahan suara suara halus memilu
kerangka kerangka pasrah tak bernyawa
keji biadab merasuk mimpi
ragaku tergolek di antara lendir lendir busuk
lorong tetap angkuh berdiri
tiada peduli



Salam sejahtera dan sehat selalu.
Raymond Liauw

Saturday, February 21, 2015

TIMANG MANJA (koruptor)


pagi berdesah
kilau berkeranda
kerbau jadi kuli
ulat lapar mencacak jati
biji biji padi dipemakaman
sesak terhimpit duri
lelah bersandar mata
laknat
tikus pengerat tertimang manja



Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

Tuesday, February 10, 2015

HANYA DI RUMAH BAPA


sukmaku melayang meraba senja yang terkaram
entah arah mana ku tuju
entah siapa ku bertemu
memekat gelap
sunyi tertimbun batu
di kaki langit terkubur jasad beku

jauh di seberang sana
alunan merdu lereng lereng bukit
aroma terapi
layaknya cendana berkemah di singgasana
tiada perih
tiada derita
pun tiada air mata
hanya di seberang sana
di rumah Bapa di Surga


Selamat pagi dan sejahtera selalu.
Raymond Liauw

Friday, February 6, 2015

RINDU YANG TEROBATI (Cerita Pendek)


Bagaimana kabarmu hari ini, Jess ? tadi siang mama tidak menjengukmu, maafkan mama yah, sayang”.
Aku hanya tersenyum menatapnya lalu kuucapkan selamat malam “tidak apa apa, ma. Sudah malam, mama tidur di sini yah”.


Mungkin karena aku adalah anak semata wayang maka kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Sewaktu masih kecil, aku sering melihat papa dan mama saling berpelukan dan bermesraan. Kami juga sering berpergian ke luar kota menikmati hari libur. Namun, kemesraan tersebut telah pupus dan tak pernah terlihat lagi sejak tiga tahun yang lalu. Mereka berdua mungkin terlalu sibuk dengan urusannya masing masing.


Mama selalu menemuiku saat aku sedang sendiri, begitupun papa yang sering mengajakku ke luar makan atau jalan jalan tanpa mama. Ketika kutanya, mama bilang sering merindukan papa, begitu juga papa bilang masih sangat mencintai mama. Walau usiaku masih 7 tahun tapi aku bisa melihat kejanggalan ini dan entahlah sepertinya ada banyak masalah orang dewasa yang masih belum kupahami.


Sudah hampir dua bulan tubuhku terbaring di bangsal rumah sakit. Papa mengunjungiku setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan sore hari sepulangnya dari kantor untuk membacakan buku cerita. Kebenaran jarak rumah kami hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit ini.


Tidak seorangpun yang pernah memberitahuku penyakit apa yang kuderita. Mereka hanya bilang aku harus banyak beristirahat. Yang kurasakan kini adalah semua anggota tubuh terutama persendian tulang dan jemariku semakin melemah dan rambut di kepalaku semakin mudah sekali terlepas sehingga kulit kepalaku tampak menggundul.


Hallo........... Selamat pagi Jessica. Ayo tebak siapa yang ada di luar untuk menemuimu ?” sapa suster Emma dengan ramah sambil membuka gorden jendela untuk membiarkan sinar mentari menghangati seisi ruang kamar.
Belum lagi aku menjawabnya sekelompok anak anak seusiaku memasuki ruang kamar kemudian saling berebut untuk menyapa dan memelukku. Mereka adalah teman teman SD sekelasku yang datang bersama Ibu Martha, guru kami. Kedatangan mereka juga bersamaan dengan waktu kunjungan papa.


Apa kabar ibu Martha ?” sapa papa sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Hai........ Pak Marco, kami baik baik dan maaf bila pagi ini mengganggu kunjungan bapak. Anak anak sejak kemarin sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jessica”
Tidak apa apa, bu. Saya dan terutama Jessica sangat senang menerima kunjungan ibu dan teman kelas Jessica” sahut papa.
Oh ya, bagaimana kondisi Jessica ?” sambung ibu Martha.


Papa menengok ke arahku sambil mengajak ibu Martha ke pojok ruangan untuk menjauhi keramaian teman temanku. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tapi kulihat ibu Martha tertunduk lalu mengusap pipinya dengan sapu tangan, sesekali memalingkan wajahnya untuk dapat menatap dan tersenyum kepadaku. Beruntung sekali aku memiliki teman teman baik seperti mereka walau ruang kamarku kembali sunyi setelah mereka pergi.


Hidupku benar benar dipenuhi dengan kejenuhan. Butiran butiran obat yang kutelan tiga kali sehari sepertinya tidak membantuku untuk pulih. Sampai suatu ketika kurasakan tubuhku begitu lemah dan menggigil dingin setelah aku dan papa baru saja menyelesaikan makan malam.


Pa, kemarin malam mama datang dan membacakan buku cerita untukku. Mama cantik sekali seperti seorang Permaisuri mengenakan gaun putih dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai indah seperti kilau mahkota”.
Mama juga cerita kepadaku kalau mawar merah yang papa berikan tadi malam sudah ditaruh di vas bunga”.


Perlahan Papa mendekatiku lalu berkata:

Jessica sayang, kemarin malam papa bersama mamamu pergi ke suatu pesta dimana semua undangan mengenakan gaun putih. Di setiap meja terdapat banyak bunga mawar, dan papa memetiknya satu untuk mama”.
Tapi..........tapi........... itu hanya mimpi, Jess. Itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak nyata” sahut papa perlahan dengan mata berkaca kaca dan bibir gemetar.
Papa tau perasaanmu dan kepedihanmu, tapi kita harus menerima kenyataan kini mama bukan milik kita lagi sejak tiga tahun lalu saat usiamu masih 4 tahun”.
Papa akan selalu sayang kepadamu dan juga tidak akan pernah ada wanita lain untuk menggantikan mamamu” sambungnya.


Papa baik tetapi kenapa mama tega meninggalkan papa ?, aku setiap hari bertemu dengan mama” bisikku ke telinganya.


Papa hanya menatapku sambil menggigit bibir bawahnya tanpa berkata sepatah katapun tetapi malah mendekap tubuhku yang mungil. Kulihat titik titik bening terus mengalir dari sudut keriput matanya yang lembut.


Seketika kurasakan tubuhku semakin menggigil dan entah kenapa hal itu membuat papa merasa panik kemudian lari secepatnya ke luar kamar. Hanya dalam sekejap kamarku sudah dipenuhi oleh para suster dan dokter.

Sementara papa menunggu di luar kamar, para medis tampak sibuk sambil mengguncang guncangkan tubuhku. Tiba tiba saja aku merasakan suatu gelombang kehangatan yang membuat diriku merasa begitu nyaman.


Kulihat papa mendekatiku lalu memeluk tubuhku sambil menangis tersedu dan menciumi wajahku. Air matanya menutupi kelopak mataku dan mengatup bibirku yang sejak tadi tak bersuara.

 
Aku masih di sini, kenapa papa menangis ?” tanyaku dalam hati.

 
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bercerita kepada papa mengenai hari hariku bersama mama.
Sedangkan papa semakin sering pulang dalam keadaan mabuk. Bila malam aku ke dapur menyalakan lampu untuk mengambil minum, papa langsung keluar dari kamarnya dan mematikan lampu tanpa menghiraukan aku yang berdiri tepat di sampingnya.
Setiap kali ku sapa, papa tidak pernah menjawab tapi malah memalingkan wajahnya yang tampak kusam dan tidak ramah. 

 
Aku tidak tau kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga papa begitu membenciku. Setiap hari aku menangis di dalam kamar dan hanya mamalah satu satunya penghiburku.


Di suatu malam, hujan turun deras sekali. Kutoleh sisi ranjangku ternyata mama masih belum pulang. Petir dan kilat saling menyambar memekakkan telinga membuatku sangat ketakutan. Perlahan ku jalan berjingjit menuju kamar papa untuk meminta izin tidur bersamanya.
Tidak seperti biasa, pintu kamar papa malam itu tidak terkunci rapat. Sayup terdengar papa sedang berbicara kepada seseorang.

Penderitaan inikah yang harus kutanggung sampai akhir hayatku ?”
Oh........ aku mencintaimu tapi aku juga mencintai istri dan anakku”

 
Dengan siapakah papa bicara ?, apakah papa memiliki kekasih lagi ?” pikirku


Rasa penasaranku kian menjadi dan ku beranikan diri untuk menyibak pintu kamarnya. Namun, aku tidak melihat siapa siapa di dalam kamar kecuali papa yang sedang bersimpuh di sisi ranjang dengan kedua tangannya mengepal sambil menangis terisak.
Ruang kamarnya begitu berantakan tak terwat dan di atas meja tulisnya berserakan botol kosong minuman keras. Aku benar benar heran dengan prilaku papa yang semakin lama semakin aneh itu.


Tiba tiba papa menoleh ke arahku dengan tatapan tajam lalu berlari ke arahku dan “duaaarrrr..........” pintu kamar ditutup sekencang kencangnya dan layaknya seorang sedang mabuk papa pun berteriak teriak “Pergi kau setan, jangan ganggu aku. Tuhan telah menyediakan tempat bagimu di neraka jahanam” “Jangan ganggu akuuuuu........” “pergi kau setan......pergiiiiii..........neraka jahanam tempatmu...........pergiiiii........”.


Baru kali ini aku mendengar papa marah dan memakiku dengan umpatan begitu kasar. Aku berlari secepatnya kembali ke kamarku dan malam itu kutahan rasa takutku dengan bersembunyi di bawah selimut sambil menanti mama kembali.


Apa yang kualami menjadi rahasiaku dan tidak kuceritakan kepada mama agar mereka tidak bertengkar yang dapat memperburuk hubungan mereka berdua, walaupun sesekali mama bercerita bila dirinya baru bertemu papa untuk makan malam bersama.


Hari hariku tanpa papa penuh dengan kemuraman. Rangkaian kenangan manis bersamanya seketika lenyap tertelan kegelapan. Aku rindu peluk hangatnya, canda tawanya, belaiannya, pangkuannya,........... ohhhhh........... aku benar benar merindukan papa yang pernah kukenal begitu lembut penuh kasih sayang sejak aku masih bayi.

 
Tahun demi tahun telah berlalu tanpa tegur sapa dengan papa yang sudah tampak semakin tua. Namun, suatu hal yang pasti dan masih tidak kumengerti, hampir setiap malam ketika kulewati kamar tidurnya, papa sedang berbicara dengan seseorang sambil menyebut nyebut nama mama dan namaku. Papa masih mencintaiku.


Malam itu sekitar jam 08:30, dengan bantuan sebuah tongkat di tangan kanannya untuk menyanggah tubuh yang kian renta dan semakin membungkuk, papa tertatih berjalan masuk ke kamarnya.
Tangan kirinya menggenggam dua tangkai bunga mawar. Satu mawar berwarna merah ceria dan satunya lagi berwarna segar merah muda. Kemudian dia menuliskan sesuatu di atas secarik kertas putih.


Nyaliku hanya berani melalui celah pintu untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.


Setelah mencium kedua mawar tersebut diletakannya bersama carikan kertas putih di sisi bantal kepalanya, kemudian dia berbaring dan berkata “Tuhan, izinkanlah malam ini aku bertemu dengan istri dan anakku”. Kemudian papa menumpangkan kedua telapak tangannya di atas dada lalu memejamkan matanya.


Entah berapa lama aku memperhatikan tingkah lakunya yang semakin aneh.
Kenapa papa merasa aku dan mama meninggalkannya ?? padahal setiap hari kami berdua selalu berada di rumah ini dan setiap haripun kami tidak dihiraukannya.
Jantungku berdebar, jemariku mengepal dan ingin sekali aku berteriak di hadapannya tapi hanya geram yang kutahan dalam linangan air mata.


Mama keluar dari kamar menghampiriku. Sambil membelai rambutku lalu dengan lembut berkata “Jessica sayang, bersabarlah. Suatu saat kamu akan tau”.


Setelah kuyakini papa terlelap, aku dan mama memasuki kamar papa untuk melihat apa yang ditulisnya pada carikan kertas putih yang diselipkan pada kedua tangkai bunga mawar itu.


Pucat wajahku terperangah kaku tak mampu membendung linangan air mata menjadi tetesan hujan yang membanjiri lantai pijakku. Demikian pula mama yang semakin keras meremaskan jemari tangannya di kedua belah pundakku lalu menempelkan wajahnya yang ayu ke pipiku.


Selamat ulang tahun yang tercinta istriku Rebecca dan putriku Jessica di Surga”.


Detak jantung papa begitu lemah dan semakin melemah sampai tidak terdengar sama sekali. Saat melihat kami berdua, papa tersenyum dan melambaikan tangannya. Wajahnya terlihat kembali segar dan muda seperti saat kukenal dulu.


Aku dan mama saling berpandangan tersenyum lalu membalas lambaian tangan papa yang semakin jelas kian mendekat.......mendekat..........dan mendekat.


Tamat.